
"Bang Haris ga mau ajak Aira pergi, ayo Aira mau kok" kata Aira.
"Mau pergi kemana memangnya?" Tanya Haris santai ke Aira.
"Ra ke tempat yang kamu foto berdua sama Reza itu aja, dimana lokasinya?" Tanya Haikal.
"Foto yang mana bang?" Tanya Aira menatap Haikal kemudian ke Reza. Aira bingung foto yang di maksud Haikal yang mana, karena Aira berpikir bahwa mereka ga pernah foto berdia sejak Aira menikah dengan Evan.
Reza hanya menaikkan kedua bahunya tanda tidak mengerti juga yang dimaksud Haikal.
"Itu loh Za, foto kalian yang ada di kantor. Yang loe pajang di dinding" kata Haikal, lupa jika Aira saat ini ada suaminya yang sudah menahan cemburu berdiri di dekat mereka.
"O itu dulu di kebun teh kalau ga salah" jawab Reza melihat ke Aira kemudian ke Evan. Aira melihat ke Reza, kemudian ke Evandro tanpa mengeluarkan suaranya.
"Ups maaf bang" kata Haikal ke Evan setelah Haikal sadar adanya Evan disitu.
"Ayo sekarang mau kesana?" Tanya Evan dingin menatap Aira dengan wajah menahan kesal dan cemburu.
"Maaf bang, Haikal tidak punya maksud apapun" kata Haikal lagi namun tak ada tanggapan apapun dari Evan.
"Tidak mengapa bang" jawab Aira ke Haikal.
"Kita di sini saja bang, Aira kan lagi kangen sama baby Herman" kata Aira ke Evandro kemudian jalan masuk mendekati Aini yang sedang sibuk di dapur.
"Sudah tidak perlu diperpanjang, semua itu hanya masalalu" kata Haris menjadi penengah agar Evan tidak meluapkan cemburunya setelah Aira pergi.
"Kalau begitu kita nanti makan siang saja nanti di cafe kak Aini, okey" kata Haris.
Evan masuk menyusul Aira tanpa menjawab ajakkan dari Haris.
"Kita pulang sekarang, masih ada yang harus aku kerjakan" kata Evan datar ke Aira.
"Nanti dulu aja bang, Aira masih mau nungguin baby Herman sebentar" jawab Aira.
"Nungguin baby Herman kan hanya alasanmu saja, bilang aja kalau memang kamu masih ingin bertemu dia kan" kata Evan ketus dan dingin.
"Abang ngapain sih, itu tadi yang bilang dan ingin kesana kan bang Haikal, bukan Aira mau mengulang masalalu bang" kata Aira.
"Abang tunggu kamu di mobil sekarang" kata Evan ketus kemudian pamit dengan Aini dan juga Haris.
"Aira pulanglah, ikuti kata suami kamu. Dia sudah cemburu sejak semalam kamu tampil berdua dengan Reza" kata Aini.
Aira mengangguk kemudian pamit ke Aini dan Haris juga Reza serta Haikal. Aira menahan kesal dengan sikap suaminya, Aira juga menahan tetesan airmatanya agar tidak terlihat.
"Maafin abang ya dek, abang ga bermaksud apa-apa" kata Haikal merasa bersalah.
"Iya bang ga masalah, hanya bang Evan saja yang sepertinya sedang sensitif. Aira pamit pulang dulu bang" kata Aira.
__ADS_1
Aira berpamitan memeluk Haris sambil meneteskan airmatanya walaupun sudah berusaha membendungnya.
"Sabar, kamu harus sabar menghadapi suami yang sedang cemburu. Tidak usah emosi, diamkan saja dulu suamimu" bisik Haris agar tidak terdengar oleh Reza.
Aira menganggukkan kepalanya kemudian menyusul suaminya ke dalam mobil.
Evan menjalankan mobilnya menuju apartemen setelah istrinya masuk ke dalam mobil. Selama diperjalanan, hanya suara radio yang terdengar. Sedangkan keduanya diam tanpa ada yang mau mengeluarkan suaranya.
💥 Apartemen
Sesampainya di apartemen, Aira langsung keluar dari mobil tanpa menunggu sang suami membukakan pintu mobil.
Aira jalan menuju ke lift dengan memegang ponselnya, karena sejak di dalam mobil Aira sedang memesan makanan untuk dirinya lewat aplikasi online. Tanpa memperdulikan suaminya, Aira langsung masuk ke dalam apartemennya setelah berada di depan pintu unit apartemennya.
"Senang ya bisa mengenang masa lalu lagi bersama?" Tanya Evan dingin.
"Siapa juga yang senang bang" jawab Aira.
"Itu buktinya masih sibuk dengan chatingan, apa kalian memang masih sama-sama saling mengharapkan untuk bisa kembili?" Tanya Evan lagi dengan ketus menatap Aira tajam.
