
"Ehemm" Evan berdehem sambil meletakkan sayuran ke dalam troli.
"Oh ya bang, kenalin ini kak Fahmi kakak kelas Aira sewaktu sma dulu" kata Aira.
"Evan"
"Fahmi"
Mereka bersalaman dengan menyebutkan namanya masing-maaing.
"Itu buahnya ditimbang dulu sayang" kata Evan.
"Maaf ya kak, Aira kesana dulu" kata Aira.
"Iya silahkan dilanjut" kata Fahmi kemudian meninggalkan Evan dan Aira untuk mengambil plastik buat diisi buah.
"Siapa dia dek?" Tanya Evan sambil melihat ekspresi Aira.
"Di dulu kakak kelas Aira waktu di sma" jawab Evan.
"Mantan ya sekarang?" Tanya Evan lagi.
"Emm enggak sih" jawab Aira.
"Abang gula masih ada nggak ya?" Tanya Aira mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa mengalihkan pembicaraan sayang" tanya Evan lembut namun tegas. Ada rasa cemburu melihat kedekatan Aira dengan Fahmi.
"Aira hanya nanya sama abang melihat disini ada gula aja bang" kata Aira sambil mengambil gula.
"Abang mau ambil kopi ga?" Tanya Aira.
"Terserah kamu aja" jawab Evan.
Aira menatap Evan mendengar jawaban Evan yang kesannya acuh dan dingin.
"Kan Aira ga tahu abang minumnya kopi apa" kata Aira. Kemudian Evan mengambil kopi dan diletakkan ke dalam troli kemudian berjalan duluan meninggalkan Aira menuju ke tempat camilan yang diaukai Aira.
"Abang marah sama Aira?" Tanya Aira.
"Tuh mau ambil camilan yang mana dek" tanya Evan kemudian Evan juga mengambil beberapa camilan.
"Yuk bang kita sudahin aja dan pulang sekarang" ajak Aira.
"Kamu udah selesai yang mau dibelanjai?" Tanya Evan yang tahu Aira mulai ngambek dengan sikap Evan yang seolah acuh.
__ADS_1
"Sudah" jawab Aira singkat dengan lembut. Kemudian jalan menuju antrian kasir.
Evan melihat ada es krim yang sebox isi 5 biji di masukkan ke dalam troli buat di apartemen jika nanti ada Anggi dan Aira menurut perkiraan Evan seusia mereka pasti suka.
💥 Apartemen
Sampai di apartemen, Aira turun dari mobil dan langsung mengambil barangnya untuk di bawa ke atas.
Evan juga membawa banyak barang menuju ke atas dengan menggunakan troli.
"Itu barangmu letakkan saja di troli ini sayang, jadi kamu ga perlu bawa berat" kata Evan.
"Gapapa biar ini Aira bawa sendiri saja bang" jawab Aira tanpa mau melihat ke Evan.
"Ceklek" Aira membuka pintu apartemen Aira.
Aira menuju kamarnya untuk meletakkan buku dan bajunya, kemudian mandi sekalian. Begitu pun dengan Evan yang juga meletakkan es krimnya terlebih dulu baru ditinggal mandi karena sudah ga tahan dengan keringat yang menempel.
Selesai mandi Evan keluar dari kamar dan melihat Aira sibuk di depan kulkas sedang menata hasil belanjaan tadi. Evan mendekati Aira tanpa Aira tahu akan keberadaan Evan.
Evan tahu Aira marah dengan Evan karena merasa diacuhkan tadi. Aira mengambil beberapa sayur dan daging, kemudian mulai memasak.
Aira menikmati memasaknya tanpa menghiraukan suara dari Evan yang sedang membuat kopi sendiri. Ya Evan memang sengaja membuat kopi sendiri karena memang sudah biasa sendiri. Kemudian Aira menghidangkan makanannya di meja makan.
"Abang ga diambilin nasi nih?" Tanya Evan sambil tersenyum.
"Abang ambil sendiri saja ya, Aira ga tahu seberapa banyak makannya bang Evan." Jawab Aira santai.
