Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 7.


__ADS_3

Karena Lukas sengaja ingin tahu apa yang akan Rio dan Aira lakukan, yang ternyata mereka hanya mengobrol di sepanjang perjalanan dari ruang rapat hingga ke parkiran mobil.


💥 Kediaman Raka


Aira melajukan mobilnya dari kampus untuk pulang ke rumah. Aira sampai di rumah langsung masuk ke kamarnya untuk istirahat.


Raka tidak biasa tidur siang hari, karena sudah terbiasa dengan kesibukan di kantor. Jadi Raka hanya duduk santai di belakang rumah sambil ngobrol dengan tukang kebunnya pak Adang suami dari bi Minah. Sedangkan anak dari pak Adang dan bi Minah yang bernama Andra kerja di kantor Haris sebagai sekertaris yang tinggal di apartemen.


Tapi pak Adang dan bi Minah tidak mau diajak hidup di apartemen. Pasangan paruh baya ini lebih suka tinggal dengan majikannya. Karena tidak tega meninggalkan rumah yang sudah membuatnya membesarkan sang anak hingga menjadi sekarang ini.


Setiap weekend Andra sang sekertaris Haris selalu meluangkan waktu untuk bersama dengan pak Adang dan bi Minah. Andra tumbuh menjadi anak yang baik berkat didikan Raka yang juga ikut campur tangan dari kecilnya Andra. Haris dan Andta teman sekolah dari masa kecil. Usia mereka hanya terpaut 3 bulan.


Haris berangkat terlebih dulu karena mesti menjemput sang kekasih hatinya baru membawanya ke restoran untuk diperkenalkan kepada keluarganya terutama sang papa tercinta.


Sedangkan Haikal dan papa tercintanya Raka, duduk manis di sofa menunggu gadis cantik yang masih merias diri di dalam kamarnya. Aira merias diri dengan menggunakan bedak tipis dan liptin, kemudian turun ke bawah karena sudah ditunggui sang papa dan abang tercintanya.


"Sudah selesai dandannya tuan putri?" Tanya Haikal sambil tersenyum.


"Ih abang, kan memang cewek dandan pasti lama dong." Protes Aira yang ga mau dikatai lama dalam berdandan. Papa Raka hanya tersenyum melihat anak gadisnya protes dengan abangnya.


"Sudah selesai semuanya, ayo kita berangkat biar Haikal yang pegang kemudi ya" kata papa Raka.


"Siap pah" jawab Haikal.


Raka berangkat bersama kedua anaknya.


💥 Restoran


Di restoran Raka bersama kedua anaknya telah sampai lebih dulu sebelum Haris dan Anggraini datang.


"Ini ada acara apa sih pah?" Tanya Aira.


"Bang Haris mau mengenalkan kekasihnya dengan kita semua" jawab Raka.

__ADS_1


"O gitu, wah nanti Aira akan dapat kakak perempuan dong kalau begitu bisa Aira ajak teman belanja" kata Aira.


"Hadueh cewek kenapa selalu yang dipikir belanja sih" kata Haikal.


"Ya cewek pasti begitu dong bang, lagian Aira kan bukan belanja barang-barang yang tidak bermanfaat seperti cewek-cewek matre" protes Aira.


"Sudah...kalian kenapa selalu ribut ya hanya urusan belanja. Ya begitulah perempuan itu Kal isinya hanya belanja kalau tidak ada kegiatan. Tapi papa sukanya dengan anak gadis papa ini memang benar tidak suka membelanjakan uang papa dengan barang-barang yang hanya untuk pamer saja" kata Raka.


"Tuh pa bang Haris sudah datang" kata Aira melihat Haris jalan bergandengan dengan seorang gadis cantik.


"Aini, kenalkan ini papaku dan ini adik laki-lakiku, kalau ini adik perempuanku yang manja" kata Haris ke Aini.


Aini mencium punggung tangan papa Raka sambil menyebutkan namanya kemudian menjabat tangan Haikal dan Aira.


"Aini om" kata Aini.


"Raka, papanya Haris" kata Raka dengan senyumnya.


"Haikal"


"Aini"


"Aini"


"Ayo duduk semua, biar kita bisa mengobrol dengan santai." Kata Raka mempersilahkan kekasih anaknya agar duduk dengan santai tidak perlu tegang.


"Kalian sudah lama kenal?" Tanya papa Raka ke Haris dan Aini.


"Kami pacaran 2 tahun om" jawab Aini.


"Sudah lumayan mengenal berarti ya, seperti apa Haris itu" kata Raka.


"Mungkin sebagian Aini mengenal bang Haris, cuma dengar kabar bang Haris orangnya galak. Tapi Aini belum pernah lihat bang Haris marah" kata Aini tersenyum dengan melirik ke kekasihnya.

__ADS_1


Haris hanya tersenyum mendengar obrolan kekasihnya dengan papa tercinta. Raka pun hanya terkekeh mendengar ucapan Aini. Memang Haris terkenal orang yang tegas, disiplin dan galak. Haikal dan Aira saja takut jika Haris sudah memerintah dengan setengah serius.


"Aini tinggal dengan siapa selama ini?" Tanya Raka.


"Aini tinggal dengan salah satu karyawan Aini om, biar Aini ada teman di rumah" jawab Aini.


"Sudah lama buka usahanya?" Tanya Raka.


"Kira-kira sudah 4 tahunan om, tapi Aini buka awal dulu masih sangat kecil sekali belum ada tempat untuk pelanggan duduk" jawab Aini.


"Berarti perkembangannya bagus dong" kata Raka. Dan Aini menganggukkan kepalanya.


"Memangnya kak Aini buka apaan?" Tanya Aira


"Kakak buka bakery" jawab Aini sambil tersenyum melihat ke Aira.


"Ih asyik dong, bolehkah kapan-kapan Aira main ke ke bakery kakak?" Tanya Aira lagi


"Boleh, kakak akan senang sekali kalau Aira mau mampir kesana" jawab Aini.


"Terima kasih kak, kapan-kapan Aini ke sana ya ajak bang Haikal" jawab Aini.


"Iya, kakak tunggu ya" kata Aini.


"Apakah kalian sudah serius dan siap untuk menikah atau mau tunangan dulu saja?" Tanya Raka ke Haris dan Aini.


"Kami sudah siap pah, tapi kalau Aini maunya kami tunangan dulu. Kalau Haris maunya segera menikah saja" kata Haris.


Raka menganggukkan kepalanya tanda setuju bagaimana nantinya saja.


"Papa merestui hubungan kalian dan papa juga ingin kalian segera tunangan dan menikah karena tidak ada lagi yang kalian tunggu kan" kata Raka.


"Terima kasih pah" kata Haris melihat kekasihnya yang malah meneteskan air matanya tanpa sadar.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis nak?" Tanya Raka melihat calon menantunya menangis.


"Maaf om, Aini tidak menyangka akan mendapat restu dari om. Sedangkan Aini siapa jika di banding dengan bang Haris." Kata Aini menangis.


__ADS_2