Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 8.


__ADS_3

"Aini kami juga sama seperti mu, kita semua manusia biasa" kata Haris.


"Bang Aini tahu siapa Aini dan siapa bang Haris. Walaupun abang selalu menyembunyikan identitas abang." Kata Aini.


"Aini tahu siapa Haris dari mana?" Tanya Raka dengan santai melihat anaknya Haris yang kaget saat mendengar ucapan dari Aini bahwa Aini sudah mengetahui siapa Haris.


"Dari berita di televisi om, tadinya Aini sudah mau meminta putus dengan bang Haris setelah Aini tahu siapa bang Haris" kata Aini.


"Tapi Aini ternyata tidak mampu untuk jauh dari bang Haris yang selalu membuat Aini menjadi perempuan yang punya jati diri" jawab Aini.


"Aini, kami sekeluarga bukannya memandang seseorang dari si kaya dan si miskin. Kami menghargai siapa saja yang memang pantas untuk dihargai" jawab Raka.


"Jadi janganlah Aini memandang Haris atau kami semua akan membedakan kamu karena harta atau statusmu. Kamu dan kami semua sederajat di mata Tuhan. Kita sama-sama berjuang menjadi manusia yang bermanfaat buat sesamanya" kata Raka panjang lebar.


"Iya om, terima kasih banyak atas perhatian om kepada Aini yang hanya anak yatim piatu dan hidup di sebuah panti kecil" kata Aini.


"Sama-sama Aini, om dan anak-anak om juga berterima kasih Aini mau menerima Haris sebagai kekasih Aini selama ini dengan semua yang ada di diri Haris" kata Raka.


"Jadi hari ini juga om akan melamar kamu untuk Haris." Kata Raka membuat Aini kaget.


"Anggraini, apakah kamu bersedia untuk menikah dengan Haris Saputra?" Tanya Papa Raka.


Aini menangis tanpa bisa menjawab pertanyaan calon mertuanya karena tidak menyangka akan begini cepat lamarannya.


"Anggraini Budiarto, apakah kamu bersedia menikah dengan Haris Saputra?" Tanya Haris mengulang kata-kata sang papa.


"Iya Aini bersedia bang" jawab Aini. Haris langsung memeluk Aini dengan hati yang lega dan bahagia.

__ADS_1


Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah disiapkan beberapa hari lalu. Kemudian memberikan kotak itu di depan Haris dan Aini. Haris memandang Raka kaget dengan apa yang diberikan ayahnya.


"Terima dan pakaikan ini untuk Aini" kata Raka. Kemudian Haris membuka kotak kecil pemberian sang papa yang berisi sebuah cincin sederhana yang terukir inisial nama H dan A serta tanggal sekarang dimana lamaran itu diadakan.


"Iya sudah papa ukir inisial nama kalian dan ini memang rencana papa" kata Raka. Haris mengambil cincin itu dan menyematkan di jari manis kiri Aini.


Aini meneteskan air mata bahagia, tidak menyangka akan secepat ini akan tunangan dengan Haris terlebih dari keluarganya Haris yang dapat menerima Aini apa adanya.


Haris mencium tangan dan kening Aini kemudian menghapus air mata Aini yang menetes.


"Terima kasih banyak tuan mau menerima Aini yang tidak yang tidak memiliki apapun" kata Aini ke papa Raka.


"Aini mulai sekarang jangan panggil tuan, tapi panggil papa. Karena mulai sekarang kamu sudah menjadi tunangan Haris dan calon menantu papa. Dan apa kami semua sekarang adalah keluargamu juga" kata Raka.


"Baik pah, terima kasih sekali lagi" kata Aini.


"Mulai sekarang kamu punya papa, aku, adik-adikku merupakan adikmu juga sayang" kata Haris Aini menganggukkan kepalanya. Dia sudah tak mampu lagi bicara karena terharu dengan sikap keikhlasannya keluarga Haris kepada dirinya.


Setelah hidangan yang sudah dipesan tersaji, mereka menikmati dengan hati yang bahagia.


"Jadi mulai sekarang Aira sudah punya kakak perempuan, apakah besok kak Aini juga akan kita ajak ke rumah om Darwis pah?" Tanya Aini.


"O iya besok ikut saja ya Ris, ajak aja Aini ke rumah om Darwis agar Aini kenal juga dengan keluarga om Darwis" kata Raka.


"Iya pah, besok Haris jemput Aini sebelum kita berangkat" kata Haris.


"Om Darwis itu ayahnya Evandro" kata Haris menjelaskan ke Aini.

__ADS_1


"Loh Aini sudah kenal dengan Evandro?" tanya papa Raka.


"Sudah pah, waktu itu pas Haris lagi makan dengan Aini ketemu Evandro. Kemudian Haris kenalin Aini ke Evandro" kata Haris.


"O begitu, terus Evandro sendiri apa sudah punya kekasih?" Tanya Raka.


"Kelihatannya belum pah, Evandro terlalu sibuk dengan kerjaannya mungkin" jawab Haris.


Malamnya selesai Raka dan anak-anaknya makan malam dan perkenalan dengan calon menantunya, Raka pulang bersama Haikal dan Aira. Sedang Haris akan mengantar Aini terlebih dahulu baru pulang ke rumah.


"Sayang kamu tahu identitasku sejak kapan, kenapa tidak menceritakan sama abang" tanya Haris di dalam mobilnya.


"Aini baru tahu dua bulan lalu bang, sebenarnya Aini sudah mencoba untuk menjauhi abang. Tapi entah kenapa setiap bang Haris menjemput Aini, Aini tidak dapat menolak" kata Aini jujur.


Haris menepikan mobilnya, kemudian membuka setbeltnya dan menatap Aini.


"Kenapa setelah tahu identitas abang kamu justru menghindar dari abang?" Tanya Haris.


"Bang, Aini menyadari siapa Aini yang sangat tidak sederajad dengan keluarga Saputra." Kata Aini.


"Sayang kamu belum mengenal keluarga abang yang sesungguhnya, kamu tahu sendiri bagaimana tadi papa bilang. Bahkan papa langsung melamarmu untuk abang dan sudah menyiapkan cincin tanda mata untuk ikatan cinta kita" kata Haris serius.


"Bahkan jujur saja abang sendiri sangat kaget dengan apa yang papa lakukan hari ini untuk kita. Terus terang abang juga tidak menyangka jika hari ini adalah perkenalan kamu dengan keluarga abang sekaligus tunangan kita" kata Haris menggenggam kedua tangan Aini.


"Jadi tolong jangan pernah menghindari abang jika ada sesuatu yang kamu belum mendengar penjelasan langsung dari abang suatu saat nanti ya sayang" kata Haris lagi. Aini menganggukkan kepalanya tanpa dapat membensung air matanya yang menetes tanpa diundang.


"Terima kasih ya bang, atas kebaikan keluarga abang sama Aini" kata Aini.

__ADS_1


"Iya sayang, abang juga terima kasih karena kamu mau menerima lamaran abang" kata Haris sambil mengusap air mata Aini kemudian mencium kening Aini.


__ADS_2