
💥 Kantor EvD
Di tempat lain ada seseorang yang sedang emosi dan geram melihat foto yang dikirimkan bodyguardnya .
"Aira, abang bahagia saat tahu hatimu sudah mulai menyayangi abang. Tapi dilihat dari tatapanmu dan Reza, terlihat masih ada cinta diantara kalian. Itu membuat hati abang sakit sayang, hatimu memang belum sepenuhnya untuk abang" Gumam Evan sambil menatap foto yang di kirimkan Nuri ke Evan.
Memang kebetulan Evan ingin menghubungi Nuri untuk menanyakan bagaimana Aira di kampus seharian ini. Dan Nuri mengatakan semua yang ditanyakan Evan tentang Aira yang bertemu dengan siapa saja termasuk saat Aira bertemu dengan Lukas dan kebetulan dengan Reza juga.
Aira sampai di kantor Evan dan turun di lobby bersama dengan Nuri. Kemudian mobil Nuri akan dibawa sekuriti ke tempat parkir.
"Mari nyonya, saya akan mengantarkan anda sampai ke ruangan tuan" kata Nuri sambil membukakan pintu mobil untuk Aira.
"Saya ke atas sendiri saja Nur, kamu bisa makan siang dulu" kata Aira.
"Iya nyonya nanti setelah nyonya sampai di ruangan tuan, saya baru akan makan siang" jawab Nuri.
Tok tok tok
"Masuk"
"Maaf tuan saya mengantarkan nyonya" kata Nuri.
"Terima kasih" jawab Evandro
Aira langsung mencium punggung tangan suaminya.
"Abang sudah makan?" Tanya Aira.
"Memang kamu sudah makan?" Tanya balik Evan dingin. Aira menatap suaminya heran dengan sikap dingin suaminya.
"Maksud abang apa?" Tanya Aira yang tidak tahu maksud suaminya.
"Kenapa kamu terlambat, apa karena janjian makan siang dulu dengan mantanmu?" Tanya Evandro
Deg
"Maksud abang siapa sih, Aira ga makan siang dengan siapapun. Bahkan Aira juga belum makan" jawab Aira dengan nada kesal.
"Benarkah, kalau begitu silahkan makan karena abang sudah tidak ***** untuk makan" kata Evan datar kemudian kembali menatap layar laptopnya.
Aira langsung keluar dari ruangan suaminya dengan kembali menenteng tasnya dan menuju kantin di lantai bawah.
__ADS_1
Evan kaget melihat sikap Aira yang langsung dengan cepat pergi dari ruangannya. Evan langsung menghubungi Nuri untuk mengikuti istrinya ke kantin.
Aira menanyakan ke sekuriti dimana letak kantinnya.
"Maaf pak dimana kantin kantor ini?" Tanya Aira.
"Disana nona, tapi jika jam segini biasanya masih penuh" jawab sekuriti tersebut.
"Terima kasih pak" kata Arini langsung berjalan menuju ke luar gedung yang kebetulan ada cafe di dekat kantor Evan.
Aira duduk menunggu pesanannya sambil membuka buka ponselnya. Aira kaget waktu melihat ada kiriman foto dari Reza.
"Kak Reza masih punya foto kami berdua" batin Aira sambil menatap fotonya dengan seragam putin abu-abu.
Aira sengaja menghabiskan waktunya dengan bermain game di ponselnya setelah mematikan notifikasi lokasinya agar suaminya tidak dapat melacak keberadaannya. Aira tersinggung dengan sikap suaminya yang tidak mau menanyakan dengan jelas tapi tiba-tiba salah paham dan marah kerena cemburu.
Evan mencoba menghubungi Aira, namun tidak juga diterima Aira. Evan mengirimkan pesan juga tidak dibaca dan dibalas Aira.
"Sial, Aira mematikan lokasinya. Dimana dia, kenapa Nuri bisa tidak tahu kemana Aira pergi" gumam Evan yang sedang gundah memikirkan Aira yang lama belum juga kembali.
"Aku tahu kamu masih menyimpan rasa cintamu pada Reza sayang, kalian masih saling mencintai. Tapi apakah aku sebagai suamimu tidak berhak melarangmu bertemu bahkan mencintai pria lain selain suamimu?" Gumam Evan memikirkan Aira yang sampai sekarang belum menjawab pesannya dan juga menerima panggilannya.
