Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 110. Bila punya istri sepertimu


__ADS_3

"Iya Aira tahu bang, lagian dokter Calvin itu kan juga teman abang sendiri" kata Aira masih ga mau mengerti maksud suaminya.


"Yank, kamu mau abang cium di depan mantanmu?" Bisik Evandro gemes dengan istrinya.


"Abang ihh..." kata Aira melotot.


"Iya udah Aira mengalah deh" kata Aira pada akhirnya mengalah pasrah.


"Kamu tuh punya suami cemburuan tapi ga ngerti sih dek" kata Haikal ikut gemes dengan adeknya. Sedangkan Reza jadi langsung bisa melihat sendiri bagaimana Evan ke istrinya orang yang dulu pernah dicintai Reza bahkan sampai sekarang nama Aira masih duduk manis di hati Reza.


"Siapa yang tidak cemburu Ra bila punya istri sepertimu di dekati laki-laki lain. Akupun juga pasti akan cemburu" batin Reza di dalam hati.


"Sudah ayo kita pulang duluan sayang, kamu masih pucat begitu" ajak Evandro setelah mereka selesai ngobrol dan bercanda.


"Abang gendong aja sayang?" Tanya Evan pelan tapi masih didengar Faris dan Haikal.


"Abang, malu ahh" jawab Aira manja.


"Bang Aira pulang duluan ya" pamit Aira ke Haikal.


"Aira  pulang duluan ya kak, salam buat calon kak Reza" kata Aira sambil tersenyum.


"Siapa Ra, kakak ga punya calon. Jangan percaya Haikal" kata Reza membuat Haikal  langsung terkekeh.


Evan merangkul pundak sang istri dan berjalan meninggalkan meja Haikal.dan Reza.


"Sudah jangan dilihat terus" Haikal menepuk pundak Reza. Reza membuang nafasnya berat.


"Loe harus bisa move on dari Aira Za" kata Haikal.


"Gue dulu ga pernah ada masalah dengan Aira selama kami jalan bersama" kata Reza.


"Tapi sekarang Aira sudah bersuami dan mereka sudah bahagia" kata Haikal.


💥 Apartemen


Sampai di apartemen, Aira masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


"Yank ini abang buatin teh hangat, diminum dulu biar badanmu lebih enakan" kata Evan dengan membawa secangkir teh untuk sang istri.


"Makasih bang" kata Aira sambil menerima secangkir teh.


Aira memainkan ponselnya setelah meletakkan cangkir teh yang sudah kandas isinya.

__ADS_1


"Kamu suka ponselnya itu?" Tanya Evan.


"Sebenarnya ga perlu beli ponsel bang, Aira lebih nyaman ga pake ponsel sepertinya. Nanti mungkin Aira mau sering ditinggal aja ponselnya biar terbiasa tanpa ponsel" jawab Aira.


"Sayang maafin abang ya, kalau istri abang kurang suka dengan modelnya. Besok kita beli lagi, kamu pilih aja sendiri mau yang apa" kata Aira.


"Ga perlu bang" kata Aira kemudian merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang.


"O iya bang besok ke dokter Calvin jam berapa bang?" Tanya Aira


"Jam 11 siang yank, kenapa mau ikut abang ke kantor dulu?" Tanya Evandro.


"Kalau begitu besok Aira mau kuliah dulu sebelum ke dokter Calvin" jawab Aira.


"Mau kuliah dulu, memang ga lelah setelah kuliah?" Tanya Evan sambil memandang ke istrinya.


"Sepertinya tidak masalah sih" jawab Aira.


"Mau kuliah dulu itu mau ketemu siapa sih yank. Kalau menurut abang besok ga usah kuliah dulu deh" kata Evandro.


"Aira mau kuliah dulu bang ya" kata Aira memelas.


Evandro sebenarnya tidak mengijinkan istrinya kuliah dulu sebelum ke dokter, karena kawatir jika Aira sakit saat kuliah. Tapi akhirnya sang suami mengijinkan karena tidak tega melihat istrinya yang seolah memohon ingin kuliah.


"Ya sudah sekarang kita istirahat tidur dulu ya sayang, besok kita lihat lagi bagaimana kondisimu" kata Evan kemudian memeluk sang istri agar segera istirahat tidur.


