Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 68. Segitu posesifnya


__ADS_3

"Tapi Evan itu kelihatannya ga bisa jauh dari istrinya itu nanti." Kata Haris.


"Kan Evan sudah meminta ke Suryo untuk menyediakan 2 bodyguard untuk istrinya, katanya yang satu jadi sopir sekaligus teman kuliah untuk laki-laki dan yang satunya lagi perempuan akan jadi teman kuliahnya." Kata Suryo.


"Hahaha ketakutan dia, awas saja nanti akan kukerjain Evan" kata Haris tertawa mendengar asisten Evan bercerita membuat Suryo ikut tertawa.


"Segitu posesifnya ya bang Evan ke adek" kata Haikal.


"Ya begitulah Evandro kalau ke orang yang dia cintai, walaupun  kelihatannya  mereka baru awal kenal." kata Haris.


"Terus terang Haris sebenarnya udah curiga dengan sikap Evan ke Aira dari awal kami main ke rumah om Darwis itu. Evan langsung terlihat begitu dekat dengan Aira" kata Haris mengingat bagaimana sikap Haris ke Aira, dari cara oandang, senyumnya dana sikapnya.


Karena setahu Haris Evan orang yang tidak mudah dekat dan ramah ke orang lain sekalipun itu saudara. Bahkan pernah Haris melihat Evan ngobrol dengan saudara sepupu saja tidak sedekat dengan Aira dan Anggi.


Di dalam pesawat Aira disuruh Evan untuk tidur agar badannya tidak terlalu capek nantinya.


"Sayang tidur aja, nanti abang bangunin kalau sudah sampai" kata Evandro.


"Nggak bang, Aira mau lihat pemandangan di luar kok" kata Aira menengok ke Evan sebentar dan kembali melihat ke jendela.


Evan hanya memandang istrinya yang melihat ke jendela, kemudian ditinggal memejamkan matanya untuk istirahat sebentar.


Aira melihat suaminya tertidur di pesawat dipandanginya wajah sang suami, kemudian duduk bersandar sambil tangannya mengusili bibir suaminya yang disentuh dengan mengginakan camilan sambil Aira menahan senyumnya.


Suaminya yang merasa ada yang bergerak gerak  dibibirnya, diam dan melirik yang ternyata istrinya sedang keluar usilnya.


Evan diam sesaat untuk tidak bergerak, hanya menahan senyum melihat keusilan istrinya.


"Nanti malam gantian abang yang usilin ya" kata  Evan tiba-tiba membuat Aira kaget kemudian terkekeh pelan.


"Nggak mau, kan tidak baik membalas itu bang" kata Aira.


"Jangan salahin abang kalau nanti malam kamu ga tidur ya" kata Evandro sambil tersenyum memandang istrinya yang menurutnya makin menggemaskan.


Evan membawa kepala Aira untuk bersandar pada lengan Evandro agar bisa ikut istirahat.

__ADS_1


"Berarti kita sampai di villa nanti udah malam dong bang?" Tanya Aira.


"Iya kita sampai villa mungkin deketin petang hari" jawab Evan.


"Yaah kita nggak bisa jalan-jalan dong bang?" Tanya Aira lagi ada nada kecewa.


"Bisa jalannya di sekitar villa saja" jawab Evandro sambil memejamkan matanya.


"Kita jalannya besok saja yank, jadi hari ini kita pake istirahat dulu" kata Evandro menyarankan istrinya agar istirahat  terlebih dulu.


"Yaaah... kirain Aira kita jalan kemana gitu bang" kata Aira.


"Ya nanti kita lihat dulu ya sayang" kata Evandro akhirnya.


"Memang vilanya jauh dari tempat wisata ya bang?" tanya Aira lagi.


"Deket sayang, nanti kamu lihat sendiri deh. Abang yakin Aira pasti suka tempatnya." Kata Evandro sambil menoel hidung istrinya kemudian mencium pucuk kepala Aira.


Aira memainkan game yang ada di ponselnya. Evan hanya mendiamkan istrinya yang sedang bermain game di ponselnya, kemudian Evan memejamkan matanya kembali sambil tangan kirinya mengusap-usap pipi sang istri.


