
"Nih martabaknya sama pempek sudah datang" kata Evan.
"Abang belinya pempek banyak banget sih, abang mau makan yang mana?" Tanya Aira.
"Iya abang juga sudah beli pempek yang masih belum di goreng tuh, udah abang masukkan ke dalam freezer ya sayang" kata Evan.
"Ya ampun abang, buat apa juga sih beli yang belum di goreng?" Tanya Aira.
"Buat kalau tiba-tiba baby kita ingin makan pempek yank, biar tinggal goreng aja nanti" jawab Evan sambil terkekeh.
"Aira mau makan martabak dulu aja deh, sepertinya enak" kata Aira.
"Abang pempek kapal selam minta satu ya yank" kata Evan.
"Iya bang" jawab Aira.
Aira mengambilkan pempek kapal selam buat sang suami, sedang Aira juga mengambil pempeknya di atas piring akan tetapi dia mau makan martabak dulu. Mereka makan dengan tanpa bersuara, hanya dentingan sendok yang terdengar.
Waktu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan suami istri itu. Aira setiap hari pulang dari kampus selalu ke kantor sang suami dan setiap pulang dari kantor selalu bersama suaminya.
"Bang mungkin besok Aira tidak ke kantor, karena Aira ada janjian makan siang dengan Naila kemudian mau ke pabrik dulu melihat bahan" kata Aira meminta ijin sang suami.
"Selama ini kamu ga pernah ke butikmu sayang?" Tanya Evan karena selama ini istrinya selalu ke kantor setiap pulang dari kampus.
"Ya kadang mampir ke butik dulu sebelum ke kantor abang" jawab Aira membuat Evan heran. Karena dia tidak pernah mendapat laporan dari Nuri jika Aira mampir ke butik. Nuri hanya memberikan lapiran waktu Aira mengajaknya mampir ke trio karaoke saja.
"Kenapa bang, sepertinya abang ga percaya Aira ya" kata Aira santai.
"Kapan kamu mampirnya ke butik, bukannya setiap pulang dari kampus selalu ke kantor abang?" Tanya Evan ingin tahu.
"Iya mampirnya cuma sebentar aja untuk melihat bahan yang ada, jadi Aira ga usah jauh-jauh ke pabrik tekstilnya Nayla" jawab Aira.
"Jadi Reza ke butikmu dengan membawa contoh bahan?" Tanya Evan menyelidik.
"Bukan kak Reza, tapi anak buahnya Naila yg bawa contohnya karena disuruh kak Reza dan Naila" jawab Aira.
"Kamu masih suka bertemu dengan Reza?" Tanya Evan sambil menatap sang istri penuh curiga.
"Kadang" jawab Aira singkat tanpa menatap suaminya yang sudah menatapnya tajam.
__ADS_1
Evan mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban sang istri.
Usia kandungan Aira sudah berjalan 3 bulan lebih, Aira senang karena sudah dapat melewati masa mual setiap paginya. Walaupun kadang masih belum bisa menerima sembarang makanan yang berbau bawang menyengat.
"Untuk apa kalian bertemu, bukannya untuk urusan bahan sudah dialihkan dengan Naila?" Tanya Evan.
"Ya biar bagaimana Aira kan ada kerjasama dengan kak Reza kan bang, Jadi pasti Aira juga akan sesekali bertemu dengannya untuk membahas kerjasamanya karaoke kami" jawab Aira.
"Apakah kamu ga bisa ambil bahan ke perusahaan tekstil yang lain?" Tanya Evan.
"Sudahlah bang, tidak perlu membahas hal yang tidak perlu, lebih baik kita istirahat karena besok harus kuliah pagi dan abang juga harus ke kantor pagi kan" kata Aira memutus obrolan yang menurutnya tidak bermanfaat, karena akan membuat sang suami cemburu.
Evan membuang nafasnya kasar kemudian mengikuti istrinya rebahan di atas ranjang mereka. Aira memejamkan matanya agar dapat segera tertidur, karena badannya sudah terasa lelah.
"Sayang apakah besok kamu juga akan bertemu dengan Reza?" Tanya Evan pelan.
"Aira sih janjiannya hanya sama Naila, apa abang mau ikut datang? Tanya balik Aira.
