
š„ Restoran Bukit
Setelah selesai acara akad nikah Evandro-Aira dan tamu sudah banyak yang pulang, hanya tinggal keluarga saja yang sebagian masih disana. Sepasang pengantin ini akan diantar kembali ke hotel SB yang dipake Aira menginap semalam. Hanya berbeda kamar saja, karena Evandro sudah memesan sebuah kamar hotel yang sudah dihias untuk sepasang pengantin baru selama 2 hari.
"Loh kok pengantinnya masih disini sih?" Tanya Haris melihat Evan dan Aira masih duduk di meja makan khusus vip.
"Ya kan gue mesti makan dulu dong Ris, gue belum sarapan dan makan siang" jawab Evandro.
"Iya gue tahu buat loe isi tenaga kan" kata Haris terkekeh. Evandra hanya terkekeh sambil mengedipkan matanya. Aira pura-pura tidak mendengar maksud perkataan abangnya dengan sang suami yang beberapa jam jadi suaminya.
Aira sibuk melihat pesan di ponselnya.
Ada ucapan selamat menempuh hidup baru dari Leo yang meminta maaf karena tidak dapat hadir di acara pernikahan Aira. Kemudian Aira membalas chat dari Leo. Evan hanya melirik istrinya yang sibuk dengan ponselnya.
"Kapan ini bulan madunya?" Tanya Haris yang duduk di dekat Aira.
"Nanti baru di rencanakan. Karena kemarin Aira belum menjawab mau kapan dan dimana keinginannya" jawab Evan sambil melihat Aira.
"Ayo untuk pengantinnya sekarang sudah waktunya istirahat dan akan diantar sama Suryo" kata mama Diana sambil menepuk pundak Suryo yang ada di sampingnya karena Aira sudah terlihat lelah.
"Selamat ya, semoga berhasil dan jangan terlalu lama" kata Haris sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Evandro.
"Sial..." gumam Evandro yang didengar Haris membuat Haris tertawa dan menepuk punggung adik iparnya. Sedang Evandro melirik Aira yang pura-pura tidak mendengar candaannya Haris.
"Inget ya, loe sekarang adik ipar gue. Kalau loeĀ macam-macam berhadapan sama gue" kata Haris membuat mama Diana terkekeh mendengarnya.
"Iya nanti mama juga ikutan bertindak loh bang kalau abang macam-macam" sahut Diana.
"Kok jadi pada ngancam Evan sih, mama juga ikutan aja nanggapi Haris yang ga jelas." ProtesĀ Evandro.
"Sudah yuk sayang, kita tinggalkan saja tempat ini sesegera mungkin biar kita bisa istirahat dulu" ajak Evandro sambil merangkul pundakĀ Aira dengan sesekali mencium pucuk kepala Aira.
"Wah sudah berani ya mengumbar kemesraannya di depan kita semua sekarang" canda Haris membuat Evan hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Dasar kakak ipar ga sopan" kata Evan membuat Suryo dan Haris tertawa.
"Eh loe jangan ikutan tertawa kalau masih mau hidup" kata Evan ke Suryo membuat Suryo langsung menutup mulutnya pake tangan kanannya.
Aira tertawa melihat tingkah laku Suryo.
"Kenapa ikut tertawa sayang?" Tanya Evan ke Aira.
"Gapapa bang, Aira hanya menertawakan kak Suryo aja" jawab Aira masih terkekeh.
"Sudah yuk kita berangkat" ajak Evandro mengajak Aira.
"Hati-hati ya dijalan" ucap Haris ke Evandro.
"Suryo hati-hati, loe bawa pengantin baru" kata Haris lagi sambil tertawa.
"Siap Ris, gue akan hati-hati. Yang ada besok gue udah pindah kantor di jembatan" jawab Suryo membuat Haris tertawa, kemudian Suryo mengikuti Evan dan Aira menuju ke pintu keluar restoran.
Suryo langsung menelpon sopir yang akan membawa mobil Suryo untuk menuju ke depan pintu restoran bukit.
