
"Kita meeting dari jam 10 pagi ini kan?" Tanya Evandro pada sang asisten sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Benar tuan, sebentar lagi kita berangkat meeting ke restoran Shabuana" jawab Suryo.
"Berkas sudah kamu siapkan?" Tanya Evandro.
"Sudah semua tuan" jawab Suryo mantap.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat saja sekarang dari pada nanti macet di jalan" kata Evandro.
"Baik tuan" ucap Suryo.
💥 Kantor tekstil
Hari ini entah kenapa Reza bawaannya hanya emosi dan mudah sekali marah, apalagi jika apa yang dia dipikirkan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang dijalankan.
"Abang ada masalah apa sih sebenarnya, sejak tadi pagi waktu di rumah abang mudah sekali badmood hingga sekarang?" tanya Nayla di ruangan Reza.
Reza hanya diam menatap adeknya tanpa bersuara. Kemudian teringat akan dirinya pergi bersama Aira kemarin di butik ke restoran.
"Jangan bilang abang masih memikirkan dan mengharapkan Aira. Dia sudah bahagia dengan suaminya bang, abang jangan jadi pihak ketiga yang akan merusak kebahagiaan Aira" kata Nayla.
Reza membuang nafasnya kasar.
"Abang sudah berusaha move on Nay, tapi entah kenapa tiba-tiba saja ada rasa kecewa kenapa dulu abang meninggalkan Aira begitu saja tanpa memberikan kabar. Tapi abang juga sudah berusaha mencari Aira pada saat abang sudah selesai kuliah dan kembali lagi ke sini" kata Reza.
"Bang kalau saran Nay ya, cobalah abang belajar membuka hati buat gadis lain. Mungkin memang Aira bukanlah jodoh abang. Karena kalau memang kalian berjodoh pasti akan dipertemukan walau kalian saling menjauh" kata Nayla membuka pikiran Reza.
Reza merenung memikirkan apa yang dikatakan adeknya itu memang ada benarnya. Seperti halnya Evan yang lama kehilangan Aira, padahal abangnya Aira saja sahabatnya. Buktinya mereka sekarang dipertemukan dan bahkan sudah sah menjadi suami istri.
"Kita makan siang aja yuk bang" ajak Nayla.
"Memang kamu ga ada janji sama Haikal?" Tanya Reza.
"Tidak, bang Haikal hari ini sibuk karena ada meeting dengan om Raka katanya" jawab Nayla.
"Ya sudah yuk kita makan siang berdua kalau begitu" ajak Reza. Kedua kakak beradik ini keluar dari ruangan Reza menuju ke parkiran mobilnya.
💥 Kedai Sop
Reza dan Nayla makan berdua di sebuah kedai sop "Abang mau makan sop iga bakar atau sop apa?" Tanya Nayla.
__ADS_1
"Sop iga bakar aja dek" jawab Reza santai.
"Kok kesukaan abang mirip sih dengan Aira. Beberapa bulan lalu Nay makan sama Aira disini juga iga bakar, dia ga mau ditawarin yang lain selain iga bakar" kata Nayla.
"Ya Aira memang suka dengan iga bakar" kata Reza teringat kenangan saat dulu makan iga bakar berdua dengan Aira.
"Aira cerita apa saja dek sama kamu waktu makan iga bakar itu?" Tanya Reza ingin tahu.
"Jangan bilang abang punya kenangan berdua dengan Aira karena iga bakar?" Tanya balik Nayla.
"Dulu kami berdua memang sering makan iga bakar. Aira itu kalau lagi ga mau makan yang berkuah, maka dia akan makan iga bakarnya saja sedangkan sopnya suruh kakak yang makan" cerita Reza terkekeh sendiri mengingat kenangannya bersama sang mantan cantik.
"Benar kan tebakan Nay kalau abang punya kenangan dengan Aira. O iya bang kenapa di ruangan abang masih terpajang foto kalian berdua? Apakah abang ga takut di cemburui suaminya Aira jika dia tahu?" Tanya Nayla.
"Iya foto itu memang masih abang pajang" jawab Reza singkat seperti belum ingin menggantinya dengan foto yang lain.
