
📞 "Apakah Evan menjagamu sayang?" Tanya Raka dari sebrang.
"Iya pah" jawab Aira singkat.
"Kalau begitu lanjutkanlah berlibur, papa akan menunggumu" kata Raka mengakhiri panggilannya.
"Sayang, maafkan abang ya, abang yang akan mengantarkanmu nanti untuk berziarah ke makam mama" kata Evan.
"Bagaimana urusan abang dengan Rani?" Tanya Aira.
"Abang tidak akan pernah menikahinya. Karena abang sudah memiliki istri yang selama ini abang harapkan" jawab Evan
"Bukankah dia hamil?" Tanya Aira.
"Abang tidak tahu dan tak mau tahu, karena abang sudah putus hubungan sengannya 3 tahun lalu dan tidak pernah lagi bertemu dengannya apalagi melakukan hal yang tidak sepantasnya" kata Evan.
"Dan abang harap Aira mau mengerti dan percaya dengan abang" kata Evan memohon.
Aira tidak memberikan jawaban apapun ke Evan.
"Sayang, abang akan buktikan semuanya" kata Evan.
"Sayang kita mau makan malam di luar atau mau makan di dalam kamar saja?" Tanya Evan.
"Aira belum lapar, abang makan aja duluan kalau mau makan. Aira mau mandi saja" jawab Aira.
"Kalau begitu biar makannya diantar saja ke kamar ya" kata Evan.
"Terserah abang saja" jawab Aira kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah Evan meminta makan malamnya untuk diantarkan ke kamar, Evan langsung menghubungi Suryo untuk mengurus masalah Rani dan memcari tahu apakah benar Rani hamil dan siapa ayah biologisnya.
Sebenarnya Aira percaya dengan Evan yang tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang diluar batas. Apalagi beberapa bulan terakhir ini Evan selalu bersama Aira.
"Ceklek"
Pintu kamar mandi terbuka.
"Yank makan malamnya udah datang nih, mau langsung makan atau nungguin abang mandi dulu?" Tanya Evandro
"Abang mandi dulu" jawab Aira dingin.
"Okey, kalau begitu abang mandi dulu ya" kata Evan sambil melewati Aira yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi. Evan mencuri ciuman di pipi Aira kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
Aira yang mau melangkah menuju meja rias jadi berhenti karena kaget dengan ulah Evan yang mencium pipinya. Aira mau marah tapi tak bisa marah karena sadar bahwa dia sudah menjadi suaminya.
Evan tersenyum sambil menutup pintu kamar mandi melihat istrinya yang kaget tapi tak bisa marah.
__ADS_1
"Kamu bikin abang makin gemes sayang" gumam Evan di dalam kamar mandinya.
Aira membuka ponsel karena ada pesan masuk yang ternyata dari Lukas yang mengkhawatirkan Aira.
🗨 "Aira apa yang terjadi denganmu dan suamimu?" Tanya Lukas via chat.
"Tidak apa-apa kak, maaf jika telah mengganggu pikiran kak Lukas" Aira💬
🗨 "Kalau sampai suamimu kasar padamu katakanlah dengan kakak dan jika ada masalah jangan kau pendam sendiri" Lukas.
"Terima kasih kak, Aira nggak apa-apa" Aira💬
"Ceklek"
Pintu kamar mandi terbuka.
Evan melihat Aira memegang ponselnya, Evan berpikir Aira pasti cerita dengan Haikal tentang apa yang terjadi pada mereka.
"Kita makan sekarang yank?" Tawar Evandro setelah memakai celana pendek dan kaos rumahannya.
"Iya" jawab Aira singkat. Kemudian Aira meletakkan ponselnya di meja rias dan berpindah duduk di sofa.
Aira makan dalam diam, hening tanpa ada yang bicara.
"Apakah besok pagi mau melihat sunrise?" Tanya Ari hati-hati untuk membuka percakapannya setelah selesai makan malam.
"Kenapa, bukankah Aira ingin melihat matahari terbit?" Tanya Evan menatap Aira yang tidak mau melihat dirinya.
Aira berpindah menuju balkon kamar hotelnya melihat pemandangan pantai.
Dari balkon Aira melihat Lukas yang duduk bersama dengan Lusy di pinggir pantai.