"Ceklek"


"Eh abang udah bangun" kata Aira.


"Iya sayang, kamu mau mandi? Ayo kita mandi bareng ya sayang" ajak Evan.


"Abang duluan aja mandinya biar Aira siapin baju buat abang" kata Aira sambil berjalan ke lemari pakaian.


Evandro bangun dan jalan menuju ke tempat sang istri berdiri dan memeluk istrinya dari belakang sambil mencium pipi Aira.


"Abang, mandi dulu sana" kata Aira.


"Abang maunya mandi bareng sama istri dan calon anak abang" bisik Evandro tepat di telinga sang istri, kemudian mencium daun telinga istrinya. Aira dibuat geli dan merinding dengan sikap sang suami.


"Abang ihh geli bang"  kata Aira. Tapi Evan hanya diam dan tetap melanjutkan alsinya, bahkan bibirnya sudah mendarat di leher sang istri.


"Ughhh" Aira mendesah pelan membuat sang suami makin jadi dengan aksinya. Tangan Evan sudah mulai bergerilya menuju puncak gunung kembar sang istri.

__ADS_1


"Abang..." desah Aira.


"Ya sayang... kita lanjut di kasur ya sayang" bisik Evandro sambil menciumi leher dan daun telinga sang istri.


"Abang kan mau ke kantir, nanti terlambat bang" kata Aira dengan suara seraknya.


Evan langsung menggendong istrinya dan dengan pelan-pelan membaringkan sang istri di atas kasur empuknya.


Evan mencium bibir isyrinya lembut sambil membuka satu persatu kancing piyama sang istri. Keduanya sudah polos dengan aksi Evandro dimana bibirnya sudah berada di puncak gunung kembar sang istri dengan memberikan tanda kepemilikan disana.


******* demi ******* keluar dari bibir keduanya. Aira menikmati setiap sentuhan dari sang suami hingga penyatuanpun terjadi.


"Sayang abang mau nyampe" kata Evan sambil menatap sang istri yang memejamkan matanya dengan selalu mengeluarkan suara-suara yang membuat sang suami makin semangat.


"Ughhhh..." suara Evan bersama dengan keluarnya lahar hangat yang tumpah ke dalam gua. Evandro menjatuhkan badannya di sebelah sang istri sambil menetralkan nafasnya yang masih belum teratur.


"Abang nanti ke kantornya terlambat" kata Aira.


"Kan kantor sendiri sayang, makanya nanti kamu tidak perlu ke kampus ya, biar ikut abang aja ke kantor dulu baru kita ke dokter" kata Evandro.


"Aira mau mandi dulu bang" kata Aira tanpa menjawab suaminya. Evan menggendong sang istri menuju kamar mandi untuk mandi bersama.


"Abang kok ga keluar sih" protes Aira.


"Abang mau bantu menggosok punggung istri abang sayang" kata Evan sambil menaikkan kedua alisnya dengan menahan senyum.


"Idih alasan abang aja itu" kata Aira membuat sang suami terkekeh.


Tiba-tiba sang istri mual dan muntah, namun yang keluar hanya air yang tadi di teguknya setelah bangun tidur. Evan memijat tengkuk sang istri.


Selesai mandi dan berpakaian rapi, keduanya menuju meja makan untuk sarapan bersama.


"Sayang nanti ke kantor abang saja ya, hari ini tidak perlu ke kampus dulu biar abang tidak terlambat ke kantornya" rayu Evan agar istrinya mau mengikuti sarannya


"Tapi besok Aira harus masuk kuliah ya bang dan abang harus mengijinkan Aira ke kampus besok" kata Aira mengalah dan berjalan keluar kamar.


"Iya sayang besok abang ijinkan kamu kuliah asal kondisinya baik dan kamu ga pucat ya" kata Evan.


"Apakah masih lemas karena muntah tadi sayang?" Tanya Evan kawatir.


Aira menggelengkan kepalanya sambil duduk di kursi makan.


"Jangan lupa minum obat mualnya dulu sebelum makan yank" kata Evan mengingatkan.

__ADS_1


"Iya bang" jawab Aira sambil membuka kotak obatnya.


Selesai sarapan Evan menggandeng tangan istrinya untuk naik ke dalam mobil siap berangkat ke kantor.


__ADS_2