Aira balas menatap Evan tajam, kemudian Aira masuk ke dalam kamarnya.
"Jawab Aira, apakah kamu masih mencintai dia? Lalu kamu anggap apa abang selama ini?" Tanya Evan dengan nada membentak Aira karena Evan tidak dapat lagi menahan emosi.
"Abang maunya Aira jawab apa?" Tanya Aira dengan meninggikan suaranya juga, tak kalah dengan Evan membuat sang suami mengusap raut wajahnya kasar.
"Aira sudah bilang bahwa itu hanya masa lalu dan sekarang kami hanya sebatas teman saja. Puas?!" jawab Aira masih dengan menatap Evan tanpa rasa takut.
"Terserah" balas Aira ketus.
Ting tong
Suara bel pintu apartemen.
"Ceklek" Aira membuka pintu dan menerima makanan yang tadi dipesannya, yaitu rujak seperti yang pernah dibelikan Reza.
Aira membuka rujaknya dan memindahkannya ke dalam piring, Evan memperhatikan apa yang dipegang istrinya.
"Dari siapa, kiriman dari mantan lagi?" Tanya Evan dingin.
"Bukan, Aira pesan sendiri tadi" jawab Aira ketus tanpa menatqp suaminya.
"Bilang saja dari mantan, susah amat" kata Evan ketus kemudian meninggalkan Aira yang berada di meja makan.
Aira makan sendiri di meja makan sambil meneteskan airmatanya, bumil ini begitu sensitif dan hatinya sakit dengan ucapan suaminya.
"Apa salah Aira bang, itu bang Haikal yang ngajak jalan kesana bukan Aira ingin nostalgia" gumam Aira meninggalkan rujaknya di atas meja makan yang baru makan sesendok saja, karena Aira jadi tidak berselera makan.
__ADS_1
Aira duduk di balkon apartemennya menatap jauh ke depan sambil menangis. Aira meraih ponselnya dan menghubungi Nuri untuk menjemputnya.
Ting tong..
Evan membuka pintu lebih dulu sebelum Aira sampai di pintu.
"Ada apa Nuri?" Tanya Evan heran.
"Maaf tuan, nyonya minta dijemput untuk diantarkan ke rumah tuan Raka" jawab Nuri.
Evan menatap Aira yang sudah membawa tas ransel kecilnya hendak keluar.
"Tidak Nur, sekarang pulanglah biar nanti saya yang akan mengantarkannya" jawab Evan.
Nuri pamit undur diri, kemudian Evan menutup pintu apartemenya.
"Jadi begini caramu menyelesaikan sebuah masalah. Selalu pergi dari rumah dan meninggalkan suami." Kata Evan menatap Aira.
"Kenapa kamu seperti anak kecil Aira, kamu berpikir seperti anak-anak yang lari dari masalah" kata Evan.
"Aira ke rumah papa bukan untuk menghindari masalah, tapi Aira memang ingin istirahat disana" jawab Aira.
"Ingin istirahat dengan janjian sama Reza disana kan" kata Evan dingin menatap tajam Aira.
"Kenapa sih selalu disangkutkan dengan kak Reza?" Protes Aira menatap Evan.
"Kalau kamu mau selingkuh dengan Reza, aku juga bisa melakukannya dengan wanita lain. Jangan kamu menyesal nantinya" kata Evan kemudian masuk ke kamarnya.
"Aku tidak pernah selingkuh dengan kak Reza" teriak Aira kemudian duduk bersandar di sofa.
"Lakukanlah apa yang mau kamu lakukan. Kamu yang akan menyesal bang, jika kamu punya niat untuk selingkuh dengan perempuan lain" gumam Aira.
Aira memejamkan matanya dengan menyandarkan badannya di sandaran sofa hingga tertidur dengan posisi duduk di sofa.
Evan yang masih diselimuti rasa cemburu, pada saat keluar dari kamar melihat istrinya tertidur di sofa tidak memindahkannya ke dalam kamar.
Evan makan siang di meja makan dengan memesan makannya melalui aplikasi online untuk dirinya dan Aira. Dan Evan melihat di meja makan ada rujak yang masih utuh.
"Berarti tadi Aira tidak jadi makan rujaknya" batin Evan melihat rujaknya masih utuh di atas meja makan. Sebenarnya Evan ga tega dengan Aira yang belum makan, tapi karena hatinya masih tertutup dengan cemburu, maka membiarkan rujak itu berada diatas meja tanpa membangunkan istrinya untuk makan.
****
SELAMAT TAHUN BARU 2022
Semoga tahun baru membawa berkah buat kita semua...
Semoga Author dapat membuat cerita dan imajinasi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
__ADS_1
aamiin...
Terima kasih atas masukan, saran dan semangat dari kalian semua buat author 😘