Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 127. Memilih Rio


__ADS_3

Evan masuk ke dalam ruang kamarnya sendiri untuk membuka kiriman video cctv dari Rio. Evan mendengarkan dengan seksama apa yang diobrolkan Aira. Evan kaget Aira begitu terbuka dengan Rio dan yang membuat Evan lebih kaget lagi kepercayaan Aira ke Evan menurun dan ternyata benar dugaan Evan bahwa Aira masih menyimpan rasa cintanya pada Reza.


"Maafkan abang sayang, tapi jujur abang tidak bermaksud untuk menduakanmu dengan Rani." Gumam Evan.


"Berarti memang aku harus lebih bekerja keras mengembalikan kepercayaan Aira dan membuat Aira benar-benar melupakan cintanya pada Reza dan masa lalunya.


"Apakah karena perpisahan mereka tidak terjadi sebuah konflik, maka cinta itu masih sama-sama besar diantara mereka?" Tanya Evan pelan pada dirinya sendiri.


Ada rasa sakit di dalam hati Evan saat mendengar bahwa istrinya masih mencintai Reza.


Evan masih terngiang di pikirannya pada pertanyaan Rio ke istrinya.


"Seandainya loe ketemu dengan kak Reza pada saat loe sebelum menikah dengan bang Evan, apakah loe akan putusin bang Evan dan kembali dengan kak Reza?" Tanya Rio


"Entahlah Yo, gue ga bisa jawab" jawab Aira


"Apakah jawaban yang kamu berikan pada Rio itu tanda jika kamu akan memilih Rio sayang seandainya kita belum menikah?" Gumam Evandro ingin tahu.


"Sampai kapanpun abang ga akan pernah lepasin kamu apapun yang terjadi sayang, apalagi sekarang sudah ada buah hati kita di dalam rahimmu" kata Evan bertekat untuk bisa membuat Aira kembali percaya dan mencintainya. Bahkan Evan berniat bahwa yang ada di dalam hatinya Aira hanya ada Evan dan anak-anak mereka berdua.


Evan keluar dari ruangannya tidak melihat adanya Aira. Evan mencari keluar ruangan, ternyata Aira berada di pantry untuk meminta dibuatin minuman.


Aira kembali ke ruangan sang suami dan duduk di mejanya lagi. Evan memandang sang istri dengan masih terbayang akan percakapan Aira dengan sahabatnya di video kiriman Rio.


"Sayang kalau lelah bisa istirahat di dalam kamar itu" kata Evan menunjukkan kamarnya untuk sang istri istirahat.


"Tidak bang, Aira disini aja sambil mematikan laptop" jawab Aira.


"Kamu masih marah sama abang?" Tanya Evan menatap sang istri serius.


Aira menengok dan menatap suaminya dengan mengkerutkan dahinya bingung.


"Maksud abang apa?" Tanya Aira.


"Apa kamu marah dan kecewa dengan abang setelah kejadian beberapa hari yang lalu?" Tanya Evan.


"Entahlah bang, Aira mencoba untuk ga mau mikir itu lagi" jawab Aira kemudian pandangannya kembali manatap layar laptopnya.

__ADS_1


"Apakah karena kamu cemburu dengan Rani?" Tanya Evan.


"Seperti yang tadi Aira ucapkan di restoran bang. Istri mana yang ga cemburu bila mendapati suaminya dengan perempuan lain, apalagi sampai berciuman" kata Aira menatap Evan tajam.


"Sama halnya seorang suami, suami mana yang ga cemburu jika istrinya juga ada pria lain yang masih bertahta di hatinya" kata Evan yang sudah melihat rekaman cctv yang dikirimkan Rio pada Evan.


"Maksud abang apa, Aira tidak pernah selingkuh dan bermesraan dengan pria lain" kata Aira.


"Iya tidak pernah memang, tapi hatinya masih terbagi antara suami dan pria lain" kata Evan membuat Aira menatap Evan kaget.


"Apakah abang tahu kalau gue masih mencintai kak Reza. Tapi jujur itu memang masih sulit untuk kubuang walaupun sedikit-sedikit rasa itu mulai pudar" batin Aira menatap kembali ke layar laptopnya.