Sepasang pengantin Evan dan Aira sudah sampai di lobby hotel. Kemudian Suryo mengantar Evan sampai masuk ke dalam lift baru Suryo akan kembali lagi ke restoran bukit. Sedangkan di hotel tempat Evan dan Aira pun ada bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Evan dan Aira oleh Suryo.
"Capek ya sayang?" Tanya Evan di dalam lift ke istrinya.
"Iya bang, dan pegelĀ juga kakinya Aira. Mungkin karena Aira persiapan dari pagi-pagi sekali dan tadi di pelaminan kita berdiri lama" jawab Aira jujur.
"Ya sudah nanti biar abang gendong saja dan nanti Aira membuka pintu kamarnya pake ini" kata Evan kemudian memberikan kunci kartu kamarnya ke Aira.
"Aira masih mampu jalan sendiri bang, biar itu kartu abang saja yang bawa dan membukanya" kata Aira. Kemudian pintu lift terbuka dan Evan langsung menggendong Aira setelah memasukkan kartunya di saku dada jasnya. Aira yang kaget dengan sikap Evan langsung minta diturunkan.
"Abang, turunkan Aira. Malu bang dilihat orang ih" protes Aira meronta minta diturunkan. Namun Evan malah meminta tangan Aira mengalungkan ke leher Evan agar tidak terjatuh.
"Kalungkan tanganmu ke leher abang sayang, biar nanti Aira ga jatuh dan sakit loh kalau jatuh ke tulang punggungmu" kata Evan menakuti Aira agar Aira mau melakukannya.
__ADS_1
Dan benar dugaan Evan, dengan sedikit mengancam karena Aira takut jatuh dan sakit maka dia menuruti apa kata Evan. Tangan Aira sudah berada di leher Evan membuat Evan tersenyum bahagia dan tak ada lagi perlawanan.
Evan mencium kening Aira, kemudian pipi Aira membuat si empunya kening protes.
"Abang ga malu apa sama orang lain" protes Aira.
"Ga ada orang sayang dan nanti akan kita kanjut di dalam kamar okey" kata Evan sambil mengedipkan sebelah mata nakalnya.
"Idih, abang mesum" kata Aira membuat Evan terkekeh.
"Abang akan sering mesum sama istri abang sayang" bisik Evan setelah mereka sampai di depan pintu kamar sambil menunggu Aira membukanya.
Evan menurunkan Aira di sofa, karena permintaan Aira.
"Abang dulu apa Aira dulu yang mau mandi bang?" Tanya Aira.
"Kita mandi bersama saja sayang, jadi tidak perlu saling menunggu" jawab Evan sambil menaikturunkan alisnya membuat Aira manyun.
"Sayang kan kita sudah sah jadi suami istri, jadi gapapa dong kalau kita mandi bersama" kata Evan.
"Nggak bang, Aira aja kalau begitu ya yang mandi duluan" kata Aira kemudian masuk ke dalam kamar mandinya.
"Eh iya Aira ga bawa perlengkapan skincare dan baju Aira ke kamar ini" kata Aira yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Bajumu sudah ada disini sayang, kamu lihat aja di lemari itu" kata Evan sambil menunjuk lemari di dekat meja riasnya.
"Apakah itu artinya abang sudah membawa koper Aira ke sini yang semalam ada di kamar Aira." Tanya Aira sambil melihat Evan.
"Tidak sayang, itu semua sudah disiapkan sama Suryo" jawab Evan kemudian mengikuti Aira mendekati lemarinya.
Tetapi Aira tidak jadi menuju lemari setelah melihat banyak skincare yang sudah tertata rapi di meja riasnya saat akan melewati meja rias. Aira berhenti di depan meja riasnya kemudian mengambil salah satunya dan membukanya kemudian dipakainya untuk membersihkan makeup bekas riasan dari MUI yang berasa tebal.
Evan duduk di pinggiran ranjang yang tepatnya di belakang kursi rias dimana Aira duduk. Evan memandang Aira dari pantulan kaca.
__ADS_1
"Ngapain abang memandang Aira membersihkan makeup, bukannya abang mandi saja duluan" batin Aira.