
Dari jauh ada Lukas dan Lusy yang melihat bagaimana Aira menghadapi pelakor yang tak lain adalah mantan dari suaminya.
Rani melihat Aira dari atas sampai bawah yang menurutnya tidak ada seksinya sama sekali.
"Suamimu menerimamu pasti karena kalian terpaksa menikah bukan, kalian dijodohkan dan tidak saling mencintai" kata Rani menatap tajam ke Aira. Aira pun juga tak kalah tajam tatapannya ke Rani.
Evan sendiri tidak menyangka jika Aira bisa sekuat dan terlihat berani itu didepan Rani yang tak terlihat lemah, bahkan terlihat bahwa Aira juga mencintai Evandro walaupun Evan tahu kalau Aira belum sepenihnya mencintai Evan.
"Asal kamu tahu mau kami dijodohkan atau tidak, kami sudah saling mencintai sebelum suamiku mengenalmu" jawab Aira yang jemari tangan digenggam erat Evan.
Rani melihat cara Evan memandang Aira ada rasa cemburu dihatinya.
"Yank sudahlah tak perlu lagi ditanggapi orang yang tak pula malu dan berani merendahkan dirinya sendiri dihadapan banyak orang" kata Evan membuat Rani kaget dengan ucapan Evan yang mengatakan bahwa dirinya merendahkan harga diri sendiri.
Evan memeluk pinggang sang istri dan mengajaknya keluar dari restoran itu setelah mereka membayarnya di kasir.
"Kasihan Aira ya kak, perempuan itu tak tahu diri sekali" kata Lusy ke suaminya.
"Terkadang kalau perempuan yang tujuannya hanya mencari harta, segala cara akan mereka tempuh untuk mendapatkannya" kata Lukas
"Sudah kita makan saja, tidak perlu ikut campur urusan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita" kata Lukas walaupun dalam hatinya dia juga merasa kasihan dengan Aira. Tapi disisi lain Lukas bangga melihat Aira berani menantang pelakor.
"Kalau tidak salah dengar, tadi Aira bilang bahwa mereka sudah saling mencintai sejak dulu. Apakah itu benar?" Tanya batinnya Lukas.
"Jika benar, berarti selama Lukas menjalin hubungan dengan Aira apakah Aira juga sudah mencintai Evan" tanya Lukas dalam hati.
"Kak yuk kita pulang" ajak Lusy membuyarkan lamunan Lukas.
"Iya, kamu udah selesai makannya?" Tanya Lukas.
"Sudah kak" kata Lusy.
Diperjalan di dalam mobilnya tak ada yang bersuara baik Evan maupun Aira. Suasana hening dengan pikirannya masing-masing. Evan takut jika istrinya marah dan salah paham dengan apa yang baru saja terjadi.
"Yank.." panggil Evan sambil menggenggam jemari tangan istrinya saat melihat istrinya hanya menyandarkan punggungnya disandaran kursi mobil dengan mata terpejam.
"Hmm" Aira
"Kamu marah sama abang?" Tanya Evan lembut.
__ADS_1
"Aira capek bang, mau tidur" jawab Aira yang tidak menjawab pertanyaan suaminya.
"Maafkan abang ya sayang, tapi jujur abang ga pernah melakukan hubungan badan dengan siapapun selain kamu sayang" kata Evan berusaha meyakinkan istrinya. Tapi Aira hanya diam mendengarkan, tak ingin bersuara karena terus terang Aira juga tidak tahu harus bicara apa.
"Kamu masih butuh kemana lagi yank, mau ke cafe?" Tanya Evandro.
"Pulang" jawab Aira singkat.
Evan membuang nafasnya berat melihat istrinya hanya bicara singkat dengan mata terpejam, yang artinya Aira menahan kekesalan hatinya.
"Kamu kalau memang marah sama abang ngomong dong jangan hanya diam begitu" kata Evan. Tapi Aira hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Kita beli ice cream ya sayang, kamu mau kan?" Tanya Evan mencoba meredakan kemarahan sang istri.
"Nggak" jawab Aira singkat masih dengan mata terpejam.
Evan membawa istrinya mampir ke mini market untuk membeli ice cream.
