
"Ayo kita pulang sekarang" ajak Evandro.
"Yuk bang" jawab Anggi.
Evan keluar dari ruangannya bersama kedua gadis cantik. Banyak mata memandang ke Evan. Para karyawan yang tidak mengetahui siapa Anggi, banyak salah mengartikan saat melihat Anggi bergelayut manja pada abangnya.
Sedangkan jemari tangan Evan menggenggam jemari tangan Aira.
Lely yang melihat Evan selalu menggenggam jemari tangan Aira dari awal mereka masuk ke gedung kantor ini merasa bahwa Evan memang sangat mencintai Aira.
Memang selama ini banyak perempuan yang datang ke kantor Evan, tetapi baru kali ini Evan datang bersama dengan seorang perempuan dengan tangan yang selalu digenggam, seolah takut dilepaskan.
"Suryo, kamu tahu ga hubungan Aira dan kak Evan katanya sudah mau menikah" kata Lely setelah Evan dan kedua gadis cantik itu turun.
"Iya, sabtu besok mereka akan tunangan" kata Suryo.
"Hah serius, pantas saja pak Evan selalu menggenggam tangan Aira" kata Lely.
"Dan kamu akan kaget lagi jika kamu tahu siapa dia" kata Suryo.
"Memangnya siapa Aira?" Tanya Lely penasaran.
"Nanti saja kamu lihat sendiri saat mereka tunangan" kata Suryo dengan menaikan kedua alisnya.
"Mungkin kalau kak Evan itu bukan sepupuku, aku sudah pasti akan mengejarnya." Kata Lely.
"Untung dia sepupumu, makanya cukup melihatku saja kamu. Jangan melihat ke Evan" kata Suryo terkekeh, Lely tertawa.
💥 Apartemen
Sampai di apartemen, Anggi langsung maauk ke kamar bersama Aira dengan membawa tas baju Anggi. Aira langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan badan.
Evan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dari keringat yang seharian menempel di badan. Selesai mandi, Evan duduk di sofa depan tv sambil menyalakan televisi.
Aira selesai mandi dan sudah berganti dengan piyamanya, kemudian keluar kamar sambil membawa laptopnya menuju meja makan.
"Apakah ada tugas harus diselesaikan sekarang?" Tanya Evan .
__ADS_1
"Iya bang karena harus segera dikirim ke dosennya melalui email" jawab Aira.
Aira serius mengerjakan tugas kampusnya.
"Kak Aita, ponsel dari tadi rame suaranya. Sepertinya banyak notifikasi masuk deh" kata Aira yang baru keluar dari kamarnya.
"O gitu, mungkin Rio kalau ga Vina deh" jawab Aira kemudian berdiri mengambil ponselnya.
Anggi duduk di sofa disebelah Evan dan ikut menonton acara televisi.
"Bang Anggi hanya membawa baju untuk hari ini saja ya" kata Anggi yang didengar Aira yang sudah kembali duduk di depan laptopnya sambil membuka ponselnya.
"Kenapa cuma sehari Anggi?" Tanya Aira.
"Karena besok Aira ada belajar kelompok sore harinya sama teman di rumah kak" jawab Anggi.
"Oh ya sudah gapapa" jawab Aira.
"Berarti besok Aira dan Anggi biar dijemput sama sopir kantor saja, nanti biar dia mengantar Anggi dulu pulang baru mengantar Aira ke kantor abang" kata Evan.
"Nanti kamu disini sendiri sendirian Aira" kata Evan.
"Tidak mengapa kak, Aira biasanya kalau di rumah dulu juga suka sendiri kok waktu masih pulang dengan Rio" kata Aira.
"Mungkin Anggi juga pulangnya sama kak Rio bang" jawab Anggi.
"Eh seperti nya sudah ada yang jadian deh ini" Aira menggoda Anggi.
"Anggi pulang sama Rio, ya sudah kalau begitu Aira besok abang jemput saja ya sekalian temani abang makan siang" kata Evan.
"Memang abang ga ada rapat?" Tanya Aira
"Ada tapi masih jam setelah makan siang dan itupun juga di kantor dengan beberapa karyawan abang" jawab Evan.
