BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 66. Incident 2


__ADS_3

"Mike! Kau gila!" Donald merebut senjatanya. Sementara keamanan yang lain menyergap dan mengamankannya.


"Andrew!" Aku berteriak saat dia jatuh terduduk setelah membenturku.


"****..." Andrew mengumpat! Aku ketakutan otakku langsung bekerja. Kemejanya basah oleh darah. Dada kanan atasnya!


"Ya Tuhan, bantu aku mengotongnya ke mobil ke rumah sakit!" Kunci mobilku masih ada di kantong mantel yang belum kulepas tadi. "Aku perlu handuk apa saja! Kain bersih!" Beberapa orang berlari padaku. Untung saja itu lobby hotel. Kutekan lukanya dengan kuat!


"Apa aku akan mati, kurasa ini mati terhormat." Dia melihat padaku dengan bibir tersenyum.


"Tutup mulutmu bodoh! Siapa yang menyuruhmu mati!" Aku melihat ke orang-orang byang berkerumun, pegawai hotel. "Kita bawa ke rumah sakit terdekat ini mobilku! Siapa yang bisa mengemudi." Aku berteriak panik. Berburu dengan waktu.


"Saya Nona!" Satu orang langsung menawarkan diri.

__ADS_1


"Ayo gotong." Tiga orang nampaknya bisa menggotongnya dengan baik memasukkannya dalam mobil."Tolong satu orang ikut denganku di depan." Kami segera melaju dengan aku memegang tangannya.


"Sudah lama kau tak memanggilku bodoh Eliz." Saat mobil berjalan dia mengatakan sesuatu yang menurutku konyol.


"Andrew berhentilah bicara hal-hal bodoh!" Dia malah tertawa saat aku ketakutan setengah mati. "Baiklah tetaplah bicara, hal bodoh apapun tetaplah sadar."


"Jika aku mati, bilang pada Ayah aku minta maaf, tapi ini bukan salahmu."


"Kau tak akan mati. Ini cuma luka biasa! Apa rumah sakitnya masih jauh?!" Aku harap tak mengenai pembuluh darah penting, saat ini dia masih sadar itu sudah pertanda bagus, jika terkena pembuluh darahnya utamanya, dalam tiga menit kami sudah kehilangan dia.


"Aku menyesal memintamu jadi istriku dengan cara begitu. Harusnya aku melakukan hal yang lebih baik. Jika aku mati, satu-satunya yang akan kusesali adalah itu." Dia bicara lagi, aku melihatnya yang terbaring di pangkuanku dengan berbagai perasaan bercampur dan tak bisa bicara, sementara tanganku menekan lukanya.


"Kau tak akan memaafkanmu jika kau mati. Jangan bicara hal-hal bodoh Andrew, kau tak boleh mati! Masih jauhkah rumah sakitnya Sir?"

__ADS_1


"Dalam 500 meter lagi Nona. Kita hampir sampai." 500 meter terlama dalam hidupku.


"500 meter lagi tetaplah sadar Bodoh! Jangan berani kau pingsan." Nampaknya darahnya tak merembes menembus handuk yang ku tekan, mungkin ini keberuntungan, tak mengenai pembuluh darah penting. Dia akan bertahan. Aku meyakinkan diriku sendiri.


"Aku akan mematuhi apa yang kau katakan... Jika aku bisa, apapun yang kau inginkan, bahkan nyawaku." Sekarang aku menangis. Mendapatkan dia melakukan ini untukku membuat perasaanku campur aduk, sedih, marah, terharu, dan banyak lagi yang tisak dapat aku jelaskan.


"Andrew, sebentar lagi..." Aku memeluknya dan menangis.


"Jangan menangis Eliz, aku tak apa. Aku tak akan mati...Jikapun aku mati aku tak menyesal,..." Aku tambah menangis ketika dia menjawab begitu.


Untunglah detik-detik selanjutnya rumah sakit sudah terlihat di depan sana.


"Kita sudah sampai Nona." Orang yang duduk di depan berlari ke dalam UGD, meminta bantuan,

__ADS_1


"Kita sudah sampai, kau akan baik-baik saja." Aku menyeka tangisanku. Tempat tidur dorong tiba kemudian. Dan mereka menaruh Andrew di tempat tidur dorong dan aku tidak boleh ikut ketika mereka sampai ke penanganan.


__ADS_2