Di dalam kamar sore ini Lukas hanya melihat ponselnya, dalam hatinya ingin mengirimkan pesan ke mantan kekasihnya. Namun Lukas tahu bahwa Aira saat ini pasti sedang bersama suaminya.


"Aira ingin rasanya aku mengirimkan ucapan selamat menempuh hidup baru untukmu, namun hatiku masih belum bisa melepasmu dengan ikhlas." Batin Lukas.


Lukas melihat foto saat dirinya masih bersama Aira dulu. Foto saat mereka sama-sama menjadi panitya mos di kampus setahun yang lalu.


"Aku rindu seperti ini lagi Aira, namun keadaan yang memaksa kita harus berpisah." Kata Lukas dalam hatinya.


"Kakak ga mandi sore?" Tanya Lusy membuyarkan lamunan Lukas.


"Iya, kamu mandi saja dulu" kata Lukas.


"Aku sudah selesai mandi kak, sekarang kakak mandi saja sebelum hari berubah petang" kata Lusy.


Lukas menutup ponsel dan laptopnya, kemudian masuk ke kamar mandi. Lusy melanjutkan menyiapkan pakaian yang akan dibawa untuk bulan madu besok pagi.

__ADS_1


"Kak apa kita perlu pulang dulu saat ini untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa besok, soalnya Lusy tidak membawa baju berenang?" Tanya Lusy setelah suaminya keluar dari kamar mandi.


"Tidak perlu, besok beli saja disana kalau kamu hanya butuh pakaian berenang." Jawab Lukas datar.


Walaupun sikap Lukas ke Lusy dingin, tapi Lukas masih bertanggung jawab dengan semua kebutuhan Lusy.


"Kakak bajunya mana yang mau dibawa biar bisa aku masukkan sekalian ke koper" kata Lusy.


"Tidak perlu, biar nanti kakak saja yang akan menata sendiri. Kamu urusin saja apa yang kamu mau bawa untuk dirimu." Kata Lukas dingin.


Selesai Lusy memasukkan barang-barangnya yang akan dibawa untuk bulan madu, Lusy mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pesan masuk ke ponselnya atau tidak.


Lukas keluar dari kamar untuk melihat suasana di luar, karena hatinya baru bercabang dengan  memikirkan Aira dan juga nasib pernikahannya dikemudian hari.


"Terus terang aku maunya menikah hanya sekali seumur hidupku, tapi dengan keadaan yang seperti ini apakah mungkin akan bertahan seumur hidup?" batin Lukas yang duduk di lobby hotelnya sambil memejamkan matanya.


"Kenapa bayanganmu selalu ada Aira, aku rindu untuk bertemu kamu sayang. Aku rindu dengan keceriaan dan manjamu" gumam Lukas lirih kembali mengingat Aira.


"Masih mungkinkah kita mengulang masa lalu dimana kita sering jalan bersama" batin Lukas.


"Aku rindu kebersamaan kita Aira agar bisa menebus kesalahanku selama hadirnya Lusy kembali yang membuatku jadi menjauh darimu" batin Lukas ada rasa perih di hatinya mengingat peristiwa dimana  Lukas memperlakukan Aira dengan kasar dan dingin.


💥 Lombok


Evandro dan Aira telah sampai di bandara dan sedang menunggu kopernya keluar dari pesawat. Sopir Evandro di villa sudah menunggu kedatangan Evan dan Aira di luar.


Aira menyalakan ponselnya yang tadi sempat dimatikan untuk memberikan kabar ke papanya bahwa dirinya sudah sampai.


"Abang sudah kasih kabar ke papa Raka dan papa Darwis kalau kita sudah sampai sayang" kata Evandro memeluk istrinya dan mencium pucuk rambut sang istri yang selalu harum melihat Aira menyalakan ponselnya.


"Terima kasih bang" kata Aira.


"Duduklah disana dulu, biar abang yang akan mengambil kopernya" kata Evandro. Namun Aira tak mau menuruti Evan untuk duduk menunggunya mengambil koper. Akan tetapi Aira ikut membantu Evan berdiri menunggu kopernya keluar.


Setelah koper didapatkan Evandro, mereka keluar dan disambut oleh sopir yang sudah menunggunya dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2