
💥 Apartemen
Setelah Evan membuka pintu apartemennya Aira dipersilahkan masuk dulu.
"Maaf ya kalau berantakan, lama abang ga kesini. Hanya sesekali aja kalau terlalu capek untuk pulang baru abang akan tidur disini" kata Evan.
"Iya gapapa bang, Aira juga minta maaf kalau Aira jadi membuat abang repot" kata Aira sambil mendudukan badannya di sofa.
"Abang ga merasa direpotin Aira, abang senang kalau bisa bantu Aira" kata Evan.
"Nih sekarang Aira ganti baju dulu biar ga gerah, itu ada kamar di sebelah kamar abang" kata Evan sambil memberikan paperbag isi baju yang tadi dibeli.
"Terima kasih bang, Aira mandi dulu ya" kata Aira.
"Iya boleh, disana sudah ada alat mandinya Anggi, abang juga mau membersihkan badan dulu gerah rasanya" kata Evan.
Aira menuju kamar yang ditunjuki Evan.
Selesai mandi dan berganti piyama, Aira duduk diam di kursi balkon dekat ruang tamu. Pandangan jauh kedepan dengan memikirkan langkah apa yang akan diambilnya nanti untuk hubungannya dengan Lukas.
Ada kegetiran yang terasa dihati jika harus putus dengan Lukas, tapi tidak mungkin untuk dipertahankan jika benar cewek itu ternyata mantannya yang masih mengharapkan Lukas. Bahkan mungkin kedua masih saling mencintai.
Evandro selesai dengan membersihkan tubuhnya dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian di rumah yaitu celana pendek dan kaos oblong saja langsung keluar mencari Aira.
Evan melihat Aira duduk termenung di balkon langsung di datangi.
"Apa yang kamu pikirkan dek?" Tanya Evan membuat Aira tersadar dari lamunannya.
"Bang apa mungkin ya cewek itu benar mantannya dan mereka balikan, tapi kenapa kak Lukas ga jujur dengan Aira" kata Aira.
"Apakah kamu masih berharap untuk meneruskan hubunganmu dengan Lukas?" Tanya Evan menatap Aira.
Aira langsung menatap Evan mendengar pertanyaan yang Evan lontarkan.
__ADS_1
"Aira juga bingung kak, sebenarnya perpisahan itu menyakitkan. Tapi jika dilanjutkan sepertinya juga tidak mungkin mengingat kami berdua beda kepercayaan" kata Aira dengan air mata yang sudah ditahan tetap aja menetes tanpa permisi.
"Sayang memang perpisahan itu menyakitkan, tapi jika jalan kalian saja sudah berbeda prinsip diteruskan pun akan lebih menyakitkan. Karena jalannya saja sudah berbedakan, terus kapan kalian akan menemukan akhirnya agar bisa sejalan" kata Evan memberi pengertian.
"Jangan sampai sesuatu yang berbeda dari kalian akan menjadikan perpecahan di kemudian hari, lebih baik jalin perbedaan itu menjadi sesuatu yang tidak menimbulkan hal negatif" kata Evan.
"Maksud abang, Aira mendingan putus sama kak Lukas?" Tanya Aira.
"Maafkan abang Aira, mungkin itu jalan terbaik buat kalian putus hubungan sebagai kekasih tapi tetap berlanjut sebagai teman biasa" kata Evan.
"Lagian Lukas mungkin juga akan lebih nyaman jika nantinya dia bersanding dengan yang sejalan, kemanapun bisa bersama termasuk menjalankan ibadahnya. Begitupun dengan Aira" kata Evan dengan memeluk Aira yang terus menangis tanpa bisa menghentikan airmatanya.
"Kenapa menyakitkan sekali ya bang perpisahan itu, cukup buat Aira berpisah dari mama. Aira ga mau lagi berpisah dengan siapapun" kata Aira dengan menangis sesenggukan sambil memeluk Evan menumpahkan segala kesedihan hatinya.
"Aira sayang, Aira dengan mama hanya berjauhan tempat. Tapi di hati Aira, mama masih tertengger dan ga akan pernah pergi sayang. Dan jangan pernah lupa untuk selalu mendoakan mama" kata Evan dengan mencium pucuk rambut Aira.
