Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 30.


__ADS_3

"Ngomongin lainnya aja deh bang, jangan ngomongin Rio tadi yang ga jelas" kata Aira malu sendiri, bagaimana dia mesti cerita ke Evandro jika Rio ngerjainnya justru mendukung Aira untuk sama Evandro.


"Kenapa, kan abang juga ingin tahu apa yang bisa membuat Rio tersenyum tapi justru sahabatnya Rio jadi kesel begitu" kata Evan penasaran melihat muka memerah Aira yang malu.


"Aira ayo kita masuk saja, disini anginnya dingin tidak baik untuk kesehatan. Yang ada nanti kamu masuk angin" ajak Evan agar Aira mau duduk di sofa depan tv agar tidak terkena angin malam.


"Abang disini ada teh ga?" Tanya Aira yang ingin meminum sesuatu yang hangat.


"Maafkan abang ya sampai lupa buatin Aira minum" kata Evan kemudian menuju dapur diikuti Aira dibelakangnya.


"Biar Aira bikin sendiri saja bang" kata Aira sambil mengambil teh yang sudah ditunjukkan Evan.


"Bener mau bikin sendiri?" Tanya Evan.


"Iya bang, abang mau juga biar sekalian Aira bikinin" jawab Aira


"Boleh ini ya cangkirnya dek" kata Evan mengambilkan cangkir teh dari dalam lemari dapur.


"Iya bang, sekarang abang tungguin aja di aofa sambil non tv, biat nanti Aira bawa kesana kalau sudah jadi" kata Aira yang ga enak jika ditungguin Evan di dekatnya.


"Ya sudah abang duduk di sana deh sambil nonton tv" kata Evan sambil mengambil camilan yang ada di meja dapurnya untuk si bawa ke meja depan sofa.


"Nih teh abang" kata Aira sambil memberikan teh Evan yang sudah dibuatnya.


"Terima kasih sayang" kata Evan.


Evan menawarkan camilan kepada Aira jika Aira.


"Aira ini sudah malam, sekarang istirahatlah tidur biar besok bangun pagi badan sudah kembali segar" kata Evan menyuruh Aira tidur.


"Iya bang, memang abang ga mau istirahat juga?" Jawab Aira.


"Iya abang juga mau istirahat sekarang" kata Evan kemudian membawa cangkir tehnya ke dapur untuk dicuci.

__ADS_1


"Abang istirahat dulu ya, Aira jiga harus istiraha dulu dan jangan lagi memikirkan apapun agar istirahatnya nyaman." pesan Evan.


"iya bang Aira juga mau istirahat kok" kata Aira kemudian berdiri sambil membawa cangkir bekas teh untuk dicuci.


Paginya Aira bangun setelah menyelesaikan kewajiban subuhnya, langsung keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan.


Aira membuka kulkas untuk melihat makanan apa yang dapat di masak. Ternyata di kulkas kosong, hanya ada telor itupun tinggal beberapa butir saja. Akhirnya Aira hany memasak nasi goreng telor saja tanpa ada sayur dan lainnya.


Evan yang setelah selesai menjalankan kewajiban subuh, hidungnya mengensus bau masakan. Evan keluar dari kamar untuk melihat siapa yang masak. Dan ternya Aira sedang sibuk di dapur membuat sarapan.


"Hmm baunya enak sekali, jadi lapar ini" kata Evan membuat Aira menengok ke arah Evan.


"Eh abang sudah bangun, Aira bikin nasi goreng saja sih bang. Apa abang mau masakan Aira?" Tanya Aira.


"Mau dong, kan ada yang masakin. Rugi kalau ga mau" jawab Evan kemudian membantu Aira mengambil piring.


"Abang tunggu aja di meja makan, nanti Aira anterin ke sana bang" kata Aira.


"Okey deh, abang diusir ini ya" kata Aira.


