BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 65. Room 612 -2


__ADS_3

612.


Nomor itu terus terngiang di kepalaku dan membuatku tersenyum sendiri ini. Kenapa aku malah memikirkan nomornya sampai hari ini.


"Hei, ada apa denganmu." Susan menyenggolku. Saat dia tiba di depanku.


"Ada apa denganku?" Aku bertanya balik sekarang.


"Kau tersenyum sendiri seperti orang gila, sebenarnya penyaķit itu biasa, tapi aku ingin tahu bagaimana ceritanya kau menjadi gila." Dia meringis lebar.


"Kau yang gila!" Aku mencibir padanya.


"Apa terjadi sesuatu semalam selain makan malam?" Sekarang Susan mulai dengan interogasinya.


"Tidak terjadi apapun "


"Kau pikir aku percaya tisak terjadi apapun?" Dia masih meringis lebar meneliti ekspresiku yang menahan senyum. "Ayolah cerita sedikit, itu tak akan membunuhmu." Dia memasang muka berharap sehingga membuatku ingin tertawa.

__ADS_1


"Baiklah, dia mengatakan perasaannya padaku. Itu yang terjadi." Akhirnya aku menyerah di interogasi.


"Ahh jadi kau menerimanya?" Sekarang dia tersenyum lebarm


"Tidak. Bagaimana mungkin secepat itu.


"Kau bertele-tele. Terima dulu, jika nanti tidak xoxok baru putuskan. Atau jika dia tidak memuaskan tentu saja kau harus mengantinya." Si mesum ini tidak akan berhenti membuat kalimat ambigu.


"Itu rumusmu bukan rumusku." Dia tertawa.


"Baiklah, kau memang setia dan wanita baik-baik. Jadi terima saja tuan Walikota itu. Dia terlalu baik seperti yang kubilang nanti kau menyesal tidak menerimanya."


"Terserah padamu saja. Ayo kita makan saja, aku kelaparan sekarang." Doa menarikku ke kantin. Sesampainya di sana beberapa orang wanita yang kulihat semalam nampaknya memperhatikannya. Kurasa mereka penasaran kenapa aku tak datang dengan sang Walikota.


Aku melihat Andrew, seperti biasa dia makan semeja dengan James dan komandan batalion, beberapa kapten kompi. Aku meneguhkan hati tak melirik ke arahnya tapi ternyata tak bisa. Suatu saat pandangan kami bertemu, aku bisa melihat dia tersenyum kecil padaku. Dengan cepat kualihkan pandanganku darinya. Astaga ini seperti anak belasan tahun mencuri pandang.


"Kau, apa hubunganmu dengan walikota." Seorang wanita tiba di mejaku. Nampaknya dia anggota kompi yang sekarang menjaga kota.

__ADS_1


"Aku? Aku perawat semalam aku membicarakan pasokan yang harus diambil ke markas pusat. Kau punýa masalah dengan itu?" Aku langsung menjawabnya sekarang.


"Benarkah, kuberitahu padamu. Walikota itu milikku jangan mencoba merayunya , jika aku menemukanmu merayunya lagi, kau akan menerima akibatnya." Dan dia pergi dari depanku setelah puas mengancamku. Luar biasa ...


"Memangnya siapa kau...." Susan yang berada di sampingku langsunģ berniat membalasnya tapi aku memberi tanda tak usah. Tak ada gunanya memicu pertengkaran.


"Pergilah, aku hanya bicara pekerjaan dengan Walikota. Tak ada hubungan pribadi. Aku tak tertarik." Jika aku sekali lagi terlihat bicara dengannya, aku pasti akan diserang lebih banyak orang di sini. Itu tak diragukan.


"Kenapa kau diam saja tak membalasnya." Susan yang sekarang bertanya sambil memandangi kepergian wanita itu dengan tak suka.


"Jika aku membalasnya bukan aku saja yang dirugikan tapi kredibilitas Andrew juga akan terganggu dengan berita wanita. Lebih baik aku mengatakan hal seperti itu." Aku yang menjelaskan padanya.


"Ohh begitu ternyata..." Susan memahami alasanku.


"Tapi jika begitu, kau tak bisa bertemu dengannya lagi." Aku punya caranya. Tapi itu terlalu memalukan untuk dikatakan. 612, aku tinggal ke sana.


"Sudahlah tak usah bahas sekarang, tak baik." Aku menghindari membalasnya. Tapi dari tempatnya Andrew melihatku. Kuharap dia tak ikut campur karema aku bisa menanganinya, ini demi kebaikan kami. Aku harus ke kantornya untuk bicara nanti.

__ADS_1


,---- bersambung besok


__ADS_2