Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 28.


__ADS_3

"Aira kawatir bang kalau abang marah ke kak Lukas, soalnya Aira juga sebenarnya baru mau menyiapkan kata-kata untuk mengakhiri hubungannya dengan kak Lukas. Dan Rio sangat senang sebenarnya mendengar kalau Aira putus dengan kak Lukas" cerita Rio panjang lebar.


"Terima kasih Rio atas infonya, o ya boleh abang meminta nomor ponselmu?" Tanya Evan.


"Boleh bang silahkan aja kapanpun bang Evan butuh" kata Rio sambil mengetikkan nomornya di ponsel Evan.


Kemudian Evan memencet nomor Rio agar Rio juga menyimpan nomor ponsel Evan.


"Itu nomer abang ya" kata Evandro.


"Kenapa kamu setuju Aira putus dengan Lukas?" Tanya Evan ke Rio.


"Yang Rio dengar maminya kak Lukas tidak merestui hubungan mereka, papa Aira kan juga sama kan. Apalagi Dio lihat akhir-akhir ini kak Lukas makin dekat aja hubungannya dengan Lusy mantannya." Rio menjelaskan.


"Tapi Haikal juga setuju sih kalau mereka berdua putus apalagi papa dan bang Haris semua juga tidak merestui Aira dengan Lukas" kata Haikal.


"O iya Kal nanti rencana Aira mau menginap di rumah abang, tapi abang akan bawa adikmu ke apartemen aja biar dia bisa mengeluarkan semua unek-unek permasalahannya dan tidak terganggu dengan adanya Anggi. Dan abang akan ini baru meminta ijin ke om Darwis dan tante Diana untuk bawa Aira," Kata Evan ke Haikal.


"Haikal nitip Aira ya bang, tolong kasih tahu aja nanti kalau Aira bisa mengeluarkan semuanya" kata Haikal.


"Iya tenang aja Kal yang penting Aira tidak merasa menjadi orang yang tersakiti" kata Evan.


Dari jauh Rio melihat ketiga gadis itu mulai mendekat setelah dari toilet. Maka Rio memberi kode untuk tidak melanjutkan pembicaraan lagi.


"Serius amat sih loe Rio" kata Vina setelah ketiga gadis ini sampai di meja mereka kembali.


"Kok kelihatannya semua serius sih, bang Haikal juga serius amat. Kalau bang Evan mah udah biasa begitu kalau di luar rumah" kata Anggi melihat raut muka Rio, Evan dan Haikal.


"Ya kak Aira kalau bang Evan biasa serius kalau kita lagi jalan di luar begini" kata Anggi ke Aira.


"Iya aja, soalnya kakak jarang sekali lihat bang Evan bermuka serius kecuali di kantor" kata Aira.


Semua tertawa dan Evan senang Aira mulai mau memberi komentar Anggi yang membuatnya ikut tersenyum walaupun hanya senyum tipis.


"Iya sih dek benar itu, tadi abang lihat sendiri wajah bang Evan dan bang Haris sama seriusnya" kata Haikal.


"Iya soalnya Aira juga lihat sendiri bang waktu itu, tapi jangan marah ya bang Evan" kata Aira.


"Buat apa abang marah ke kamu dek" kata Evan.

__ADS_1


"Sepertinya memang bang Evan ga akan pernah bisa marah ke Aira deh" celoteh Rio membuat Evan terkekeh. Namun berbeda dengan sikap Aira yang langsung melotot ke Rio.


Rio hanya terkekeh sambil memberikan jempolnya saat Aira melotot ke arahnya.


🗨"Gue sangat setuju seandainya loe jadian sama bang Evan" Rio mengirimkan peaannya ini ke ponsel Aira.


"Gue ga akan koment" 💬


🗨 "Gue doain semoga kalian berjodoh"


"Gue ga koment" 💬


Rio membaca balasan pesannya dari Aira tersenyum sendiri.


"Rio kok senyum-senyum sendiri sih, memang dapat chat dari siapa hayo" kata Vina.


"Ini ada temen gue Vin yang lagi kesel sama gue. Dia merasa gue ngerjain dia kayanya" kata Rio terkekeh.


