BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 135. Chaos 3


__ADS_3

"Dia akan bangun seperti biasa setelah pengaruh obat biusnya hilang. Boss akan dipin*dah*kan segera ke kamar biasa." Joshua memberi tahuku. Aku akan menungguinya, tak ada pengungsi hari ini, Martha bisa mengantikanku untuk sementara. Dia begini karena menyelamatkanku.


"Kenapa hari ini, padahal ini ulang tahunmu. Tak bisakah kita merayakannya..." Aku bicara sendiri padanya.


Sudah lebih dari dua puluh menit di ruangan rawat biasa dia belum bangun.


"Kenapa dia belum bangun?" Aku bertanya pada Joshua yang datang melihatnya setengah jam kemudian.


"Mungkin sebentar lagi, tiap orang bervariasi. Biarkan dia istirahat, kau mau kita memakai intervensi?"


"Tidak, ya sudah biarkan saja."


Tak lama setelah Joshua pergi dia membuka matanya.


"Tootsie, kau disini."


"Bagaimana perasaanmu?"


"Hmm mengantuk kurasa... Aku tak apa bukan."


"Tidak, kata Joshua kau mungkin tidak bisa mengoperasi beberapa saat. Itu saja. Pelurunya sudah diangkat. Kau mau minum?"

__ADS_1


"Iya boleh." Kuambilkan dia minum dan menaikkan bednya dalam posisi duduk.


"Aku tak usah ditunggui kurasa. Ini hanya luka kecil." Dia masih berusaha mengatakan bahwa dia tak apa.


"Selamat ulang tahun James." Dia tersenyum padaku. Sesaat tadi bahkan aku takut tak bisa mengucapkan selamat ulang tahun lagi padanya


"Kau ingat ulang tahunku."


"Tentu saja, aku bahkan selalu memberikanmu kado ulang tahun dulu. Mana mungkim aku lupa."


"Hadiah pertamamu adalah mobil-mobilan polisi yang ditertawakan oleh kakakmu selama berminggu-minggu." Dia masih mengingat hadiah konyol yang kuberikan padanya saat berumur delapan tahun itu, disaat seperti ini dia menyebutkannya.


"Buat apa?!" Dia heran kenapa aku mengucapkan terima kasih. Lalu kemudian sadar kenapa aku berterima kasih. "Ohh itu, aku sendiri tak menyangka pistol itu meletus, tapi melihat moncongnya mengarah ke arahmu sangat mengkhawatirkan. Tak apa, aku baik-baik saja bukan. Bukan salahmu. Yang penting kau tak apa, jika kau kenapa-kenapa lagi, kakakmu pasti akan datang ke mimpiku dan memarahiku." Dia masih bisa tersenyum lebar, membuat perasaaanku bercampur antara sedih dan terharu mendengar semua itu.


Aku memeluknya dengan erat sekarang. Dan menangis di dadanya.


"Aku tak apa, kenapa kau menangis. Tak ada yang perlu di tangisi."


"Kenapa kau begini baik padaku." Dia tak menjawabku. Tapi membalas memelukku. Tak menolak pelukanku.


"Aku memang baik." Dia tertawa kecil. Entah apa arti perkataannya, tapi semua yang dilakukannya sampai saat ini melebihi apa yang dikatakannya. "Jangan menangis lagi."

__ADS_1


Aku melepasnya, melihatnya dengan mata masih berkabut.


"Padahal aku mau merayakan ulang tahunmu. Kepala koki sudah membuatkan kue cupcakes..Tapi kenapa kau malah tertembak oleh orang gila itu." Berusaha menghapus air mata yang masih mengalir di pipiku.


"Ohh aku masih bisa meniup lilin, tenang saja. Kita rayakan bahwa aku hanya terserempet peluru saja." Dia malah menjadikan hal ini bahan komedi.


"Kau pikir tertembak itu komedi."


"Tidak, aku hanya bersyukur masih bisa meniup lilin." Aku mau tak mau tertawa dibuatnya. Dan dia tersenyum melihatku tertawa.


"Baiklah, aku akan tetap membawa kuenya nanti, itu sudah dibuat, kita rayakan kau masih bisa meniup lilin hari ini."


"Lilinnya satu saja oke. Kau tak berniat mengerjaiku saat aku sakit bukan?"


"Kusiapkan 100 nanti." Dia tertawa lagi, seakan kondisi ini hanya salah satu hal yang biasa baginya.


"Aku boleh tidur siang saja, sekalian obat ini masih membuatku mengantuk, jarang aku bisa tidur siang. Ini berkah di balik musibah. Kau tak usah menungguiku."


"Tidurlah kalau begitu."


Aku meminggalkannya di ruangan setelah melihat napasnya tenang. Mulai hari ini aku akan ada di sampingnya. Dia tak pernah meninggalkanku, aku juga tak akan kemana-mana walau dia tak mengatakan apapun.

__ADS_1


__ADS_2