"Abang cuci tangan dulu ya" kata Reza kemudian berdiri dan jalan menuju ke wastafel tempat untuk mencuci tangannya.
Kedai disini memang terkenal enak dan murah, banyak diserbu para mahasisiwa.
Brugh
Reza menatap gadis itu, begitu juga dengan gadis yang menabraknya itu, namun tidak berapa lama gadis itu langsung menundukkan kepalanya.
"Its okey, silahkan duluan. Tapi jangan panggil saya dengan pak karena saya belum tua" kata Reza datar menyuruh gadis itu untuk duluan.
"Eh i iya, terima ka kasih" kata gadis itu tergagap. Gadis itu bernama Rini seorang mahasiswa yang juga sedang bekerja sebagai office girl di suatu perusahaan untuk membiayai kuliahnya.
Reza mencuci tangannya setelah Rini selesai mencuci tangannya.
"Abang tadi kenapa bisa bertabrakkan dengan gadis itu" tanya Nayla.
Reza hanya mengangkat kedua bahunya dan tatapannya kembali kepada gadis yang duduk tidak jauh dari mejanya.
"Kelihatan dia anak mahasiswa dekat sini deh bang. Anaknya cantik juga" kata Nayla.
Reza hanya diam tanpa memberi komentar dan kemudian mengambil ponselnya dari saku celana.
"Abang, bukalah hatimu untuk yang lain" kata Nayla lagi.
"Iya adekkuuu, tenang ajaa" jawab Reza panjang seolah tanpa beban.
__ADS_1
💥 Kantor Evd
Aira sudah sampai di kantor sang suami, kemudian turun dari mobil sambil membawa 4 bungkus es buah. Sedangkan Evandro dan Suryo juga bersamaan baru sampai kantor saat Aira berdiri di depan lift.
Aira baru mau melangkah masuk lift sudah terdengar ada suara memanggilnya.
"Sayang, tunggu" panggil Evandro sambil berjalan cepat kearah istrinya.
Aira menengok ke belakang sebelum melangkah masuk ke lift.
"Abang, baru selesai meeting?" Tanya Aira menunggu suaminya datang.
"Iya yank kamu baru sampai sekarang, macet ya di jalan?" Tanya Evandro sambil memeluk istrinya mesra.
"Macet sih nggak bang, cuma tadi nemeni Vina dulu di sana" jawab Aira.
"Disana mana?" Tanya Evan sambil mengkerutkan dahinya.
"Di es bang Faris" jawab Aira sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu makan disana? Sama siapa aja?" Tanya Evan kurang suka jika istrinya ke es buah Faris. Memang dulu Faris pernah ingin mendekati Aira, tapi setelah mendengar bahwa Aira berpacaran dengan Lukas akhirnya Faris berhenti mendekati Aira.
"Iya sama Vina, Rio dan Anggi" jaeab Aira.
"Okey, besok lagi tolong di bungkus aja ya dan suruh Nuri saja yang beli. Kamu cukup menunggu di dalam mobil" kata Evan.
"Ya ampun abang, kan Aira nggak sendiri kesananya. Bareng sama banyak orang begitu. Ya akali bang Faris tertarik sama Aira yang lagi hamil" kata Aira sambil mencolek hidung suaminya.
"Kamu kalau begini bikin abang jadi ingin istirahat dikamar sambil peluk kamu deh sekalian nengok calon anak kita" kata Evan gemas melihat istrinya saat ini yang terkesan menggoda.
"Yeee itu mah modus" kata Aira. Evandro tertawa sambil memeluk pinggang istrinya untuk membawanya keluar dari lift.
"Itu bawa apa yank?" Tanya Evan.
"Bawa es buah buat abang, Aira, kak Suryo dan kak Lely." Jawab Aira.
"Ayo sekarang kita makan dulu baru nanti abang mau menengok calon anak kita" ajak Evandro dengan santai membuat Aira melotot ke arahnya.
"Kenapa, ada yang salahkah dengan ucapan abang?" Tanya Evan sambil menaikkan kedua alisnya.
"Ada, tapi tidak usah diperpanjang lagi. Sebaiknya kita makan dulu saja" jawab aira sambil tersenyum dengan mengeluarkan ke dua es buahnya di meja sofa ruangannya.
__ADS_1