
Kali ini terakhir kali aku bisa menyentuhnya. Mencium wanginya yang selalu kusukai, menyisipkan jariku di rambut gelapnya. Merasakan dia menguasaiku dengan tubu*hnya dan tubu*hku menanggapinya dengan sempurna. Terakhir kali, membuatku memeluknya lebih erat dan memohon lagi.
"Moon, bagaimana mungkin kau bisa putus denganku. Kau memerlukanku untuk menenangkanmu..."
"Alex, jangan berhenti." Aku memeluknya hampir menghun*jamkan jariku ke pung(gungnya.
"Jangan minum pilmu, biarkan aku membuat Tuan Mafia kecil untukmu."
"Fu*ck you..." Aku mengumpat dengan usul yang diberikannya padaku.
"I'm ...(fu*ck you now)" Aku mau tak mau tertawa. Dia merapikan rambutku yang berantakan, melihat mataku yang menatapnya sementara tubuh kami masih melilit satu sama lain.
"Moon, kau tak percaya aku bisa melindungi anak kita?"
"Bukan aku tak percaya. Aku lebih suka ide anak kita memiliki Paman di Paris. Bukan ide dia punya Paman yang memusuhi keluarganya di Paris." Dia menghela napas panjang. Menciumku dengan putus asa, aku juga putus asa, apa kebencian ini begitu sulit didamaikan.
"Kau memang malaikat bulan Moon." Kata-kata itu tak ada artinya jika aku tak bisa merubah pendiriannya. Aku hanya tersenyum kecil.
Malam semankin larut. Aku tak ingin tertidur, yang kuinginkan hanya melihat wajahnya lagi dan memeluknya.
__ADS_1
"Aku akan kembali Sabtu sore. Kau akan pergi kapan ke DC, sampaikan salamku pada Eliza, aku belum meneleponnya untuk mengucapkan selamat?"
"Jumat siang."
"Kapan kau kembali."
"Mungkin dua minggu mendatang. Aku tak tahu, aku akan kembali bersama Mom..."
"Jangan lama-lama aku akan merindukanmu."
"Aku juga akan merindukanmu." Aku akan merindukanmu tapi aku tahu setelah ini aku tak akan melihatmu lagi.
Dia menatapku dengan lembut. Sayangnya aku tak akan bisa melihat tatapan pemujuaan itu lagi. Hatiku teriris sekarang, patah hati aku tak bisa menemukan tatapan itu lagi.
"Tak apa kau tidurlah dulu." Dia sudah lelah, matanya terpejam saat bicara sambil memelukku. Tak lama dia tertidur dengan napas tenang. Aku ingin menyentuh wajahnya tapi takut membangunkannya. Yang kulakukan sekarang hanya menangis dalam diam. Bulir demi bulir air mata membuat mataku kabur, tahu aku terpaksa harus meninggalkannya dan tak akan pernah melihatnya lagi.
Setelah ini aku tak akan melihatnya lagi, aku akan memblokir nomornya setelah aku siap mengucapkan selamat tinggal. Dan tak akan menemuinya lagi. Dia hanya bisa menemuiku setelah bicara pada Albert. Albert akan membelaku dan bicara dengannya.
\=\=\=\=
__ADS_1
"Aku akan meneleponmu nanti oke." Dia menitip pesan padaku saat dia akan pergi.
"Iya, hati-hati."
"Kau punya mata panda." Aku meringis.
"Ini hanya kelelahan."
"Kelelahan karena kupeluk. Kau sangat nakal semalam." Aku tertawa dengan perkataannya. Aku menangis dengan puas semalam, kurasa hari ini aku tak punya air mata lagi.
"Jaga dirimu. Hati-hati." Aku memeluknya begitu erat sekarang.
"Berliburlah ke DC, nanti aku akan menelepon oke."
"Jaga dirimu." Aku menangis lagi.
"Kenapa kau? Aku hanya pergi ke NY, demi Tuhan, kau mau ikut ke NY? Ayo pergi?"
"Tidak. Aku baik-baik saja, pergilah." Dia menatapku dengan khawatir.
__ADS_1
"Kau yakin baik-baik saja. Kita sudah bicarakan ini, kita akan mencari jalan oke. Nanti akan ada jalan keluarnya. Kau dan aku tak akan berpisah. Kenapa kau berlaku seperti kau tak akan bertemu denganku lagi."
"Tidak apa, aku hanya terlalu mencintaimu Tuan Mafia." Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum, kenapa ini menyedihkan sekali. Melihatnya yang terakhir kali, aku tak bisa menanggung ini.