BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 88. Moskow 3


__ADS_3

"Kau terlihat gugup?" Hari ini kami akan ke rumah Bibi. Svetluny-ku terlihat sedikit nervous.


Aku menganggapnya seperti Ibu yang tak pernah kudapatkan dan dia menganggapku sebagai putranya, pun semua anaknya dekat denganku.


"Aku takut salah bicara. Bertemu dengan orang yang lebih tua tetap saja awalnya akan menengangkan. Aku tak tahu apa budayamu, mungkin ada kata-kata salah. Bagaimanapun ini cukup mendebarkan."


"Bibi adalah orang yang ramah, dia sehangat matahari dan selembut salju. Kau tak usah terlalu khawatir." Dia tertawa, sedikit kekhawatirannya nampaknya menghilang. 


"Baiklah, ayo pergi. Kita tak bisa membiarkan mereka menunggu." 


Kami tiba di rumah Bibi yang ada di daerah Myshetskoye. Bibi sendiri yang menyambut kami di pintu rumahnya. 


"Tamu dari jauh. Selamat datang, Monica kau sangat cantik seperti fotomu." Bibi menyapa Monica terlebih dahulu dengan ramah.


"Bibi senang bisa bertemu denganmu." Svetluny menyambut pelukan hangat Bibi, dengan senyumnya. 


"Alex, ini cinta pertamamu bukan, Bibi tak menyalahkanmu punya standard begitu tinggi." Aku tertawa, jelas aku tak menukar Svetlunyku dengan yang lain. Tapi nyatanya bukan kecantikannya, kebanyakan aku terperangkap untuk apa yang sudah dilakukannya untukku. 


"Bibi sangat memuji, Bibi juga terlihat sangat cantik." Svetluny membalas pujiannya. 


"Aku sudah tua sayang, tapi Bibi tua ini selalu senang Alex bisa kembali setiap Maslenitsa. Ayo masuklah, Bibi sudah menyiapkan banyak makanan semoga kau suka." 


Aku mengenalkannya kepada Paman, dan sepupu-sepupuku. Mereka bersikap ramah kepadanya dan dengan pengertian mengubah banyak pembicaraan ke bahasa inggris untuk membuat Svetluny nyaman. 


"Kenapa kalian makan banyak sekali, seminggu perayaan bukankah itu luar biasa."


"Itu mudah karena empat puluh hari berikutnya kami memasuki masa puasa, kami tidak makan butter, cheese atau produk susu lainnya. Jadi Minggu ini adalah hari terakhir kami makan enak sebelum puasa paskah 40 hari."


"Ohh begitu."


"Hari pertama puasa dinamakan secara harfiah Senin Putih. Orang berpuasa dan selama 40 hari kedepan semua produk susu dilarang, ikan, minyak zaitun, anggur, butter, bahkan kau dilarang mandi, mencuci piring, tentu saja tidak ada pancake lagi."


"Ahhh jadi ini bersenang-senang sebelum berpuasa."


"Benar sekali, mirip perayaan terakhir sebelum kau harus berpuasa, tidak semua menjalankannya bagian puasanya tentu saja itu aturan gereja orthodox Russian."

__ADS_1


"Ahh aku mengerti."


"Ini kali pertama kau datang ke Moskow bukan. Apa kau menyukainya. " Bibi bertanya kepada Svetluny. 


"Iya benar, saya menyukainya tentu saja. Maslenitsa disini sangat meriah." 


"Bibi senang kau menyukainya. Jika nanti Alex dan kau pindah ke sini beberapa tahun lagi, kau akan perlahan menyukai Moskow dan terbiasa. Tapi kau seorang model international, berpindah negara harusnya perkara biasa untukmu..." sementara Svetluny tertegun dengan kata-kata Bibi. Aku langsung bicara padanya dengan bahasa Rusia. 


"Bibi kita jangan bahas kepindahanku dulu." 


"Oh, kenapa?" Bibi dengan heran membalasku. 


"Kami belum sepakat." Aku membalasnya dengan singkat.


Bibi menatapku tapi akhirnya dia mengerti. 


"Ohh baiklah. Maaf Monic, Bibi tak tahu soal itu. Itu tergantung kesepakatan kalian berdua. Anggap saja Bibi tak pernah bertanya." Dengan cepat Bibi mengalihkan pembicaraan kè hal yang lain. Aku berharap dia tak akan membahas ini di hotel.


Saat Svetluny sedang berbicara dengan sepupuku, Bibi menarikku ke arah lain.


"Dia tak mau pindah, dia bersikeras sebenarnya. Aku perlu waktu untuk pelan-pelan membujuknya, tak akan bisa cepat, mungkin aku harus memaksanya dengan situasi tertentu. Ini agak sulit buatku Bibi, tapi aku juga tak akan melepasnya. Untungnya kepindahanku masih jauh, Ayah masih bisa mengendalikan semuanya, aku masih punya waktu untuk membujuknya."