"Biarkan saja Rio lagi ga jelas Vin, mungkin terganggu sama yang jaga di mall ini" kata Aira.


"Loe yang jaga ya Ra, jadi gue terganggu dong sama loe" kata Rio tertawa.


"Sudah ayo sambil di makan tuh makanannya biar ga dingin" kata Evandro.


Aira langsung memakan menu yang tadi dipesannya.


Selesai mereka makan malam, semua saling berpamitan untuk pulang.


"Dek bisa ga kamu pulang ikut kak Rio dulu, karena abang mau ada keperluan dulu sama kak Aira ke tempat lain." Kata Evandro yang pada saat jalan keluar dari restoran meminta tolong untuk mengantarkan Anggi pulang.


Dan di sela-sela mereka makan, Evandro sudah meminta ijin ke mama dan papanya untuk membawa Aira ke apartemennya karena suatu masalah yang sedang dialami Aira. Evandro menceritakan inti permasalahan Aira agar mendapat ijin dari kedua orang tuanya.


"Berarti Anggi diantar kak Rio dulu, terus Haikal nganterin Vina kan. Nah abang sama Aira mau ada keperluan dulu okey" kata Evandro.


"Okey bang" kata Anggi.


"Rio, abang nitip Anggi ya jagalah dia sampai di rumah" kata Evan sambil menepuk pundak Rio.


"Siap bang, terima kasih atas kepercayaan bang Evan" jawab Rio dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Evan dan Aira jalan menuju toko pakaian dulu untuk membeli baju buat Aira seperti yang sudah direncanakan Evan tadi.


"Banyak amat sih bang belinya" protes Aira.


"Aira cukup beli baju tidur aja sama atasan aja buat besok pagi" kata Aira.


"Gapapa nanti yang ga kamu pake tinggal aja disana dipake kapan-kapan lagi" jawab Evandro santai.


"Terserah abang aja deh, Aira lagi ga tertarik milih baju" kata Aira kemudian duduk di sofa yang ada di toko baju itu.


Sedangkan Evandro sibuk memilih baju buat Aira untuk dipakai tidur nanti dipakai besok-besok. Evandro memang sengaja membelikan banyak baju buat Aira agar suatu saat Aira tidak bingung jika sewaktu-waktu membutuhkan baju saat ga lagi di rumah.


Entah kenapa Evandro merasa yakin kalau Aira akan sering ke apartemannya Evandro. Makanya Evandro sengaja membeli baju buat Aira dilebihkan. Bahkan sampai pakaian dalam pun Evan juga sudah membelikannya tanpa sepengetahuan Aira.


Yah Evan hanya main perkiraan dan percaya saja dengan karyawan yang melayaninya di toko itu.


"Yuk kita pulang dek, semua sudah dibeli abang" ajak Evan ke Aira melihat Aira seperti malas-malasan.


"Kenapa rasanya sakit ya bang jika mengingat kejadian tadi" kata Aira


"Jangan diingat-ingat apa yang membuatmu sakit hati okey" kata Evan


"Keinget dengan sendirinya bang" kata Aira.


"Abang tahu, tapi coba kamu lebih berpikir ke hal yang positif aja" kata Evan.


"Kenapa juga tadi harus ketemu, lagian memang kak Lukas juga sering sih jalan sama cewek itu" kata Aira dengan air mata menetes tanpa ijin.


Evan menghembusnya nafasnya berat melihat kesedihan Aira yang menangisi orang yang tidak seharusnya.


"Memang kamu tahu siapa cewek itu?" Tanya Evan.


"Katanya sih teman gerejanya" jawab Aira.


"Hanya itu yang dia bilang atau yang kamu tahu" tanya Evandro.


"Maksud bang Evan mantannya gitu?" Tanya Aira.


"Ya barangkali kan" kata Evandro sambil memarkirkan mobilnya di apartemen.

__ADS_1


"Eh kita sudah sampai di apartemen, yuk kita lanjutin lagi ngobrolnya diatas aja" kata Evan. Aira menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Evandro naik keatas.


__ADS_2