"Apakah abang boleh ikut datang?" Tanya Evan yang kawatir kalau istrinya akan bertemu dengan Reza kembali.
"Boleh aja dari pada abang curiga dengan Aira" jawab Aira santai.
"Terus kalau bukan curiga apa dong?" Tanya Aira dengan kepala menengok ke arah sang suami, sedangkan badannya masih terlentang.
"Bukan curiga, abang kan hanya mau menemani istri dan calon anak abang saja" kata Evan sambil tersenyum pada sang istri.
"Aira tuh dengan kak Reza ga ada hubungan apa-apa bang sejak kami lulus sma dulu" kata Aira.
"Iya abang percaya, namun untuk urusan hati mungkin kalian masih ada rasa saling mengharapkan atau bahkan masih saling mencintai kan" kata Evan.
"Hah susah ngomong sama orang yang ga pernah mau percaya" gumam Aira yang masih di dengar Evan.
"Sayang, abang dengar loh" kata Evan sambil mencium pipi sang istri kemudian mendekatkan hidungnya ke telinga Aira membuat Aira geli.
"Abang ihh... geli bang, udah ayo tidur. Besok kita masih harus bangun pagi untuk kerja" kata Aira.
"Hmm tapi abang maunya membuat kamu geli-geli enak" kata Evan dengan tangan yang sudah mulai bergerak ke tempat yang diinginkannya untuk mengalihkan dari rasa cemburunya tadi.
Aira memejamkan matanya untuk segera tidur, walaupun suaminya mengganggu tidurnya dengan terus menciumi pipi, daun telinga bahkan ke leher yang membuat Aira mengeluarkan suara desahannya pelan tanpa disadarinya.
__ADS_1
Evan tersenyum senang mendengar istrinya mulai mendesah, bahkan sekarang bibirnya sudah mulai menempel dibibir sang istri membuat Aira ga bisa protes. Evan tak memberikan ruang untuk sang istri protes.
Tangan Evan sudah mulai membuka kancing baju istrinya satu persatu hingga tanpa disadari Aira keduanya sudah polos tanpa sehelai kain.
Keduanya saling berbagi peluh dan menikmati indahnya surga dunia untuk malan ini hingga keduanya pun tertidur.
Paginya Aira yang terbangun lebih dulu langsung menyiapkan sarapan di dapur dan baru membangunkan sang suami setelah selesai membuat sarapan.
"Abang... bangun bang" Aira menggoyangkan sedikit kaki Evan.
"Sayang kamu sudah mandi?" Tanya Evan dengan suara khas orang bangun tidur, melihat sang istri sudah berdiri di dekat ranjangnya.
"Belum, baru juga mau mandi" jawab Aira. Evan langsung duduk di pinggir ranjangnya. Melihat Aira jalan masuk ke kamar mandi, Evan berdiri dan mengikuti sang istri masuk ke kamar mandi.
"Loh abang kenapa ngikuti Aira masuk ke kamar mandi sih?" Tanya Aira.
"Kita mandi bareng aja yank biar waktunya lebih cepat ya" kata Evan sambil tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Idih abang modus deh" jawab Aira.
"Modusnya hanya sama kamu yank" bisik Evan ditelinga Aira sambil memeluk sang istri.
Akhirnya mereka mandi bersama yang pasti mandinya jadi membutuhkan waktu lebih jika keduanya harus mandi bersama.
"Nanti jadi janjian dengan Naila yank?" Tanya Evan setelah keduanya selesai sarapan.
"Iya jadi dong" jawab Aira santai.
"Janjian dimana?" Tanya Evan.
"Janjian di cafe dekat pabrik tekstilnya" jawab Aira.
"Nanti pulang abang jemput aja di kampus baru kita ke cafe tempat kalian janjian dengan Naila" kata Evan.
"Abang ga ada meeting memangnya?" Tanya Aira.
"Biar nanti Suryo yang datang, abang mau temani istri abang" jawab Evan santai membuat Aira menatap heran dengan sang suami.
"Jangan bilang abang curiga Aira akan bertemu dengan kak Reza. Aira memang janjian dengan Nayla, cuma untuk kak Reza nanti ikut atau tidak Aira ga tahu ya bang" kata Aira menebak sang suami yang sedang cemburu.
__ADS_1