"Astaga benarkah, Bibi tak tahu akan jadi sepelik itu. Kau bahkan belum bisa membujuknya?"


"Iya untuk sementara kami belum mencapai kesepakatan."


"Hmm, baiklah. Semoga kau bisa membujuknya. Lagipula kalian tak akan pindah dalam waktu dekat bukan. Mungkin dia tak nyaman karena kendala bahasa yang tak dia kenal. Tapi memang Kanada dan Moskow sangat berbeda, Bibi tak menyalahkan dia tak ingin kalian pindah ke sini."


"Iya, mungkin salah satunya, aku akan berusaha membujuknya. Tapi tentu saja perlu waktu, aku tak menyalahkannya perlu waktu untuk setuju."


"Bibi berharap semuanya lancar. Ayo kita kembali bergabung saja dengan mereka."


Makan malam itu berjalan penuh canda tawa. Kurasa kami semua berusaha membuat Svetluny nyaman. Tapi sepanjang perjalanan pulang dia agak diam. Kurasa karena Bibi mengatakan kami akan pindah ke Moskow.


"Bibi belum tahu pembicaraan kita soal Moskow. Kau tak usah terlalu memikirkannya." Aku mencoba bicara dengannya.

__ADS_1


"Iya tak apa." Dia tersenyum padaku. "Bibimu memang orang yang ramah. Dia memang sehangat matahari.


"Besok kita ke rumahmu?"


"Iya, besok ada keluarga Paman juga datang makan malam kerumah Ayah. Karena Ayah paling tua. Bibi juga ikut, ada dua adik tiriku juga. Hari kedua adalah hari keluarga besar biasa berkumpul."


"Apa Ibu tirimu akan memasang muka asam padamu?"


"Tidak, jika ada Ayah dia akan menjadi Ibu idaman semua orang. Dia juga akan bersikap manis. Jangan khawatir. Yang berwajah masam kemungkinan adalah Sergie."


"Ohh kenapa?"


"Brangkas uangnya dikunci Ayah. Jelas saja dia memasang muka masam. Laporan keuangannya minus seperti aku tahun lalu, minus ini tidak bisa dipulihkan sehingga Ayah menarik kewenangannya di perusahaan investasi. Lagipula aku berniat menariknya ke ring untuk memberinya pelajaran."


"Ini minggu perayaan, kau tetap berniat berkelahi dengannya?! Kau keterlaluan, apa tak bisa kalian minta maaf satu sama lain saja."


"Jika aku selesai memberinya bogem mentah, kita bisa lupakan dan maafkan, lagipula jika aku tak berkelahi dengannya, dia akan menyulitkanku di masa depan. Jadi dia harus diberi pelajaran bagaimanapun supaya dia menurut."


"Itu logikamu, padahal semua bisa dibicarakan tanpa kekerasan." Svetluny menghela napas mendengar alasanku. Nampaknya dia tak pernah setuju dengan jalan kekerasanku.


"Kau akan menghajarnya di rumah kalian? Bukankah itu berlebihan? Agenda makan malam kalian adalah saling menghajar satu sama lain, kalian cukup ajaib."


"Tidak aku akan menyeretnya ke ring tinju. Kepala pengawal Ayah mempunyai sasana tinju. Aku akan menyeretnya ke sana." Tentu saja aku tak akan gila makan dengan memar dan berdarah-darah.


"Apa dia mau kau seret kesana? Bagaimana kalau dia kabur dan tak melayanimu."


"Oh dia sesumbar akan memukulku duluan, dia lebih bersemangat menghajarku. Hanya aku tak tahu apa anak manja itu bisa berkelahi atau tidak." Svetluny menghela napas mendengar kata-kataku.


"Terserah padamu. Aku tak mengerti melihat keinginan kalian berkelahi satu sama lain. Aku akan duduk di pinggir lapangan saja memperhatikan. Aku bahkan tak akan mendukungmu. Terserah apa yang kalian Kurasa apapun yang.kukatakan tak akan menghentikannyamu. Jadi lakukan saja apa yang kau mau."


Dia benar. Tak ada yang bisa menghentikanku untuk berkelahi dengan anak kesayangan ular tua itu. Sejak aku tahu dia berencana membunuhku dan mengirim orang untuk melukai Svetluny. Di pikiranku hanya ada satu kata.


Aku akan menghajarnya sendiri dengan tanganku. Lagipula dia selalu diatas angin sejak kecil karena Ibunya membelanya.


Kali ini dia harus membayar karena keberaniannya melampaui batas.

__ADS_1


__ADS_2