
Di sore hari Aira baru terbangun dari tidurnya, badannya terasa pegal dan lemas, karena sejak siang dia tidak makan dan minum.
Aira berusaha jalan sendiri menuju dapur untuk membuat teh hangat dan meminumnya. Kemudian Aira masuk kedalam kamar yang ternyata dikunci oleh Evan dari dalam.
Aira ketok-ketok minta dibukakan pintu kamarnya karena Aira mau ganti pakaian untuk di rumah, namun Evan tidak membukakannya. Bahkan hanya menatap pintu itu dari dalam tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Akhirnya Aira masuk ke kamar sebelah dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Apa bang Evan di dalam kamar mandi hingga tak terdengar aku mengetuk pintu" batin Aira
Beberapa menit kemudian Aira mengetuk kembali pintu kamar mereka.
Tok tok tok
Tak ada suara.
"Tolong buka pintunya bang, Aira mau ganti baju" kata Aira namun tak juga mendapat jawaban dari dalam.
"Baik bang kalau ini maumu, mulai hari ini aku akan tidur di kamar yang lain" teriak Aira kemudian membalikkan badannya dan beranjak pergi meninggalkan kamar mereka berdua.
Aira teringat ada baju yang kemarin dijemurnya di balkon. Aira mengambil baju yang ada dijemuran untuk berganti pakaian, kemudian kembali masuk ke kamarnya lagi hingga malam hari tanpa ingin makan sesendokpun.
Evan keluar dari kamar setelah menunggu beberapa saat yang dirasa tidak ada lagi suara Aira.
Kemudian Evan duduk di meja makan dengan makanan yang sudah dipesannya melalui online untuknya dan juga untuk Aira, namun ditunggu hingga jam 9 malam Aira tak juga keluar dari kamar. Kemudian Evan kembali masuk ke dalam kamarnya sendiri tanpa mau memanggil istrinya.
Evan masih enggan untuk bicara dengan Aira, ego mereka sama tinggi. Evan merebahkan tubuhnya di atas kasur di dalam kamarnya, ingin segera tidur namun matanya sulit untuk terpejam.
"Apa yang kurang dari suamimu sayang, selama ini abang sudah berusaha membuatmu mencintai abang. Memang ga mudah membuatmu mencintaiku. Namun yang terjadi justru kamu terlihat semakin dekat dengan Reza. Itu yang membuat abang sakit" gumam Evan di dalam kamarnya yang tak terkunci lagi dengan menatap langit-langit di kamarnya.
Akhirnya Evan tertidur karena lelah memikirkan pertengkarannya dengan sang istri yang belum selesai juga sebenarnya menunggu istrinya masuk ke kamar mereka.
Paginya Evan bangun, melihat sisi sebelah kosong. Kemudian keluar dari kamar ingin mengambil air putih di dapur. Evan melihat ke pintu kamar sebelah yang tertutup rapat dan ke meja makan tak ada yang berubah posisi piring dan makanannya. Artinya Aira tidak keluar dari kamar itu dan juga tidak makan sejak siang hari kemarin.
Tok tok tok
Evan mulai kawatir dengan keadaan Aira. Evan memutuskan untuk mengetuk pintu kamar istrinya.
"Aira, buka pintunya. Kamu sudah bangun kan?" Tanya Evan kawatir.
__ADS_1
"Aira, buka pintunya" teriak Evan karena tak ada sahutan suara dari dalam.
Evan mendobrak pintu kamar Aira dan mendapati Aira hanya diam dengan mata terpejam dan air mata menetes tanpa mau menengok ke arah suaminya.
"Aira" panggil Evan lembut. Aira tak bergeming.
"Kamu sakit?" Tanya Evan kemudian mendekati istrinya yang sejak tadi hanya diam tanpa mau membuka matanya. Evan memegang dahi istrinya, badan Aira agak panas.
"Kamu belum makan dari kemarin siang, sekarang kita makan pagi dulu ya, biar abang masakin kamu" kata Evan sambil menggenggam tangan Aira.
"Tinggalkan Aira, biarkan Aira sendiri" jawab Aira pelan tak ada lagi tenaga, karena badannya sudah lemas.
Evan langsung membuatkan bubur dan teh panas melihat wajah pucat istrinya dengan suara yang sudah lemah.
"Buka matamu, biar abang suapi kamu teh manis dulu sambil menunggu buburnya agak dingin." Kata Evan setelah membuatkan teh panas dan bubur buat istrinya. Namun Aira tidak juga membuka matanya, ternyata Aira sudah tak sadarkan diri.
