BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 46. Stupid Gold Digger 2


__ADS_3

"Tepat, pertemanan yang sangat menggelikan. Yang jelas dia jauh lebih miskin darimu sekarang sayang."


Laura pikir Eliza adalah wanita dari kalangan biasa. Sekarang dia sendiri yang terbanting ke bawah saat Eliza membuka siapa dirinya.


"Masih banyak orang lebih kaya dan lebih hebat darinya. Kau sangat melebih-lebihkan pacarmu sendiri. Dasar bodoh, kau katak yang hidup dalam tempurung.


"Kekasihku ini sangat luar biasa, aku bangga padanya. Wanita miskin visi yang hanya bisa melihat jumlah uang di rekening sepertimu tidak pantas menyapa Jenderal Gillianku. Secantik apapun kau, kau hanya dianggap hiasan tak berguna sekarang." Dan Eliza tersenyum lebar padanya. "Lain kali jangan terlalu percaya diri dengan kecantikanmu, yang cantik itu banyak Nona Laura. Jenderal ini sudah banyak mencicipi yang cantik, kau mau jadi salah satunya? Kurasa dia masih berbaik hati memandang Ayahmu, dia tak menjebakmu dan mencicipimu. Benar bukan sayang." Aku hanya tersenyum sinis ke Laura.


"Kau membuatku jadi penjahat besar sekarang. Dia tak akan pernah mengerti Eliza, percuma kau menjelaskannya."


"Kau juga di cicipinya. Jangan terlalu bangga." Laura membalasnya.


"Ohhh kau tak tahu cerita kami gold digger. Kami tak pernah menyebut list Forbes di cerita kami sejak bertemu 3 tahun yang lalu sesama militer, dan jabatan kami sama-sama Komandan, tapi kudengar bahkan kau meremehkan bintang duanya. Kau tahu apa yang kami lalui untuk mencapai bintang dua itu? Penghinaan terhadap jabatan itu tak termaafkan, kau berpikir dia pendendam? Kupikir dia baik hati untuk tak membalasmu secara langsung, memasang jebakan untukmu, hanya karena dia masih melihat Ayahmu dan Ayahnya bersahabat. Percayalah otaknya sanggup memikirkan banyak hal yang dia mau... Kau tahu jabatannya sekarang, kupikir kau seharusnya sangat-sangat bersyukur dia tidak membalasmu." Eliza membuat Laura terdiam sesaat.

__ADS_1


"Kau terlalu melebih-lebihkan Gilbert."


"Kau memang gadis bodoh yang tidak bisa melihat siapa dia, bahkan Ayahmu bersedia datang langsung mengundangnya ke makan malam keluargamu. Kau tak bisa melihat itu? Kau memang buta? Coba tanya kepada Ayahmu kenapa dia berharga dia di mata Ayahmu kalau kau tak tahu? Pantas saja kau tidak pernah mendapatkan seseorang yang pantas. Kau gold digger terbodoh yang pernah kutemui." Eliza belum selesai menceramahinya, sekarang dia membuat Laura sedikit berpikir.


"Kau yang sok pintar. Wajah biasa saja tapi hanya pintar bicara." Aku meringis mendengar kata-kata Laura. Yang dibicarakannya hanya fisiknya yang lebih menarik.


"Sudah kubilang kau akan mengatakan hal yang percuma padanya."


"Kalian yang bodoh."


"Bodoh yang tak tertolong." Eliza cekikikan.


"Jaga mulutmu bit*ch."

__ADS_1


"Mau berkelahi? Ayo? Aku sangat suka berkelahi. Kau biasanya mencakar bukan? Aku biasa mematahkan gigi, tanya Gilbert siapa yang pernah kupatahkan giginya." Aku yang tertawa sekarang. Pembicaraan dua wanita ini luar biasa.


"Dasar bar-bar."


"Sana pergilah. Aku malas bertengkar dengan orang bodoh." Sekarang Eliza sudah puas dan berniat mengusirnya.


Laura pergi dengan cepat karena malu yang di tanggungnya. Aku melihat dia kembali ke mejanya. Makan sendiri, mungkin menunggu teman yang mengajaknya makan malam.


"Dia tak akan berani menggangumu lagi. Kujamin."


"Kita lihat saja apa yang akan dikatakannya pada Ayahnya. Sampai sekarang Ayahnya tak tahu kenapa aku tak mau memperdulikan putrinya. Aku ingin dia minta maaf di depan keluargaku. Jika tidak masalah ini tak akan selesai dan akan kugantung sampai dia bicara. Sudahlah kita tak usah bicarakan dia, anggap saja dia tidak ada. Tapi, terima kasih sudah membelaku sampai sekarang."


"Tentu saja aku akan membelamu. Kau juga membelaku dan keluargaku dengan segala cara."

__ADS_1


__ADS_2