Evan melihat perubahan raut muka Aira dan pandangan Aira yang kemudian hanya diam tanpa mau bersuara.


Evan mendekati Aira dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, abang percaya kamu hanya milik abang dan milik anak-anak kita nanti. Dan abang juga ingin di dalam hatimu hanya memiliki abang dan anak-anak kita tanpa ada nama lain yang menyelip diantaranya" bisik Evan kemudian mencium pucuk kepala Aira lama.


Aira meneteskan air matanya haru.


"Abang berjanji akan selalu terbuka sama kamu sayang agar kamu tidak lagi kecewa dan curiga dengan abang" kata Evan.


"Maafkan Aira bang jika sampai hari ini masih ada sisa cinta pada yang lain, tapi Aira sudah berusaha untuk mengikisnya" jawab Aira, Evan tersenyum dengan menganggukkan kepalanya dan jempolnya mengusap air mata sang istri.


"Kita sama-sama belajar untuk saling terbuka dan saling memahami setiap permasalahan yang kita hadapi ya sayang" kata Evan kemudian memeluk sang istri dan mencium bibir istrinya.


Di luar ruangan, sekertaris Evan akan memberikan berkas pada bosnya jadi mengurungkan niatnya setelah melihat Evan sedang bermesraan dengan istrinya dari celah kaca pembatas ruangan yang warna kacanya agak terang.


"Sudah kamu berikan ke bos Lel berkasnya, soalnya nanti malam pada saat meeting mau kita bawa?" Tanya Suryo.


"Belum, tadi bos masih bermesraan dengan istrinya" jawab Lely.


"Sekarang paling udah selesai, kamu ketuk aja pintunya kemudian letakkan di atas meja sayang" kata Suryo.


"Idih kalau butuh panggil-panggil sayang, kalau ga butuh dicuekin" kata Lely.


"Siapa juga yang akan nyuekin kamu?" Tanya Suryo terkekeh.

__ADS_1


"Mau disayang sayang juga disini? Siapa takut, paling kita berdua kena marah bos" tantang Suryo. Lely melotot kaget dengan tantangan Suryo.


"Atau mau ke ruanganku, gue siap loh Lel" kata Suryo.


"Gue yang ogah" jawab Lely.


"Ogah kan awalnya, sekali kena sentuhan akan minta lagi kamu nanti" kata Suryo terkeker dan mengedipkan sebelah matanya.


"Gue mau ke ruangan bos dari pada ngobrol sama kamu Sur" kata Lely kemudian membalikkan badannya menuju ke ruangan Evan.


Tok tok tok


"Ya masuk"


"Maaf tuan, ini ada berkas yang harus di tandatangani" kata Lely dengan memberikan berkasnya ke Evan.


"Hai kak Lely apa kabar?" Sapa Aira.


"Hai kak Aira, Lely baik, kakak sendiri bagaimana?" Tanya Lely.


"Baik juga" jawab Aira.


"Kakak setiap hari akan kesini lagi kan, biar Lely ada teman di kantor kalau bos Lely dan asistennya sedang meeting?" Tanya Lely.


"Entahlah kak, Aira ga tahu nanti gimana" jawab Aira.


"Iya nanti biar Aira setiap siang ke kantor setelah dari kampusnya, tapi kamu harus sediakan makan siang buat istri dan anakku Lel, ya nggak sayang" kata Evan memandang Aira sambil tersenyum.


"Siap bos, pasti Lely sediakan maunya kak Aira apa. Eh iya ada rujak enak loh kak di depan itu. Kak Aira mau ga biar Lely beliin?" Tanya Lely teringat kalau orang hamil itu biasanya suka makan rujak.


"Boleh, tapi rujak serut kan kak? Aira mau yang pedes ya dan di kasih es batu biar dingin" kata Aira. Kemudian Evan memberikan selembaran uang merah ke Lely untuk membelinya.


"Lel, abang juga mau tapi ga pedas ya" kata Evan menambahkan.


"Siap bos" jawab Lely kemudian keluar ruangannya.


"Abang ikutan ngidam ya?" Tanya Lely.

__ADS_1


"Abang juga suka dengan buah, baik dibuat rujak, jus atau asinan semua abang suka" kata Evan.


"Ah iya asinan enak deh" kata Aira.


__ADS_2