BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 66. Room 612 - 3


__ADS_3

Aku tak bisa bicara lagi dengan Andrew, kadang aku merasa ini tak adil juga, aku harus mengalah karena banyak yang akan terpengaruh.


Mendatangi kantornya juga bukan hal yang baik, bagaimana jika orang menduga dia pacaran saat jam kerja. Semuanya memang terasa serba salah.


Apa benar aku harus mendatanginya di kamarnya. Dia bilang tak akan ada yang terjadi jika aku tak menginginkannya bukan.


Baiklah mungkin itu tak apa bukan?


Apa aku benar-benar ingin bicara dengannya, mungkin tak apa jika sekadar bicara?


Kenapa aku malah memikirkannya sekarang, pengakuannya itu membuatku seperti ini sekarang.


Aku jadi memìkirkannya... Tapi bukankah ini baik untuk melupakan Fred.


Atau ini cara yang salah untuk memulai hubungan.


Mungkin tak apa jika hanya bicara.

__ADS_1


Dengan pikiran itu aku sampai ke depan kamarnya. Mungkin tak salah jika hanya bicara. Aku meyakinkan diriku sendiri. Dia bahkan kemarin menberiku kartu aksesnya. Tak akan terjadi apa-apa.


Kuketuk pintunya, tapi detik berikutnya aku menjadi tak yakin. Aku bebalik dan kutinggalkan pintunya.


"Kau sudah kesini, kenapa tak masuk." Terlambat dia sudah keluar dan menyadarinya. Langkahku terhenti.


"Ayo, masuklah.Aku sudah berjanji padamu bukan." Ternyata dia tahu apa yang ku khawatirkan. Aku berbalik lagi dan masuk ke kamarnya.


Kamarnya itu suite. Jadi nyaman dan cukup luas. Ada sofa untuk mengobrol dengan santai. Ini cukup nyaman.


"Aku senang kau disini." Rambutnya masih terlihat basah dan wangi sabun cukup tercium. Disini masih banyak terdapat sabun mandi yang bisa di akses, dan beberapa orang karyawan juga tahu cara memproduksi sabun. Jadi bisa dikatakan kehidupan di sini cukup beradap. Di tempat sana kami sangat berhemat dengan sabun yang terbatas keberadaannya.


"Iya aku tahu, tak apa, kita bisa mengobrol tentu saja, kau tak usah sungkan sudah kubilang." Dia duduk di sofa yang berbeda denganku, memberiku jarak ahar aku nyaman. "Bagaimana pekerjaan? Ada yang sulit?"


"Biasa saja kurasa. Tak ada yang terlalu sulit di sini. Para prajurit punya fisik yang sudah terbiasa, demikian juga para pengunsi."


"Hmm baguslah jika begitu." Dia diam sebentar. "Apa ada yang mengancammu kemarin? Nampaknya ada beberapa orang yang mencari masalah denganmu."

__ADS_1


"Ohh itu tak apa. Hanya mengancam tak akan kmjadi masakah besar, biarkan saja... Tak perlu kau yamg menghadapinya, jika kita tak terlihat bersama mereka juga tak akan berani bergerak tanpa alasan, jadi biarkan saja." Dia diam.


"Baiklah, terserah padamu. Ohh ya aku ada sesuatu untukmu..." Dia membuka sebuah laci. Ternyata ada.coklat di tangannya. Itu barang langka


"Ini untukmu." Bar coklat yang cukup besar itu di sodorkannya padaku.


"Untukku?" Aku tak bisa menahan senyum gembiraku.


"Iya komandan kompi punya banyak dia memberikan beberapa padaku. Upeti dari bawahannya yang sering menyisir area. Tampaknya mereka menemukan truk coklat." Dia tertawa.


"Ini benda langka sekarang. Rasanya seperti mendapat harta karun. Terima kasih."


"Tak usah mengucapkan terima kasih. Jika kau perlu sesuatu mintalah, mungkin aku bisa mendapatkannya untukmu." Dia memang baik padaku seperti kata Susan.


"Tidak. Ini saja cukup."


"Bagaimana pekerjaanmu."

__ADS_1


"Hmm pengungsi semangkin banyak yang kembali. Kota ini akan segera tambah ramai, membiasakan orang baru dengan aturan akan punya tantangannya sendiri. Apalagi mereka sudah terbiasa dengan hikum rimba di luar."


bersambung besok ....


__ADS_2