Evan yang berada di dekat Aira melihat kemana pandangan Aira.
"Apakah kamu cemburu melihat mereka duduk berdua?" Tanya Evan yang berdiri disebelah Aira.
Aira menatap Evan heran.
"Pantaskah mencemburui orang yang sedang bersama dengan istrinya?" Tanya Aira tanpa menjawab pertanyaan Evan.
"Siapa tahu kamu cemburu melihatnya bersama perempuan lain." Kata Evan datar.
"Semoga mereka bahagia, hanya itu doaku untuk mereka" kata Aira sambil melihat kearah Lukas dan istrinya.
"Dan semoga kita juga bahagia Aira" kata Evan menambahkan.
Aira kembali menatap Evan tanpa berucap. Evan pun juga beralih menatap Aira dan memegang pundak Aira untuk dihadapkan padanya.
__ADS_1
Mereka saling berhadapan, Evan menatap Aira dalam dan Aira juga menatap Evan.
"Selamanya kamu adalah istri abang, tak akan pernah ada yang dapat memggantikannya." Kata Evan.
"Bukalah hatimu untuk abang sayang" kata Evan memohon.
Aira meneteskan air matanya mendengar permohonan Evan.
"Maaf bang, Aira tidak tahu apa yang harus Aira lakukan. Aira hanya ingin bersama mama" kata Aira.
Evan memeluk istrinya erat, tanpa sadar Evan meneteskan air matanya mendengar istrinya yang hanya mau bersama almarhumah mamanya.
"Apakah itu artinya kamu ga mau hidup dengan abang yank, abang ga akan pernah bisa hidup tanpamu sayang. Jangan pernah tinggalkan bang Evan apapun yang terjadi" mohon Evan sambil mencium kedua punggung tangan Aira yang sudah berada dalam genggaman Evan.
"Percayalah sayang, abang akan mencari tahu siapa ayah biologis bayi yang ada dikandungan Rani. Dan yang pasti dia bukanlah abang." Kata Evan.
"Aira percaya bang, hanya Aira juga takut jika dia akan merebut abang untuk meninggalkan Aira" kata Aira.
Evan memeluk istrinya erat dengan perasaan bahagia mendengar istrinya percaya padanya dan takut ditinggalkannya pula.
"Terima kasih sayang sudah mau percaya dengan bang Evan. Abang tidak akan pernah meninggalkanmu, kita akan selalu bersama hingga maut memisahkan" kata Evan.
"Percayalah kita akan selalu bersama sayang, tidak akan pernah ada yang bisa memisahkan kita" kata Evan mencium kening istrinya lembut.
"Sekarang kita istirahat ya yank, disini udara dingin sayang" kata Evan sambil menggendong istrinya.
Dari jauh Lukas memandang ke arah hotel dimana Aira dan Evan sedang berdiri berhadapan dengan diterangi lampu diatasnya.
"Aira... semoga kamu bahagia dan aku akan selalu menjagamu walaupun kita tidak saling memiliki. Tapi ijinkan aku untuk selalu melindungimu." Batin Lukas.
Evan membawa istrinya masuk ke kamar dengan menggendongnya.
Lukas melihat apa yang dilakukan Evan, bahagia walaupun hati kecilnya masih ada rasa sesak. Tapi Lukas menyadari bahwa sudah ada Lusy disampingnya dan dihatinya yang harus bertahta sekarang.
Evan mencium bibir sang istri sambil meletakkan diatas ranjang dengan sangat pelan.
"Boleh ya abang meminta hak abang malam ini?" Tanya Evan lembut.
Aira menganggukkan kepalanya tanda setuju. Evan tak menyia-nyiakan kesempatan.
Evan kembali mencium bibir istrinya dengan penuh gairah dan Aira membalasnya hingga terjadilah apa yang diharapkan dari pasangan suami istri ini yaitu penyatuan dari keduanya yang diakhiri dengan erangan panjang dari keduanya pula.
Keduanya sama-sama mengatur nafasnya yang masih belum teratur.
"Terima kasih sayang untuk semuanya" kata Evan sambil memiringkan tubuhnya menghadap sang istri.
"Sama-sama bang" jawab Aira menengok ke suaminya.
__ADS_1