Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 193. Devan Saputra Brahmana


__ADS_3

šŸ’„ Kediaman Darwis Brahmana


Waktu tak terasa begitu cepat berlalu.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya mama Dinda.


"Perut Aira sakit sekali ma" jawab Aira sambil meringis menahan sakit.


"Itu mungkin sudah mulai kontraksi sayang, ambil nafas dari hidung dan buang melalui mulut" kata mama Dinda berusaha tenang


"Sejak kapan kamu ngalami begini?" Tanya Dinda.


"Semalam ma" jawab Aira.


"Abang mana?" Tanya mama Dinda mulai terlihat panik.


"Masih diluar ngobrol sama tukang kebun tadi" jawab Aira menahan sakit karena perutnya mulai mulas.


Mama Dinda melihat sang menantu yang sering merasa kesakitan karena kontraksi. Kemudian memanggil anak laki-lakinya agar segera membawa istrinya ke rumah sakit.


"Sakit lagi ya yank, kita ke rumah sakit ya" ajak Evan kaget melihat istrinya meringis kesakitan.


"Iya bang sakit sekali" jawab Aira sambil meringis menahan sakit.


"Gendong istrimu Van ke mobil, biar mama ambil tas perlengkapan Aira" kata Dinda.


"Tasnya sudah ada di mobil sejak kemarin ma, ayo kita langsung saja berangkat" jawab Evan teriak sambil menggendong sang istri.


"Ambil nafas dan buang sayang" kata Evan sambil menggendong sang istri mengingatkanĀ  pesan dokter kandungannya beberapa hari lalu.


Evan berusaha untuk tenang walaupun hatinya sangat kawatir melihat istrinya merintih kesakitan sambil mencengkeram lenganĀ  Evandro


šŸ’„ Rumah sakit


"Sus tolong istri saya mau melahirkan" teriak Evan setelah sampai di UGD.


Aira langsung dibawa dengan kursi roda menuju ruang UGD dan langsung diperiksa dokter.


"Bagaimana dengan istri saya dok?" Tanya Evan di dalam ruang UGD setelah dokter memeriksanya.


"Ini sudah pembukaan 8 pak, kita akan bawa ke ruang bersalin sekarang" kata dokter kandungannya kemudian memerintahkan perawat menyiapkan ruangan bersalin.


Aira sering mengalami kontraksi selama brankarnya di dorong menuju ke kamar bersalinnya.


"Sakit bang" keluh Aira sambil meringis.


"Tahan dulu ya yank" kata Evan tak tega melihat istrinya kesakitan dengan menggenggam tangan sang iatri.


"Saya boleh ikut masuk sus?" Tanya Evan setelah sampai di depan kamar bersalin.


"Silahkan pak" jawab suster.


Aira mencekeram lengan sang suami membuat luka cakaran di lengan Evan. Namun semua itu tidak terasa sakit bagi Evan dibanding sakitnya sang istri saat merasakan kontraksi hebat.


Evan mengelus perut sang istri sambil berbicara pada sang calon baby yang akan lahir.


"Sayangnya ayah, kamu sudah ingin lihat ayah dan bunda ya. Jangan merepotkan bunda ya sayang" kata Evan.

__ADS_1


"Sakit bang" kata Aira.


"Dok kapan babynya akan lahir?" Tanya Evan.


"Ini mau dilihat lagi pembukaannya pak" jawab dokternya kemudian memeriksa jalan lahir sang baby.


"Ibu, nanti ikuti instruksi kami ya. Ini pembukaannya sudah lengkap" kata dokternya.


"Iya dok" jawab Aira sambil menahan sakit.


Tak lama kemudian suara bayi menangis dengan kencang setelah Aira mengikuti aba-aba yang diberikan dokter.


"Alhamdulilah" ucap Evan dan Aira bersamaan.


Aira sangat lemas dan terlihat pucat setelah berhasil melahirnya baby mungilny. Evan terus mengelap keringat yang keluar dari tubuh sang istri.


"Terima kasih sayang sudah berjuang untuk putra kita" bisik Evan sambil mencium sang istri dan mengusap keringat istrinya.


Suster memberikan bayi laki-laki yang sudah dibersihkan dan dibedong kepada Evan untuk di adzani setelah bayinya diberikan asi pertamanya.


Evan membawa baby boynya ke luar untuk bertemu keluarganya sambil menunggu sang istri dibersihkan.


"Hai cucu eyang apa kabar?" Sapa Dinda sambil menggendong cucu pertamanya.


"Selamat ya Van sudah menjadi seorang ayah sekarang" ucap papa Raka.


"Iya pah, terima kasih pah atas restu papa untuk kami berdua" jawab Evan. Raka menepuk punggung sang menantu sambil terkekeh.