"Tapi kalau di rumah mama suka mengambilkan makan dulu buat papa baru mama ambil buat dirinya sendiri" kata Evan
"Di rumah teman Aira mamanya juga begitu, tapi kalau Aira di rumah kan ga ada mama" kata Aira. Evan kaget dengan kalimat terakhir yang diucapkan Aira.
"Maaf sayang bukan maksud bang Evan membuat Aira mengingat almarhumah mama, tapi abang hanya ingin Aira mengambilkan makanan buat abang" kata Evan.
"Iya gapapa kok bang, Aira juga mengerti maksud abang." Kata Aira kemudian sesegara mungkin mengakhiri makan malamnya untuk segera kembali masuk ke kamar. Evan melihat Aira selesai makan langsung berjalan masuk ke dalam kamar.
"Aira" panggil Evan.
"Iya bang kenapa?" Tanya Aira sambil menengok ke arah Evan.
"Bolehkah abang minta Aira menemani abang makan dulu sampai selesai?" Pinta Evan.
"Maaf bang, Aira mau mengerjakan tugas dulu yang harus segera Aira kirim melalui email" jawab Aira.
"Kerjain aja disini, nanti abang bantu sayang" kata Evan.
__ADS_1
"Terima kasih bang tapi biar Aira kerjakan sendiri saja" kata Aira memaksakan tersenyum ke Evan. Kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Aira duduk di ranjang bersandar pada sandaran ranjang dengan memegang laptopnya. Namun yang dipandangnya foto dirinya saat berada digendongan sang mama.
"Mama Aira rindu mama, kapan kita akan bertemu lagi ma" kata Aira sambil meneteskan airmatanya.
"Aira sayang mama, tapi kenapa mama secepat itu ninggalin Aira ma" Aira mengusap wajah orang yang pernah melahirkannya melalui foto yang ada di laptopnya. Evan berdiri di depan pintu kamar Aira mendengar semua rintihan Aira yang memanggil mamanya.
Evan merasa sangat bersalah dengan apa yang tadi dia ucapkan. Yang awalnya hanya untuk menggoda Aira agar tidak lagi marah padanya, ternyata membuat Aira jadi menangis.
"Tok tok tok"
"Aira boleh abang masuk?" Tanya Evan.
Aira langsung mengusap air matanya.
"Masuklah bang, tidak dikunci pintunya" kata Aira dari dalam kamar.
"Sayang, abang bawakan kamu potongan apel buat teman menberjakan tugas kata Evan duduk di pinggiran ranjang Aira.
"Iya bang terima kasih banyak sudah mau bawain buah untuk Aira." Kata Aira tersenyum dengan suara yang masih terdengar habis menangis.
"Maaf abang ya sayang, abang tahu Aira kangen sama mama. Abang tadi sebenarnya bermaksud bercanda dengan Aira, tapi ternyata abang salah" kata Evan meminta maaf.
"Tidak apa-apa bang. Memang kebetulan Aira lagi rindu dengan mama" kata Aira yang kembali meneteskan airmatanya yang sudah berusaha untuk ditahannya agar tidak menetes.
"Sekarang kerjakan dulu tugasmu ya, baru setelah itu istirahatlah. Karena besok Aira akan kuliah pagi kan?" Tanya Evan.
"Iya bang, terima kasih" jawab Aira.
"O iya sebentar abang ambil dulu ya baju yang tadi di loundry udah diantarkan kesini baru saja" kata Evan kemudian mengambil loundryan punya Aira dan memberikannya pada Aira.
"Terima kasih ya bang" kata Aira.
"Iya sama-sama sayang" jawab Evan kemudian mencium kening Aira.
"O iya Aira, apakah boleh abang tahu aiapa tadi Fahmi?" Tanya Wvan berusaha mengalihkan pikiran Aira tentang mamanya yang sekaligja membiat Evan penasaran siap Fahmi dimasa lalu Aira.
"Kak Fahmi itu dulu kakak kelas Aira bang sewaktu di bangku sekolah menengah" jawab Aira.
"Hanya sekedar kakak kelas saja atau kakak kelas dan mantan?" Tanya Evan.
"Mantan Aira hanya kak Lukas" jawab Aira.
"Tapi yang abang dengar sepertinya ada yang pernah menolak deh saat itu atau abang salah dengar ya" kata Evan.
__ADS_1