
"Dia sudah punya pacar, kau tak usah mengajaknya." Mashkov menyambar ucapanku, dasar tukang ikut campur saja.
"Kau punya pacar? Ini berita besar?" Seseorang datang menyambar. Andrew anak Paman David.
"Kau punya masalah dengan itu?"
"Tentu saja aku punya masalah. Aku penggemar beratmu." Aku meringis lucu ke Andrew.
"Ya-ya, kau juga penggemar berat Kate, Joanna, Lisa, ...ehm... Donna, siapa lagi yang belum kusebut..." Semua orang tertawa. Sekarang dia mengaruk kepalanya yang tak gatal, cengegesan di depanku.
"Mereka semua cuma teman,..."
"Teman tidur maksudmu bukan?" Aku memotong duluan, dan mereka semua tertawa lagi.
"Kau ketahuan belangnya Brother." Kendricks menimpaliku.
"Kendricks senang melihatmu di sini, maaf tadi aku harus menyelesaikan beberapa hal."
"Bro, tak apa, aku punya Nona Eliza dan Alexsey yang menemaniku...." Kami mengobrol berempat sesama kaum muda.
"Kau serius punya pacar?" Andrew mengekoriku dan bertanya setelah acara selesai. Kenapa dia penasaran sekali sekarang.
"Kenapa kau bertanya lagi."
"Aku belum pernah melihatmu serius dengan seseorang belakangan, apa itu benar. Siapa? Apa aku mengenalnya?"
"Mungkin."
"Siapa?"
"Bukan urusanmu." Dia diam. Nanti dia pasti menanyakannya ke Kakak atau Monica lagi kalau dia penasaran.
"Ini maksudmu pacaran senang-senang saja bukan?"
"Pacaran senang-senang itu istilah yang ada dalam duniamu sendiri Andrew. Aku tak memakai istilah itu." Dia meringis sambil tetap berjalan mengikutiku keluar ruangan karena acara sudah selesai.
Aku juga mengenal Andrew sejak lama. Anak-anak keluarga yang berteman dan mengenal sejak kecil, tapi belakangan karena aku lebih incharge dalam urusan politik setelah kesehatan Ayah menurun, maka aku yang lebih sering berurusan dengan Andrew daripada Kakakku. Kami dekat sebagai teman kerja di partai. Unurnya hanya setahun lebih muda dari Kakak.
__ADS_1
"Jadi itu serius."
"Tentu saja itu serius."
"Siapa?" Masih dengan rasa penasarannya.
"Kenapa kau ingin sekali tahu?"
"Aku ingin tahu apa dia baik. Itu saja, mungkin aku tahu yang tidak kau tahu."
"Dia baik tentu saja."
"Pasti aku mengenalnya bukan. Albert tak pernah bicara kau punya pacar. Siapa pacarmu?"
"Dia belum tahu."
"Jadi kalian belum lama?"
"Ya bisa dibilang begitu." Dia melihatku dengan pandangan menyelidik.
"Katakan padaku apa dia ada di ruangan ini."
"Albert dan Monica mengenalnya?"
"Iya Albert dan Monica mengenalnya tentu saja."
"Hmm."
"Sudahlah, kau penasaran sekali. Tak ada gunanya juga kau penasaran." Dia tidak menjawabku sekarang. Hanya melihatku dengan pandangan yang tidak kutahu artinya.
"Kau pernah bilang kau tak tertarik untuk punya kekasih. Tiba-tiba kau punya kekasih, tentu saja aku penasaran."
"Anggap saja kau tak pernah menduga kapan datangnya cinta."
"Cinta? Apa itu cinta?" Dia mendengus, aku melihatnya dengan heran.
"Jika kau punya trauma dengan wanita kau jangan menyalahkanku." Dia tidak berkata apapun sekarang. Aku tambah heran. "Hei kau kenapa sebenarnya Andrew."
__ADS_1
"Boleh aku bicara denganmu sebentar di mobil?" Dia malah menarik tanganku. Aku yang binggung terpaksa mengikutinya, perilakunya aneh sekali hari ini.
"Kau kenapa sebenarnya? Kau ingin curhat soal wanita yang mematahkan hatimu? Kau sendiri yang bilang wanita itu mudah." Aku memberondongnya dengan pertanyaan binggung.
"Siapa pacarmu?" Rupanya dia benar-benar ingi tahu siapa pacarku. Baiklah akan kuberitahu dia.
"Orang US, Gillian Gilbert."
"Gillian Gilbert, ... bukankah dia yang membantumu menemukan adikmu. Atase perdagangan, sekaligus juga Jenderal."
"Iya kau benar."
"Dia ternyata..."
"Lalu."
"Dia di Washington DC bukan?"
"Iya."
"Itu hanya untuk senang-senang bukan. Jenderal tampan itu. Semua perkerjaan dan kariermu di sini." Dia tersenyum sekarang.
"Aku tidak bilang itu untuk senang-senang, kami serius. Kenapa kau sangat perduli. Kau tahu sesuatu tentangnya?"
"Jika kau ingin serius, serius saja denganku." Aku mengerjab dengan binggung.
"Maksudmu apa?"
"Jadilah istriku." Aku hampir menyembur tertawa sekarang.
"Kau bercanda kan?" Tapi dia tidak tersenyum sama sekali.
"Aku serius." Aku melihatnya dengan pikiran binggung, seolah melihat bunga rose berwarna biru. "Kita cocok, sudah lama saling mengenal, keluarga kita mengenal satu sama lain, cinta...jika kita bersama pasti ada cinta. Itu bjsa diusahakan." Aku harus memproses informasi membingungkan di depanku. Kenapa Andrew bisa berkata hal yang membinggungkan ini padaku.
"Kau sadar apa yang kau katakan barusan."
"Aku selalu menganggapmu istimewa, walaupun aku juga sadar kau tak pernah mempertimbangkanku untuk hal-hal romantis. Tapi sekarang langsung kukatakan saja, aku serius, sangat serius soal ini."
__ADS_1
"Andrew, ... Aku benar-benar tidak, ..." tidak menyangka bahwa hal seperti itu akan dikatakan Andrew.
"Cinta hanya sebuah kondisi sesaat, selanjutnya kita bisa mengusahakan semuanya berjala n dengan baik. Kau dan aku sudah mengenal dengan baik selama ini. Pasti tak ada masalah terlalu besar, soal wanita yang kau lihat selama ini, mereka hanya teman... sesaat. Apapun kau menamainya."