"Papa sebenarnya juga tidak mengijinkan Aira menjalin hubungan dengan kak Lukas sih bang" kata Aira.
"Terus langkah selanjutnya mau gimana?" Tanya Evandro.
Evan diam menyimak dan mendengarkan Aira bercerita.
"Jadi selama ini Lukas cemburu sama bang Evan, memangnya apa yang pernah abang lakukan hingga buatnya cemburu?" Tanya Evan. Dan Aira menganggukkan kepalanya sambil melepas pelukannya ke Evan.
"Katanya sikap abang ke Aira dan Aira ke abang seperti bukan mencerminkan ga ada hubungan apa-apa. Padahal Aira sering bilang bahwa Aira ke bang Evan itu sama dengan Aira ke bang Haris" jawab Aira.
Evandro membuang nafasnya berat, bingung harus bilang apa ke Aira.
"Seandainya ternyata cewek itu benar mantan Lukas dan cewek itu masih mengharapkan Lukas bagaimana. Maksudnya langkah apa yang mau Aira ambil?" Tanya Evandro.
"Kalau menurut abang, Aira harus bagaimana ya bang?" Tanya Aira meminta pendapat Evan.
"Aira memang semua itu bersangkutan dengan hati untuk perempuan. Kalau tapi untuk laki-laki seperti abang pakenya logika aja." Kata Evan memandang Aira.
__ADS_1
"Apakah Aira harus mengakhiri hubungan Aira maksudnya bang?" Tanya Aira.
"Lebih tegasnya iya, karena jalan kalian jelas berbeda. Dan mungkin Lukas akan lebih nyaman juga jika mendapatkan orang yang bisa sejalan, begitupun Aira" jawab Evan.
"Mungkin memang harus berakhir hubungan kami, Aira sendiri juga sudah capek kalau menghadapi kak Lukas cemburu." kata Aira.
"Dimana selama ini Aira sudah berusaha menjauhi bang Evan, tapi ternyata semakin Aira menjauhi bang Evan semakin membuat Aira rindu dekat dengan abang. Padahal Aira juga takut kalau pacar bang Evan marah sama Aira" kata Aira membuat Evan tersenyum.
"Maafin Aira ya bang kalau abang tersinggung dengan apa yang Aira lakukan" kata Aira.
"Aira sayang, abang tahu kamu menjauhi abang karena Lukas. Dan abang juga tidak punya pacar. Jadi Aira ga perlu kawatir jika ada perempuan yang cemburu sama Aira" kata Evan sambil memegang dagu Aira untuk menatapnya ke Evan.
"Benarkah abang ga punya pacar, sepertinya Aira ga percaya deh" kata Aira. Evandro tersenyum dengan menganggukkan kepanya.
"O ya tadi kamu yang ngechat Rio ya, saat Rio dibilang senyum-senyum sendiri waktu kita di restoran untuk makan malam?" Tanya Evan mengalihkan pembicaraan. Agar dapat menahan gejolak hatinya yang hampir saja mencium bibir Aira. Aira langsung mendongakkan kepalanya menatap Evandro kaget mendengar pertanyaan Evan.
"Kok abang tahu sih, abang cenayang ya" kata Aira membuat Evan tersenyum sambil mengacak-acak pucuk kepala Aira.
"Abang main kira-kira aja sih, bener kan" kata Evan.
"Iya sih memang Rio" kata Aira.
"Memang Rio ngerjain kamu apaan sampe dia senyum-senyum begitu kelihatan puas banget bisa ngerjain" kata Evan.
"Emang itu Rio, kelihatan puas banget bisa bikin Aira kesel sama dia" kata Aira mulai bersemangat ngobrolin Rio.
"Memang ngomongin apaan?" Tanya Evan tersenyum senang melihat Aira semangat.
***
Baca juga karyaku "AWAL EKSKUL"
Tetima kasih telah membaca "BERBEDA JALAN"
__ADS_1
berikan komen, vote, hadiah dan like 😘🙏