BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 51. Stubborn Girl


__ADS_3

Dalam tiga hari kemudian baru mereka bisa melanjutkan perjalanan ke kamp mereka  sendiri. Dijalan  mereka bertemu batalyon yang prajurit yang dikirimkan oleh komando wilayah tengah. Kali ini mereka akan membersihkan Springdale, setelah semua penduduk sehatnya mengungsi sekarang mereka ingin  membuat kota itu layak huni lagi.


Tapi untuk sementara mereka harus mengantarkan 4 kontainer ini ke Henryetta. Baru menerima penugasan selanjutnya. Andrew melihat kamp sekarang benar-benar sudah sepi, kecuali prajurit yang memang menjaga camp, atau pengungsi yang baru datang. Suasana lenggang yang melegakan sebenarnya bagi mereka.


De Angelo  menghilang entah kemana, setelah dia melapor ke komandan Camp. Perintahnya sementara mereka bertugas melatih pengungsi yang baru datang untuk mempertahankan diri. Belum ada penugasan khusus. Andrew menuju dapur umum untuk mengambil makan siang ketika dia melihat Jen.Tampaknya sedang mengambil jatah makan siang untuk pasien yang dia rawat.


“Mau kubantu?”


“Andrew...Hei. Senang melihatmu kembali. Iya aku memasukkan semua makanan ini ke wadah, masih ada dua puluh  orang lagi di bangsal perawatan.” Senyum Jen mengembang. Tiba-tiba saja senyum gadis itu adalah sesuatu yang berharga untuk  Andrew sekarang. Dia akan berusaha memperhatikan dan melindunginya, itu yang dia tiba-tiba katakan dalam harinya sekarang.


“Ayo biarkan aku membawa traynya, kau membawa wadah makanannya jadi  kau tak perlu bolak balik.” Tak banyak bicara Andrew mengambil tumpukan tray tempat makanan dan membawanya.


“Ayo.” Mereka sekarang berjalan bersisian.


“Thanks.” Andrew hanya membalasnya dengan senyuman. Pacarnya kemungkinan  memang sudah meninggal, itu tidak bisa dibantah, hanya dia belum bisa menerimanya. Pasti sangat sulit baginya menerima kenyataan bahwa hampir tiga bulan ini kekasihnya menghilang tanpa kabar begitu saja.

__ADS_1


“Kudengar kalian terjebak di Springdale.”


“Iya, ada jalan yang tidak bisa kami lalui, kami harus mengeser mobil satu persatu sementara infected mengepung kami. Yang penting kita dapatkan tambahan persediaan makanan. Walaupun kita punya korban, tapi ini masa perang, korban pasti ada walaupun kita sudah berusaha sebisanya.”


“Kau tahu, kemarin kami punya satu orang yang tampaknya merupakan orang yang kebal dari Springdale, ...”Jennifer bercerita apa yang terjadi, sementara Andrew ikut membantunya mengantar makanan ke bangsal pasien. Tak masalah sedikit menahan lapar agar bisa menghabiskan waktu bercerita dengan gadis  itu.  Gadis itu mendengarkan ceritanya sambil mengerenyit ngeri, sementara yang ingin dilakukannya sekarang adalah mengatakan pada gadis itu dia aman bersamanya, memeluknya agar dia nyaman.


“Bukankah kau mau makan kenapa kau malah membantuku disini.” Andrew tersenyum mendengar keheranan Jennifer.


“Aku hanya ingin membantu sampai tuntas. Kau sudah makan ngomong-ngomong?”


“Sudah,sana pergilah.” Jen mengusirnya sekarang, laparnya sudah hilang dia merasa tak apa berada disamping gadis itu padahal.


Malam menjelang kemudian. Seperti biasa dia tahu gadis itu  kadang duduk menyendiri di sebuah kursi istirahat di tenda istirahat mereka. Dia datang dan duduk disana.


“Lebih sepi dari biasanya bukan.”

__ADS_1


“Iya, ... sudah banyak yang pergi. Jadi lebih sepi rasanya...” Andrew duduk diam disampingnya, dia merasa entah bagaimana dia harus bertanya soal kekasihnya. “Kau sudah mendapat kabar soal kekasihmu.” Gadis itu  menghela napas.


“Belum...”


“Kau tidak berpikir,... maksudku ini sudah tiga bulan, mungkin saja... “ Andrew tidak meneruskan.


“Dia  masih diluar sana  aku yakin. Entah dimana, dia akan pulang.” Jennifer langsung memotongnya  dengan begitu yakin. Gadis  itu memang keras kepala, tak salah lagi,dan nampaknya Andrew harus lebih bersabar lagi, ada saatnya dia akan sadar semua harapannya hanya sia-sia.


Akan ada saatnya dia tak bisa mengelak lagi dan menyadari siapa yang sudah menemaninya selama  ini. Dia hanya harus  sama keras  kepalanya dengan gadis itu. Hanya itu caranya.


“Sorry, anggap saja aku tak pernah mengatakannya...”  Sekarang dia mencoba minta maaf.


Jennifer tak mengatakan apapaun. Entah kenapa dia yakin Fred masih diluar sana, dia pasti baik-baik saja. Jen masih akan menunggunya, seperti Fred yang tetap tak pernah melepasnya sekalipun mereka berpisah.  Malam mangkin larut, langit cerah  malam itu, mungkin besok ilmuan akan menemukan obatnya dan tak lama kemudian semua mimpi buruk ini akan berakhir.


Hanya itu yang dia harapkan sekarang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2