Aira yang sedang membuka ponselnya karena ada pesan masuk banyak. Termasuk ada dari Lukas dan beberapa temannya.
Aira membalas pesan yang dari Vina dan Rio yang sedang membahas masalah tugasnya.
__ADS_1
Aira sengaja tidak membuka pesan dari Lukas karena dirinya masih mau menyelesaikan tugasnya agar pikirannya tidak bercabang dan dapat fokus.
Ternyata Aira tetap saja kepikiran dengan pesan yang masuk dari Lukas. Ada banyak pesan masuk dari Lukas sejak sore saat Aira tertidur di kantor Evan.
Evan melihat perubahan di raut muka Aira saat membaca pesan di ponselnya.
"Kenapa ga segera diselesaikan tugasnya, justru malah sibuk dengan melihat ke ponsel Aira?" Tanya Evan.
"Hah ah iya lupa" jawab Aira kemudian menutup ponselnya dan mencoba fokus kembali pada tugasnya. Evan tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Aira.
Evan ke dapur mengambil air putih dan camilan, kemudian ikut duduk disebelah Aira. Ada pesan Lukas yang mengganggu pikiran Aira. Dimana Lukas selalu berkata bahwa Lukas yakin antara Lukas dan Aira masih saling mencintai. Dan Lukas juva mengatakan bahwa Aira tidak mungkin mencintai Evan saat ini dan Lukas juga meminta agar Aira tidak menerima pinangan dari Evan.
Memang Aira masih belum mampu untuk melupakan Lukas, tapi sebenarnya dengan kedekatannya dengan Evan ini membuat Aira sedikit banyak dapat cepat melupakan Lukas yang mungkin tanpa Aira sadari.
"Apakah ada yang mau abang bantu?" Tanya Evan.
Aira melihat Evan, kemudian menggelengkan kepalanya dan berusaha fokus kembali pada laptopnya. Tapi tanpa disadari justru memorinya kembali ke masa saat masih bersama Lukas dulu. Tanpa sadar airmata Aira menetes dan membuat Aira kaget, kemudian langsung menghapusnya.
Anggi melihat Aira dan Evan terlihat serius bicara, langsung masuk ke kamar untuk tidur lebih dulu karena memang sudah mengantuk.
Evan memutar badan Aira agar menghadap padanya. Aira menatap Evan yang juga menatapnya.
"Aira ceritakanlah ke abang jika kamu ada masalah, jangan dipendam sendiri." Kata Evan. Aira hanya diam memandang ke Evan.
"Aira ga tahu apa yang harus Aira ceritakan bang, Aira hanya bingung bagaimana harus menghadapinya" kata Aira yang kemudian dipeluk oleh Evan.
"Apapun masalahnya, abang akan membantu menghadapinya Aira. Berjanjilah untuk kita dapat saling terbuka dan jujur mulai hari ini" kata Evan menatap Aira.
Aira membuka ponselnya dan menunjukkan ke Evan kiriman pesan dari Lukas. Evan membacanya kemudian menatap Aira dalam.
"Abang tahu kalau Aira memang masih sulit untuk melupakan dan menghapus cinta yang pernah ada. Tapi dengan adanya kita dapat untuk saling terbuka dan jujur, abang yakin semua itu akan hilang dengan sendirinya." Kata Evan walaupun ada rasa sesak karena cemburu saat membaca pesan dari Lukas, dimana memang cinta Lukas terlihat masih besar untuk Aira.
"Tenang saja sayang, ada abang di sisimu yang akan selalu melindungimu. Dan ingan sebentar lagi kita juga akan menikah dan dia juga akan menikah. Jadi kalian akan punya kehidupan masing-masing." Kata Evan.
"Tapi kenapa dia bilang akan menghalangi pernikahan kita bang. Bahkan dia bisa-bisanya menyuruhku untuk menunggunya." Kata Aira.
"Aira percaya kan dengan bang Evan, jadi Aira tenang saja, pernikahan kita akan tetap berlangsung dan semoga semuanya berjalan dengan lancar." Kata Evan
__ADS_1