BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 44. Forbes List Girl 3


__ADS_3

"Aku terpaksa membawa orang yang kubenci beberapa hari lagi..."


"Maksudmu membawa orang yang kau benci." Kuceritakan padanya dari awal sampai akhir apa yang terjadi sebenarnya 6 tahun lalu dan apa yang terjadi sekarang dengan wanita cantik bernama Laura itu.


"Dia memintamu datang hanya untuk menjadi bahan tertawaan teman-temannya?"


"Iya."


"Bahkan kalian kenal dari keluarga, kenapa dia bisa sampai melakukan hal itu?"


"Entahlah mungkin dia hanya memanfaatkanku untuk menarik perhatian orang lain, atau dia sedang mengasah kukunya saat itu. Dia sendiri yang tahu."


"Lalu sekarang apa yang kau lakukan?"


"Membalasnya, dia harus meminta maaf padaku dan keluargaku. Walaupun aku tidak memberitahu Ayah dan Ibuku, tapi semua kakakku tahu apa yang terjadi."


"Hmm... kau yakin dia tidak berusaha merayumu. Atau mungkin dia mencoba cara yang tidak dapat kau tolak. Bukankah kau pernah bilang dia sangat cantik Jenderal." Aku tertawa, wonder woman ini mungkin sedikit cemburu.


"Aku sudah banyak bertemu wanita cantik sejak remaja wonder woman. Godaan macam apa yanh belum kumanfaatkan."

__ADS_1


"Belum kumanfaatkan? Ternyata kau memang sebangsat itu." Aku tertawa dengan sindirannya.


"Aku punya masa-masa gemilang, ...aku mengaku padamu. Aku tak selurus itu dulu, tapi sekarang aku sudah terlalu bosan, apalagi sejak kejadian dengan Laura, kupikir tak ada gunanya aku terlalu memenuhi hidupku dengan mengurus wanita. Jadi jika kau kebetulan melihahnya nanti di Montreal jangan cemburu, dia tidak akan berusaha merayuku kurasa tapi siapa tahu apa yang akan dilakukannya."


"Iya baiklah."


Dan sekarang aku dalam penerbangan ke Montreal. Aku di kelas bisnis, dia dibelikan kelas bisnis juga oleh Ayahmya. Dan timku di kelas ekonomi. Saat masuk terpaksa aku harus duduk bersamanya di penerbangan pagi itu. Dan penerbangan bisnis itu penuh, aku tak bisa minta pindah kursi.


Aku tak banyak memperdulikannya, membiarkan apapun yang ingin dia buat. Bahkan check in kamipun berpisah. Aku menunggu bersama timku dan dia adalah orang asing.


"Kau tak ingin duduk bersamaku?"


"Sombong sekali."


"Aku tak punya nomor antrian untuk bicara denganmu Nona Laura Shields, kau tak ingat kata-kata temanmu. Ohh ya, teman-temanmu dalam list itu, kau tak punya hubungan baik dengan mereka? Kenapa kau meminjam dari kami belakangan."


"Aku tak meminjam darimu." Aku tertawa, logika dari mana itu saat dia mengatakan nama dan perusahaan mereka. Walau perusahaan itu di kelola kakakku, tetap saja itu nama keluargaku.


"Kenapa kau menyebalkan sekali."

__ADS_1


"Kau yang menyebalkan harus di sodorkan keluargamu padaku kukira."


"Ayahku yang menyebalkan, aku punya banyak laki-laki yang lebih baik yang mengejarku."


"Itu bagus, bawa mereka ke Ayahmu supaya kau terbebas dari bertemu denganku. Bukankah mereka lebih baik katamu."


"Mereka memang lebih baik."


Debat kusir ini menjadi hiburan kadang. Menghadapi wanita keras kepala, tinggi hati dan mau menang sendiri ini terasa lucu.


"Ahh sepertinya aku tahu apa yang terjadi, mungkin sekarang kau sudah dianggap terlempar dari Top 2000 bukan? Kau juga tak punya tiket bergabung dengan mereka." Sekarang aku tertawa ngakak. Menyadari apa yang terjadi dengan group teman-temannya yang pernah menghinaku.


Dia tak menjawabku, berarti itu benar.


"Pertemanan macam apa itu, sangat sia-sia."


"Bukan urusanmu."


Benar sekali memang bukan urusanku.

__ADS_1


__ADS_2