"Sayang, kita turun yuk kamu mau ice cream rasa apa?" Tanya Evan yang sudah parkir di depan mini market.
"Nggak bang" jawab Aira tanpa membuka matanya.
"Yank, jangan mendiamkan abang dong. Kalau kamu marah sama abang ngomong jangan didiamkan begini. Abang ga bisa lihat istri cantik abang hanya diam dan tak mau bicara dengan melihat abang" kata Evan memohon.
"Aira ngantuk" jawab Aira singkat masih sambil memejamkan matanya.
"Sayang abang mencintaimu dan sangat mencintaimu" kata Evan lembut sambil mencium dahi sang istri.
Rasa sesak yang sejak tadi ditahan memenuhi hatinya, kini meluncur tanpa dapat terbendung lagi mendengar kata-kata lembut yang diucapkan suaminya.
Evan mengusap air mata sang istri dengan kedua jempolnya. Kemudian meraih kepal istrinya untuk dibenamkan ke dadanya.
"Menangislah jika itu membuatmu lega" bisik Evan yang ikut merasakan sakit hatinya melihat istrinya tersakiti.
"Jangan pernah percaya dengan apa yang orang lain terutama Rani ucapkan tentang kita, tentang masa lalu abang dengannya. Karena sejujurnya hanya ada kamu dihati abang sayang" bisik Evan.
"Abang beliin ice cream ya buat persediaan di rumah?" Tanya Evandro sambil mengurai pelukannya.
"Terserah abang" jawab Aira singkat sambil mengambil tisu untuk menghapus air matanya.
__ADS_1
Evan keluar dari mobil dan masuk ke minimarket untuk membeli ice cream yang 3 rasa dengan ukuran yang 1 liter.
💥 Apartemen
Sampai di parkiran apartemen, Evan membukakan pintu mobil untuk istrinya dan langsung menggandeng tangan sang istri agar Aira tidak berjalan lebih dulu meninggalkannya.
Aira memasuki apartemen langsung menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan piyama, kemudian merebahkan badannya diatas ranjang dengan menyelimuti badannya serta memejamkan matanya.
Evan melihat sikap istrinya hanya bisa mendiamkannya. Evan menahan amarah dengan Rani yang berani membuat istrinya terluka. Evan menghubungi Suryo untuk mengurus masalah Rani dengan ayah biologis dari anak yang ada dikandungan Rani.
Evan masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri serta memasukkan kakinya ke dalam selimut istrinya dan memeluknya.
Evan mencium kening istrinya dan membisikkan kata "aku sangat mencintaimu sayang, apapun akan kulakukan untukmu."
Aira yang memang dengan mata terpejam dan terlalu nyenyak dalam tidurnya masih terdengar bisikan dari sang suami.
Evan memeluk erat istrinya seolah hanya dialah yang berhak dan dapat memiliki Aira. Evan memang begitu mencintai Aira, dia tak ingin siapapun menyakiti atau membuat kecewa Aira.
Evan mengusap perut rata sang istri berharap Aira segera hamil agar dapat lebih mencintai Evan dan memberikan hatinya untuk Evan.
"Hadirlah segera di dalam perut mami sayang" kata Evan dengan mengusap perut Aira.
"Papi akan selalu menunggu kehadiranmu disini agar mami dapat memberikan hatinya buat papi nak" bisik Evan dengan mencium perut Aira.
"Maafkan Aira bang yang memang belum sepenuhnya bisa membuka hati ini untuk abang, tapi sejujurnya Aira sudah mulai mencintai abang dan jangan pernah tinggalkan Aira dalam kondisi apapun" batin Aira tanpa sadar ada tetesan air mata yang keluar dari sudut matanya tanpa sepengetahuan Evan.
Evan memejamkan matanya sambil memeluk sang istri setelah mencium perut istrinya.
Paginya Aira terbangun dengan keadaan kepalanya berbantalkan lengan sang suami dengan tangan sebelahnya Evan memeluk istrinya erat.
"Selamat pagi istri cantik abang" ucap Evan sambil tersenyum melihat istrinya membuka mata.
****
Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk selalu menunggu upload.
Jangan lupa tianggalkan KOMEN, LIKE, VOTE, HADIAH 😘🙏
__ADS_1