Berbeda Jalan

Berbeda Jalan
Eps 187. Nyaman karena bisa nostalgia


__ADS_3

"Jangan memancing abang disini sayang, abang sudah ingin segera membawamu masuk ke kamar" bisik Evan membuat Aira merinding dan  nampaklah rona merah diwajahnya.


"Aira tidak memancing bang" ucap Aira yang tidak menyadari akan sikapnya yang membuat sang suami jadi mengingankannya, apalagi ada yang sudah menegang dibawah sana.


"Ya ya tidak memancing hanya membuat abang jadi on sayang" bisik Evan sambil menggandeng tangan sang istri untuk masuk ke unit apartemennya.


"Apanya yang on bang?" Tanya Aira mengkerutkan dahinya bingung.


"Sudah jangan dipikirkan, nanti juga kamu akan tahu" jawab Evan sambil menutup pintu apartemenya setelah istrinya jalan masuk ke dalam.


"Mau mandi dulu ah, gerah badanku" gumam Aira yang didengar Evan yang langsung mengekor istrinya memasuki kamar mandi.


Saat Aira mau menutup pintu kamar mandi, dirinya dibuat kaget adanya sang suami yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Loh abang mau ngapain ikut ke sini?" Tanya Aira kaget.


"Abang juga mau mandi yank sekalian membantumu menggosok punggung" jawab Evan sambil tersenyum menggoda istrinya dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Idih modus banget, Aira bisa mandi sendiri sayang" jawab Aira sambil mencolek pipi sang suami dengan kedipan mata satunya.


"Abang hanya mau membantumu sayang agar istriku tidak kerepotan saat menggosok punggungnya okey" kata Evan sambil menaikturunkan kedua alisnya.


Aira mencolek pipi sang suami sambil terkekeh.


"Bilang aja kalau lagi punya mau" kata Aira sambil menyalakan air kran di bathup.


Evan memeluk tubuh sang istri dari belakang hingga akhirnya keduanya sudah polos tanpa menganakan sehelai kainnya.


Dan benar saja mandinya mereka jadi lama karena ada tambahan menggosok punggung sang istri wkwkwk....


Setelah Aira menyiapkan makanan untuk makan malam bersama, Aira memanggil suaminya yang sedang sibuk di depan laptopnya di dalam kamar mereka.


"Abang masih sibuk ya?" Tanya Aira sambil duduk di sebelah sang suami.

__ADS_1


Evan mendongakkan kepalanya menatap sang istri, kemudian tangannya memeluk pinggang istrinya dan mengecup kening Aira.


"Kenapa yank?" Tanya Evan lembut.


"Makan malam dulu, baru nanti dilanjutkan lagi kerjanya" kata Aira.


"Ya sudah yuk kita makan dulu" kata Evan kemudian mematikan laptopnya dan menggandeng tangan sang istri menuju meja makan.


Selesai makan malam, Evan duduk disebelah istrinya di sofa depan televisi.


"Siang tadi makan dimana sama Rini?" Tanya Evan.


"Beli makan diluar kemudian kita makan berdua di kantor. Eh selesai makan tak lama kemudian kak Reza datang membawa rujak dingin jadi langsung aja Aira makan. Segar deh makan rujak dingin dising hari bang" jawab Aira.


"Kelihatannya senang ya dibawain sama mantan, apalagi duduk dalam satu ruangan. Pantas aja kamu ga mau lagi ke kantor abang. Apa karena sudah ada yang lebih membuatmu nyaman" kata Evan.


"Maksud abang apa sih, Aira kan memang selama hamil ini suka makan rujak bang dan kebetulan kak Reza datang membawa rujak" kata Aira.


"Iya apalagi yang bawain mantan kan dan makan bersama lagi" kata Evan asal dan kebetulan memang benar Aira makan rujaknya berbagi dengan Reza walaupun dengan piting yang berbeda.


"Apa maksudmu sayang, tidak akan ada tamu wanita yang berkunjung ke ruangan abang" kata Evan.


"Tidak apa-apa, Aira sudah nyaman dengan kedua kantor Aira sendiri" kata Aira.


"Nyaman karena bisa nostalgianya" sindir Evan.


