Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 158. Dimana kita bang....


__ADS_3

💥 Apartemen


Evan sejak dari es buah bang Faris, tidak kembali lagi ke kantornya melainkan mencari keberadaan sang istri yang pergi dengan menggunakan taksi onlinenya. Evan menghubungi Nuri yang ada di butik Aira untuk mananyakan apakah Aira sudah berada di butiknya. Namun jawabannya ternyata Aira tidak berada di butik.


Evan frustrasi mencari keberadaan sang istri yang akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


"Sialan, kenapa model itu harus datang sih. Sedangkan gue ga ada sedikitpun punya perasaan padanya sejak dulu. Tapi kenapa harus Aira yang melihat kejadian yang tak kusangka akan terjadi." Gumam Evan di apartemennya.


"Gue ga akan datang waktu pemotretan dengan model itu, biar Suryo saja. Lagian untuk apa ada gue disana segala" pikir Evan.


"Aira sayang, dimana kamu. Tolong segera kembali sayang, abang kawatir sama kalian berdua" kata Evan menatap foto istrinya yang ada di layar ponselnya.


Evan mandi setelah melihat jam di dinding yang menunjuk diangka 5 sore.


"Dimana kamu sekarang sayang, tolong jangan pergi dari abang seperti dulu." Kata Evan kawatir.


Nuri yang menunggu di butik sudah disuruh pulang oleh nyonya Evan sejak jam 3 sore dan Aira hanya berpesan untuk minta dibelikan rujak dan dimasukkan ke dalam kulkas. Dan Aira kembali mematikan ponselnya agar tidak dihubungi oleh sang suami.


"Tok tok tok"


"Ceklek"


"Nuri, bawa apa itu?" Tanya Evan kaget karena tidak melihat istrinya bersama Nuri.


"Dimana nyonyamu?" Tanya Evan ketus.


"Nyonya katanya akan pulang sendiri nanti tuan, tadi hanya pesan minta untuk dibelikan rujak saja dan disuruh memasukkannya ke dalam kulkas.


"Masukkan saja, nyonya telpon kamu jam berapa dan pergi kemana dia?" Tanya Evan


"Saya kurang tahu tuan, karena nyonya tidak mau mengatakannya. Tadi nyonya hanya menghubungi Nuri sebentar kemudian ponselnya dimatikan lagi" kata Nuri membuat Evan emosi.


"Dan besok lagi jangan biarkan nyonya makan sendiri, kamu harus ikut masuk dan makan di dalam juga agar tidak terjadi seperti tadi siang" kata Evan tegas.


"Baik tuan, maaf kan saya tuan atas keteledoran saya menjaga nyonya" kata Evan.


"Sudah sekarang pulanglah" kata Evan.


Evan mencoba menghubungi ponsel Aira, namun hanya ada jawaban dari operator.


Sejam setelah Nuri mengantarkan rujak ke apartemen, Aira datang tanpa menyapa sang suami.

__ADS_1


"Sayang dari mana saja kamu tadi siang?" Tanya Evan.


"Dari janjian dengan teman" jawab Aira sambil berjalan masuk ke kamar kemudian masuk kamar mandi setelah meletakkan tasnya.


"Kita makan diluar yuk sayang, abang ingin ajak kamu ke tempat makan di atas sana" ajak Evan setelah Aira selesai mandi.


"Aira cepek bang, abang keluar sendiri saja" jawab Aira sambil mendudukkan badannya di atas kursi meja makan.


"Kamu mau makan apa sayang, biar abang pesankan ya buat makan malam kita" tawar Evan.


"Ga perlu bang, Aira hanya mau makan rujak ini saja sudah cukup kenyang" jawab Aira sambil memakan rujaknya.


"Sayang jangan begitu dong, abang kan sudah minta maaf" kata Evan memelas mendekati sang istri.


"Abang pesan saja buat abang sendiri, o iya tadi sepertinya ayam bakar yang Nuri beli siang tadi juga masih ada kok kalau abang mau silahkan makan saja" kata Aira dingin sambil memakan rujak buahnya.


Evan hanya diam menatap istrinya tanpa bersuara lagi. Aira mendongak menatap suaminya yang tak membalas ucapannya.


"Abang hanya ingin makan sama-sama kamu sayang, abang ga tertarik untuk makan sendiri" kata Evan jujur.


"Bukannya kalau abang makan disini juga artinya kita sudah makan bersama?" Tanya Aira dingin.