Evan langsung membawa Aira ke rumah sakit setelah tahu istrinya tak sadarkan diri.
💥 Rumah sakit
Aira sudah berada di ruang rawat inap saat dirinya sadar. Dengan tangan kanannya sudah di infus dan diberikan tambahan oksigen.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Tanya Diana.
"Mama, dimana Aira sekarang?" Tanya Aira.
"Kamu ada di rumah sakit sayang, tadi kamu dibawa suamimu ke sini karena Aira ga sudarkan diri" jawab Diana.
Aira melihat sekelilingnya, ada Evan, mama Diana, Haris dan Haikal.
"Kenapa Aira harus dibawa kesini? Aira mimpi, Aira dipeluk mama di sebuah taman yang indah" kata Aira melihat ke langit-langit kamarnya
"Sayang, mama sudah bahagia. Dan mama akan sangat bangga pada anak gadisnya jika anak gadisnya bahagia" kata Haris sambil mengusap rambut adeknya. Aira hanya memandang Haris dengan airmata menetes.
Aira mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat buncit. Evan menggenggam jemari tangan Aira. Namun Aira mencoba melepaakan genggaman tangan suaminya.
"Maafkan abang sayang, abang terlalu cemburu dengan kedekatanmu dengan Reza" kata Evan. Aira menatap Evan hanya diam tanpa memberi respon apapun. Hatinya masih sakit mengingat ucapan Evan yang mengatakan Aira selingkuh dengan Reza dan Evan akqan membalas selingkuh dengan perempuan lain.
__ADS_1
"Pergilah bang, seperti apa yang kamu katakan bahwa kamu bisa selingkuh dengan perempuan lain untuk membalasku dan jangan lagi perdulikan aku mulai sekarang" kata Aira dengan tatapan dingin.
"Maafkan abang sayang, abang hanya asal bicara yank" kata Evan sambil menggenggap jemari tangan Aira.
"Abang tidak bisa jauh dari kamu dan anak kita sayang" kata Evan, Haris hanya diam duduk di sofa.
"Maafkan abang dek, semua karena ucapan bang Haikal yang tak sengaja membuatmu seperti sekarang ini" kata Haikal mendekati Aira.
"Tidak bang, memang semua harus terjadi" kata Aira sambil melepas selang oksigennya yang dirasa mengganggunya.
"Sayang kamu kenapa melepas ini, kamu masih sesak nafas Aira" kata Evan panik melihat istrinya melepas oksigennya.
"Aira ga mau pake ini bang" jawab Aira.
"Tapi kamu masih sesak nafas, nanti kalau kamu sudah benar-benar baik, pasti akan dilepas selang oksigennya itu oleh suster" kata Haris yang sudah berdiri di dekat Evan.
Mama Diana hanya bisa menangis melihat menantunya terkulai lemas diatas tempat tidur.
"Aira mau pulang ke rumah papa" kata Aira bersih keras.
"Sayang, tolong pake dulu selang oksigennya, nanti kalau kamu sudah sehat kembali, kita bisa main ke rumah papa." Kata Evan.
Tidak lama kemudian papa Raka datang bersama papa Darwin.
"Aira, kamu kenapa sayang?" Tanya papa Raka memeluk sang putri tunggalnya.
Aira menangis dalam pelukan papa Raka, kemudian Haris memaasangkan lagi selaang oksigennya dengan dibantu papa Raka.
Haris menyodorkan makanannya ke papa Raka agar menyuapi Aira yang sejak tadi tidak mau makan.
"Sekarang anak papa makan dulu, biar papa yang suapi kamu okey" kata Raka dengan sabarnya.
Akhirnya Aira makan makanan yang diberikan rumah sakit itu dengan disuapi oleh papa Raka. Sedang Haris mengajak Evan dan Haikal keluar kamar.
"Kenapa kamu bisa mengatakan kalau Aira selingkuh dengan Reza dan kamu juga akan selingkuh dengan wanita lain?" Tanya Haris ke Evan.
"Maafkan aku Ris, aku terlalu cemburu melihat kedekatan Aira dengan Reza. Aku merasa cinta Aira seolah hanya untuk Reza dan aku sebagai suaminya tak dihiraukan" kata Evan.
__ADS_1
"Apakah hanya karena waktu mau ke kebun teh dan masa lalu Aira dan Reza harus terjadi seperti sekarang ini Van?" Tanya Haris menatap sahabatnya yang sekaligus adek iparnya ini.