Setelah selesai Aira memasak nasi gorengnya, Ari menghidangkan di dua piring dan dibawanya ke meja makan untuk siberikan Evan dan dirinya sendiri. Aira mengambil air putih untuk di tuang di gelas dan kembali diberikan Evan serta untuknya sendiri.


"Hmm bener enak masakan kamu Ra, wah bahaya ini kalai abang ketagihan lagi nantinya." Kata Evan.


"Ah bang Evan hanya menyenangkan Aira aja deh" kata Aira.


"Nggak sayang, beneran enak ini. Terus terang abang suka masakanmu" kata Evan serius.


"Kalau begitu... terima kasih bang Evan atas pujiannya" kata Aira manja dengan tersenyum.


"Sama-sama adekku sayang" kata Evan.


Evan memang sering menekankan kata adek ke Aira karena kawatir Aira tersinggung jika Evan memanggil Aira hanya dengan kata sayang. Entah kenapa Evan sendiri juga tidak tahu alasannya kenapa setiap memanggil Aira serasa tidak nyaman jika harus memanggil hanya dengan namanya saja.

__ADS_1


"Rencana hari ini Aira pengin kemana?" Tanya Evan setelah selesai sarapan.


"Kita ke cafe kak Aini aja yuk bang nanti" ajak Aira.


"Okey, nanti abang janjian sama bang Haris dulu ya" kata Evan. Aira menganggukkan kepalanya.


"Eh tadi kenapa kita makan dulu sih sebelum mandi" kata Aira mengingat dirinya yang belum mandi tapi sudah selesai makan.


"Ya gapapa nanti tinggal mandi aja kalau begitu" kata Evan.


"Bang seandainya nanti malam kak Lukas ke rumah cari Aira gimana dong, tapi Aira masih belum mau ketemu" kata Aira.


"Ya bilang aja kalau Aira lagi pergi jalan sama teman atau nginap di rumah teman jangan sebut nama abang atau Anggi ya, nanti dia bisa salah paham." Kata Evan.


"Ah biar aja salah paham, biar sekalian bisa cepet putus" kata Aira.


"Bang boleh ga nanti Aira pake alasan kalau Aira sudah dijodohkan papa sama bang Evan dari kecil, tapi Aira takut kalau pacar abang marah sama Aira" kata Aira meminta ijin.


"Boleh aja, abang ga masalah kok" kata Evan.


"Tapi gimana nanti dengan...." kata Aira ragu


"Abang udah bilang kan kalau abang ga punya pacar, nanti kalau di tanya orang pacarnya abang Aira aja deh" kata Evan menggoda Aira dengan memutus ucapan Aira.


Blush... entah kenapa pipi Aira jadi memerah karena malu. Membuat Evan tersenyum melihat perubahan di pipi Aira.


"Udah ah sekarang Aira mau mandi dulu, bau masakan badannya Aira" kata Aira kemudian beranjak dari meja makan untuk mencuci piring kotor Aira dan Evan. Awalnya Evan tidak mengijinkan piringnya dicuci Aira, maunya Evan biar cuci masing-masing saja. Tapi Aira bersikeras membuat Evan mengalah dan membawakan piring serta gelas kotor ke tempat cucian piring di dapur.


"Terima kasih ya dek udah dimasakin dan dicucikan lagi" kata Evan tersenyum.


"Sama-sama bang, lagian Aira juga buat abang repot harus nginap disini segala" kata Aira


"Ya sudah abang mandi dulu ya dan jangan merasa ngrepotin abang. Karena abang tidak merasa direpotin Aira" kata Evan kemudian masuk ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


Evan menghubungi Haris saat di dalam kamarnya untuk janjian bertemu di cafe Aini.


"Kenapa aku merasa tenang setelah cerita semua permasalahanku ke bang Evan, apa karena aku ga punya tempat untuk curhat. Tapi aku kan biasanya juga cerita ke bang Haikal atau ke Rio, cuma memang tidak selega kalau ke bang Evan." Batin Aira.


__ADS_2