"Maaf bang Aira lagi lelah dan ingin istirahat" kata Aira menolak ajakan sang suami.


"Apakah kamu ga ingin memenuhi keinginan abang, yang siapa tahu ini keinginan anak kita yank?" Tanya Evan mencoba meminta pengertian Aira.


"Kamu bisa tidur selama diperjalanan, nanti akan abang bangunkan kalau sudah sampai lokasi" ajak Evan.


Aira diam sejenak setelah Evan bicara menyangkut keinginan sang buah hatinya yang masih didalam kandungannya.


"Apakah itu benar keinginan anak kita bang, karena setahu Aira jika alasannya Aira sudah lelah abang ga akan pernah memaksaku untuk pergi, tapi ini seolah abang ga ingin pergi tanpa ada Aira" batin Aira sebenarnya kasihan melihat suaminya sejak siang tadi selalu merengek meminta maaf dan merasa bersalah.


"Baiklah tapi Aira ga makan disana, karena sudah kenyang" jawab Aira mengalah.


"Iya gapapa, hanya menemani abang saja ya sayang okey" jawab Evan bahagia istrinya mau diajak pergi.


Evan langsung menghubungi restoran yang akan dituju sambil menunggu sang istri berdandan.


"Sudah siap? Ayo kita berangkat" ajak Evan memandang istrinya tanpa berkedip, kemudian memeluk pinggang sang istri.


"Tolong lepaskan tangan abang, biar Aira jalan sendiri bang" kata Aira menolak.

__ADS_1


"Kalau begitu biarkan abang menggenggam jemarimu sayang. Abang ga bisa lihat istri abang jalan tanpa dipegangi abang" kata Evan. Memang benar, Evan selalu menggandeng jemari tangan sang istri jika tidak memeluk atau merangkul pundak istrinya. Sejak keduanya tunangan tak sekalipun Evan melepas istrinya jalan disampingnya tanpa dipeganginya.


Aira membuang nafasnya berat tanpa berkata-kata dan hanya mendiamkan suaminya menggenggam jemari tangannya.


Evan membukakan pintu mobil untuk sang istri baru masuk ke kursi kemudi.


"Kita mau kemana bang?" Tanya Aira.


"Nanti kamu akan tahu sayang, kita pernah makan disana dulu" jawab Evan


"Tidurlah jika kamu lelah dan mengantuk, nanti akan abang bangunkan sayang" kata Evan lembut.


Aira diam sambil memejamkan matanya yang sudah terasa mengantuk dan lelah.


Evan menggenggam jemari tangan sang istri yang sudah tertidur nyenyak dan menciuminya.


"Maafkan abang sayang, abang sangat mencintai kamu dengan baby kita. Tidak akan ada wanita lain yang ada dihati ku selain kamu sayang" kata Evan.


Evan tidak sanggup hidup sendiri tanpa ada istri dan calon anaknya. Dan Evan membayangkan semua itu membuatnya takut jika jauh dari sang istri.


💥 Restoran Taman


Sesampainya di lokasi restoran taman tempat bersejarah bagi pasangan ini, trmpat dimana dulu keduanya melangsungkan pernikahan dan sekaligus tempat dimana Aira dan Lukas memutuskan hubungannya.  Evan membangunkan istrinya setelah memarkirkan mobilnya.


"Sayang, bangun yuk. Kita sudah sampai di lokasi" kata Evan lembut sambil mencium pipi istrinya.


"Emm" Aira mencoba membuka matanya yang begitu terasa berat. Kemudian melihat kesekelilingnya.


"Ini dimana bang, kok banyak lampu dan lilin?" tanya Aira sambil turun dari mobilnya.


"Kita masuk dulu, nanti kamu pasti akan tahu dimana kita sekarang" kata Evan.


Aira melangkah mengikuti kemana suaminya membawanya. Evan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri sambil mengelus perut istrinya.


Setelah masuk, Aira dikejutkan dengan suasana yang romantis di sebuah taman dengan bangku dan meja untuk keduanya duduk. Disekelilingnya ada lilin yang menyala membentuk love.


Evan menggeser kursi untuk sang istri duduk.


"Ada acara apa ini bang?" Tanya Aira. Evan hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang istri.


"Seingat Aira, kita ga ada yang sedang ulang tahun hari ini" kata Aira masih dengan raut muka heran.

__ADS_1


__ADS_2