"Terserah abang saja, abang juga bisa kan nostalgia dengan mantan di kantor" ucap Aira kemudian berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamarnya meninggalkan sang suami yang masih duduk di sofa depan televisi.


Evan tidak lagi melanjutkan ucapannya, yang pasti akan membuat keduanya semakin ribut jika dilanjutkan. Evan memang masih suka cemburu dengan melihat Aira berdua dengan Reza di kantor apalagi duduk dalam satu ruangan yang sama.


Aira merebahkan badannya di atas kasur dan mencoba memejamkan matanya yang sebenarnya masih belum terlalu mengantuk agar jika suaminya masuk ke kamar, dirinya sudah tertidur.


"Ceklek" 

__ADS_1


Evan membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri yang sudah merebahkan badannya dengan mata terpejam.


Evan duduk di sofa dan melanjutkan pekerjaannya dengan membuka laptopnya kembali. Tiba-tiba terbayang kembali dimana sang istri duduk dalam satu ruangan bersama Reza saat di kantor Aira.


"Apakah nanti mereka akan setiap hari dalam satu ruangan yang sama?" Batin Evan bertanya, ada ketidakrelaan jika istrinya akan dekat kembali dengan Reza.


Evan membuang nafasnya berat kemudian kembali mematikan layar laptopnya karena tidak ada gunanya melanjutkan pekerjaannya jika pikirannya tidak dapat fokus pada kerjaan. Evan ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memeluk sang istri yang membelakanginya.


"Sayang, maafkan abang yang selalu cemburu jika melihatmu bersama Reza. Abang terlalu mencintaimu dan abang tiidak ingin kehilanganmu" kata Evan pelan sambil menciumi tengkuk sang istri yang tidur miring membelakangi sang suami.


Aira menahan geli dengan ciuman sang suami di tengkuknya agar suaminya tidak tahu bahwa dirinya belum tidur.


"Sayang, abang tahu kamu belum tidur kan. Besok kita ke dokter dan langsung ke kantor abang ya yank" kata Evan. Namun Aira tidak juga menjawab ucapan sang suami.


Sejujurnya Aira tidak ingin lagi pergi ke kantor suaminya karena tidak mau lagi mengulang kejadian yang sama. Aira merasa pekerjaannya di butik dan karaoke, bukan di kantor suaminya yang membuatnya tidak bebas mendesign karyanya.


"Yank... kamu belum tidur kan, abang tahu kamu hanya pura-pura tidur" bisik Evan sambil mencium daun telinga sang istri hingga tanpa sadar ******* Aira keluar dari bibirnya yang didengar Evan.


Evan tersenyum mendengar ******* sang istri yang membuatnya semakin menginginkan lebih. Aira menggerakkan tangannya ke arah telinga untuk menutup telinganya agar suaminya berhenti mengganggunya.


Evan menggerakkan tubuh sang istri agar menjadi terlentang, kemudian Evan menatap wajah istrinya yang juga menatapnya.


Evan langsung mencium bibir tipis sang istri yang membuatnya selalu ingin menyentuhnya tanpa bisa berhenti jika menatap istrinya. Tangan Evan sudah berada di kedua gunung kembar sang istri dan meremasnya secara bergantian.


"Ah abang, pelan-pelan, sakit bang" kata Aira pelan dengan suara serak.


"Iya sayang, abang akan pelan-pelan" jawab Rvan dengan suara seraknya yang sudah membuatnya menginginkan lebih hingga keduanya saling mengeluarkan suara-suara anehnya namun terdengar seksi ditelinga keduanya.


"Abang mau sampai sayang" bisik Evan menatap sang istri dengan pandangan yang berkabut.


Aira mendesah menikmati pergerakan sang suami hingga keduanya sama-sama mengeluarkan suaranya diakhir penyatuannya.


Evan menjatuhkan tubuhnya disamping sang istri dengan nafas yang masih belum beraturan.

__ADS_1


"Capek ga yank?" Tanya Evan menatap sang istri yang terbaring disampingnya.


"Nggak hanya lemas bang" jawab Aira sambil mengatur nafasnya yang masih naik turun. Evan terkekeh melihat istrinya protes namun ga bisa marah.


__ADS_2