Evan memang belum makan siang, rencananya tadi Evan akan mengajak Aira makan siang di luar atau delivery dan makan berdua dikantor. Ternyata Evan tak dapat menahan cemburunya hingga bersikap dingin ke sang istri dan berakhir ditinggal sang istri pergi makan sendiri.
Karena menunggu lama tak juga sang istri kelihatan datang, Evan meminta anak buahnya mencari Aira termasuk Nuri yang juga masih mencari keberadaan Aira.
"Tuan sebentar lagi kita ada pertemuan dengan tuan Edward" kata Suryo mengingatkan.
"Apakah tidak dapat di tunda besok?" Tanya Evan.
"Tidak bisa tuan, baru saja asistennya mengatakan kalau tuan Edward sekarang dalam perjalanan" jawab Suryo.
"Apakah nyonya Aira masih belum bisa dihubungi tuan?" Tanya Suryo.
"Iya, entahlah dimana dia sekarang" jawab Evan sambil memejamkan matanya dengan bersandar di kursi kebesarannya.
"Sayang, kamu dimana sih, tolong balas pesan abang" batin Evan.
💥 Apartemen
Aira sampai di apartemen dan langsung membersihkan dirinya dari keringat tanpa memikirkan bagaimana sang suami bingung mencarinya.
__ADS_1
Evan mendapat informasi disaat beberapa detik sebelum meeting dimulai bahwa Aira berada di apartemennya. Semua itu membuat Evan merasakan kelegaan dan dapat meeting dengan pikiran yang tenang, walupun masih belum benar-benar tenang.
Selesai mandi Aira memasak untuk makan malam jika suaminya datang. Aira sibuk dengan masak, sampai melupakan ponselnya yang sejak tadi bunyi karena banyaknya panggilan dan pesan yang masuk.
Aira melihat jam di dinding menunjuk di angka 17.12 wib. Pertanda suaminya sudah akan datang sebentar lagi karena jarak antara kantor dan apartemen termasuk dekat.
Makanan yang dimasakpun sudah terhidang di meja, Aira membuka laptopnya untuk mengerjakan tugasnya yang sampai sekarang belum terselesaikan.
"Ting tong" bunyi bel pintu pertanda ada orang yang datang.
"Ceklek" Aira membukakan pintu.
"Sayang, kamu pulang kenapa ga pamit sama abang sih?" Sapa sang suami saat istrinya membukakan pintu untuknya.
Aira hanya diam dan mencium punggung tangan suaminya, kemudian Aira kembali ke sofa untuk mengerjakan lagi tugas kampusnya
"Kenapa pertanyaan abang ga dijawab?" Tanya Evan.
"Maaf" jawab Aira singkat dan dingin.
Evan tahu istrinya marah saat ini. Evan menatap istrinya yang begitu dingin sikapnya, kemudian Evan masuk ke kamarnya untuk membersihkan badannya.
"Ponselmu mati ya yank, sejak tadi abang hubungi kamu ga diangkat?" Tanya Evan menvoba untuk menahan emosi setelah selesai mandi dan berganti pakaian di rumah.
"Nggak" jawab Aira singkat sambil matanya fokus di layar laptop.
"O iya tadi kamu dicari Haris, katanya mau ngantor setiap hari" kata Evan.
"Terus kenapa?" Tanya Aira dingin.
"Sayang, kamu marah sama abang?" Tanya Evan, namun Aira tidak menjawabnya.
"Itu kalau abang mau makan sudah ada di meja makanannya" kata Aira tanpa melihat ke suaminya.
"Yank kalau bicara tolong lihat lawan bicaranya dong" kata Evan lembut, namun Aira tak menjawabnya dan masih tetap fokus di layar laptopnya.
"Kita makan dulu yuk yank, itu laptopnya ditutup dulu dong" ajak Evan.
"Aira masih kenyang, abang makan saja itu semua sudah ada dimeja kok" jawab Aira tanpa mau menoleh ke suaminya yang duduk disebelahnya.
Evan mengambil laptop sang istri yang berada di pangkuan istrinya.
__ADS_1
"Maafkan abang, bukan abang marah sama Aira, tapi abang takut kehilangan kamu lagi sayang" bisik Evan sambil memeluk sang istri dari samping dan membenamkan kepala Aira ke dadanya.