BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 26. Trauma 2


__ADS_3

Mereka membuka gerbang dan aku harus langsung keluar supaya kontrol otomatisnya bisa menutup lagi dengan segera. Dari spion mobil aku melihat mereka berpelukan berdua melepasku. Saat tersulit yang pernah kualami saat hidupku, meninggalkan mereka tanpa harapan.


Aku berusaha berjam-jam mencari jalan keluar dari tengah kota di tengah kekacauan di depanku. Infected berkeliaran mencari mangsa dan jalan penuh dengan mobil yang terhenti. Infeksi massive ini tidak terbayangkan berkembang tiba-tiba dan yang bisa mereka lakukan adalah langsung mengisolasi seluruh Ottawa agar infeksi tidak menyebar.


Di jalan mobil bertumpuk bertabrakan panik, beberapa orang berlarian menyelamatkan diri. Aku memegang setir dengan tangan gemetar. Seperti mimpi buruk tiada akhir. Karena aku membawa kendaraan SUV yang diperkuat chasisnya, aku bisa menabrak beberapa penghalang untuk lolos. Tapi beberapa orang digigit di depanku. Pemandangan itu adalah mimpi buruk paling nyata yang tak pernah ingin kualami lagi.

__ADS_1


Lima jam kemudian, perjalanan yang harusnya di tempuh hanya dua jam itu bahkan belum mencapai seperempatnya karena aku harus memutar, mencari jalan yang tidak terblokir, sampai di sebuah persimpangan di mana mobil sudah bertumpuk dan aku tak bisa menemukan jalan keluar lagi. Sementara di belakangku infected yang sebagian wajahnya penuh dengan darah sudah memblokir jalan karena tertarik pada keributan yang kutimbulkan. Di depanku di kejauhan ada seseorang yang berlari dengan panik menjauh dari kuncian area infected.


Aku harus keluar dan mencari mobil lain untuk keluar dari zona ini seperti dia. Sebelum mereka mengurungku dalam mobil ini dan aku tak bisa bergerak kemana-mana. Dengan segera kulangkahkan kakiku ke luar pintu dengan ransel di punggung. Aku mengikuti arah jalan untuk menemukan mobil yang tidak terjebak. Aku pikir aku bisa menemukannya.


Aku salah perhitungan, mengikuti jalan utama adalah hal bodoh, harusnya aku mengambil jalan memutar yang aman dan menghindari sebisa mungkin infected dengan diam-diam.

__ADS_1


Dan aku terpojok karena kehabisan stamina, satu infected berhasil menjangkauku , yang kutepis dengan sekuat tenaga tapi kemudian infected kedua dari arah lain berhasil menggigit tanganku sampai berdarah.


"Shi*t!" Aku menarik nya sekuat tenaga. Dingin merayap di punggungku ketika aku sadar aku sudah tergigit. Dengan putus asa berlari ke sebuah rumah untungnya saat itu pintunya terbuka dan aku bisa menguncinya dari dalam.


Tanganku tergigit, itu vonis mati. Aku melihat darah yang merembes dari luka, dengan panik berusaha mencari air dan mencucinya di rumah itu. Mental breakdown, karena aku tahu itu percuma, bahkan jika aku mampu mengamputasinya itu tidak menyelasaikan masalah.

__ADS_1


Berjam-jam kemudian dalam kegelapan aku hanya bisa menangis, merasa tak berguna karena mengecewakan Ayah dan Ibu. Berjam-jam menangis menyesali diri tidak menyelesaikan masalah, paginya aku merasa ini sudah suratan takdir, lebih baik jika aku mati, aku mati di rumahku sendiri, mungkin aku masih bisa bertemu Ayah dan Ibu, jadi dengan kekuatan yang tersisa aku kembali ke rumah. Hanya untuk menemukan Ayah dan Ibu sudah dalam posisi pingsan, kesadaran mereka sudah hilang dan jika mereka bangun nanti, mereka bukan diri mereka lagi.


__ADS_2