"Jaga anak dan cucu papah dengan baik" jawab Raka.


"Selamat ya nak, papa ikut senang" kata papa Darwis.


"Hai boy, ini om sayang" sapa Haikal sambil menggendong sang ponakan.


"Apa kamu ga ingin punya sendiri Kal?" Tanya Darwis membuat Haikal terkekeh.


"Do'akan saja om" jawab Haikal sambil tersenyum.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Nayla Kal?" Tanya Evan.


"Baik bang, o iya Haikal sampai lupa memberi kabar Nay kalau Aira sudah melahirkan" jawab Haikal.


Aira sudah dipindahkan ke ruang rawat bersama sang baby. Aira mendapatkan banyak ucapan selamat dari keluarganya dan juga sahabatnya serta sang mantan tak lupa ikut datang bersama adeknya.


"Selamat ya Ra, semoga baby boy jadi anak yang sholeh" ucap Reza tulus.


"Aamiin" jawab Aira dan Evan bersamaan


"Siapa nama anak loe Ra?" Tanya Nayla.


"DEVAN SAPUTRA BRAHMANA" jawab Evandro.


"Wah lengkap amat pake nama kedua eyangnya" kata Haikal.


"Biar adil bang bahwa anakku keturunan Saputra dan Brahmana" kata Aira sambil terkekeh.


Raka tertawa mendengar jawaban sang anak perempuannya dan juga bangga dengan namaĀ  yang tersemat di dalam nama sang cucu.

__ADS_1


"Terima kasih kalian menyematkan nama belakang keluarga papa" kata Raka bahagia.


"Kapan Reza mau menyusul nih" kata Haikal.


"Doakan saja setelah Nayla menikah" jawab Reza.


"Loh seharusnya abangnya dulu baru adeknya" sahut Raka.


"Kan Nayla yang sudah tunangan duluan om" jawab Raka membuat yang lain tertawa melihat Reza kebingungan menjawab.


"Aira siap bantu loh kak kalau kakak segera menikah" sahut Aira.


"Do'akan saja Ra" jawab Reza tersenyum.


"Kemarin sudah melamar kak Rini Ra" kata Nayla.


"Wah selamat dong kak Reza, ayo segerakan dihalalkan" kata Aira semangat membuat yang lain tertawa ikut ngerjain Reza.


"Insyaallah bulan depan akan dihalalkan" jawab Reza.


"Kami tunggu undangannya ya nak Reza" kata Raka.


"Siap om, pasti kalian semua akan kami undang" jawab Reza.


"Selamat ya bro, semoga semua lancar" kata Evan sambil menepuk pundak sang mantan rivalnya. Reza menganggukkan kepalanya.


Hari ini waktunya Aira pulang dari rumah sakit setelah melahirkan baby Dev. Karena sudah tiga hari Aira berada di rumah sakit ini.


"Sayang baby Dev sudah diberi asi tadi?" Tanya Evan setelah melunasi administrasi di rumah sakit.


"Baru saja selesai bang" jawab Aira.


"Sudah selesai semua bang?" Tanya mama Dinda pada anak laki-lakinya.


"Sudah ma" jawab Evan.


"Yuk sayang biar abang yang mendorongmu" ajak Evan yang dianggukin Aira.


"Biar suster aja yang bantu dorong istrimu Van, kamu bisa membawakaan tasnya Aira.


"Itu ada Nuri yang akan bantu bawa pelengkapan Aira dan baby Dev ma, biar Evan sendiri yang mendorong Aira" jawab Evandro. Mama Dinda hanya tersenyum melihat anak laki-lakinya sigap membantu sang istri. Dan memang Evan tidak ingin istrinya bergantung dengan yang lain selain dirinya.


šŸ’„ Kediaman Evandro


"Papa katanya mau ikut jemput Aira, mana papaĀ  bang?" Tanya Aira di dalam mobilnya.


"Papa tadi harus ke kantor dulu ada meeting dadakan sayang. Dan sekarang papa sudah menunggumu di rumah kita" jawab Evan santai lupa kalau harus merahasiakannya dulu dari sang istri.


"Di rumah kita, di apartemen kali bang" kata Aira mengkerutkan dahinya.


"Iya sayang, sama saja" jawab Evan setelah sadar akan ucapannya yang salah.


"Anakmu ganteng sekali Ra, perpaduan kalian berdua" sahut sang mama Dinda mengalihkan kecurigaan Aira.


"Berarti lebih ganteng dari ayahnya ya ma" kata Aira sambil melirik sang suami.


"Sama gantengnya sayang sama ayahnya" sahut Evan tidak mau kalah membuat mama Dinda terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2