
"Ini lagi baca-baca postingan di sosial medianya kak Leo" jawab Aira jujur.
"Siapa Leo dan memang postingannya apa?" Tanya Evandro penasaran.
"Kak Leo itu kakak tingkat Aira di kampus" jawab Aira .
"Postingannya apa?" Tanya Evandro.
"Maaf mengganggu, ini minumnya kak" kata pelayan rumah makan yang mengantarkan minumannya.
"Iya terima kasih mbak" jawab Aira.
Sedangkan Evan masih penasaran, karena seingat Evan yang namanya Leo itu adalah teman Lukas, jadi membuat Evan makin penasaran dengan apa yang di posting Leo itu.
Aira juga membaca postingan dari Rio yang mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan sekaligus permintaan maafnya karena tidak dapat hadir di acara Lukas karena ada acara lain di waktu yang bersaman tanpa mengatakan bahwa Rio datang di acara pernikahan Aira dan Evan.
"Sayang, tadi pertanyaan abang belum kamu jawab deh" kata Evandro mengingatkan Aira.
"Hah pertanyaan yang mana bang?" Tanya Aira.
"Apa yang di posting Leo tadi?" Tanya Evan.
"O itu... foto pernikahan sahabatnya yaitu kak Lukas dengan istrinya." Jawab Aira datar.
"Kamu kecewa Lukas menikah?" Tanya Evan menatap Aira, Aira hanya menggelengkan kepalanya.
"Ini Aira hanya ikut mengucapkan selamat saja ke kak Lukas atas pernikahannya" jawab Aira.
Dan ternyata setelah Aira memberikan ucapan selamat, Lukas yang kebetulan juga sedang membuka sosial medianya langsung membalas semua ucapan yang ditujukan padanya.
Lukas pun juga membalas ucapan Aira dan juga memberikan ucapan selamat pada Aira.
"Selamat menempuh hidup baru juga, semoga bahagia dan semoga ini adalah jalan yang terbaik buat kita" ucapan selamat Lukas yang ditujukan pada Aira.
Aira hanya memberikan komentarnya dengan menuliskan kata aamiin saja untuk membalas ucapan Lukas.
Lukas mengirimkan pesan pribadi pada Aira dengan menanyakan kabar Aira dan permintaan maafnya yang pernah menyakiti Aira saat-saat terakhir hubungan mereka sebelum putus.
Tapi Aira belum langsung menjawabnya karena putus dengan datangnya pesanan ikan dan udang bakarnya.
Evan memperhatikan perubahan pada raut wajah Aira yang berubah jadi sendu seperti memendam rasa kecewa.
"Sayang kita makan dulu, ponselnya dilepaskan dulu ya" kata Evan dengan sabar.
__ADS_1
"Iya bang" jawab Aira kemudian meletakkan ponselnya.
"Enak nggak udangnya yank?" Tanya Evan sengaja mengalihkan pikiran Aira.
"Iya lumayan" jawab Aira asal.
"Nih cicipin deh ikannya enak loh" kata Evan menyuapi Aira ikan bakar.pedas. Aira menatap Evan.
"Enak kan ikan bakarnya?" Tanya Evandro.
"Iya tapi pedas bang" kata Aira.
"Mau yang ga pedas, sebentar" kata Evan setelah menawarin Aira langsung memanggil pelayan restoran memesan ikan bakar lagi tapi tidak pedas.
Aira kembali memegang ponselnya karena ada notifikasi pesan masuk.
"Makan dulu sayang, nanti selesai makan baru pegang ponsel lagi." Evan memperingatkan.
"Iya bang, ini cuma mau baca pesan masuk aja kok" jawab Aira.
"Memang penting ya pesannya?" Tanya Evandro lagi.
"Tidak sih" jawab Aira setelah tahu siapa yang mengirim pesan.
"Kirain Aira sih bang Haikal atau bang Haris, ternyata bukan" jawab Aira tanpa mau menyebutkan siapa pengirim pesannya.
"Tadi abang jadi pesan ikan bakar lagi?" Tanya Aira yang tahu arah pembicaraan suaminya.
Evandro pun juga tahu bahwa Aira mengalihkan pembicaraan, namun Evan hanya menjawab dengan anggukkan kepala saja.
"Abang buka deh mulutnya, aku suapin udangnya enak" kata Aira agar Evan tidak banyak bertanya lagi.
"Enak kan bang, saos padangnya sangat berasa" kata Aira.
Evan hanya memandang Aira tanpa memberikan komentar apapun.
"Nanti saat kita resepsi pasti Lukas dapat undangan dari papa Raka" kata Evandro tiba-tiba.
"Maksud abang apa, kok tiba-tiba bicara begitu?" Tanya Evandro.
"Abang hanya mau memberitahumu" jawab Evan datar.
Aira tahu jika Evan sedang cemburu.
__ADS_1
"Kak Lukas mengucapkan selamat atas pernikahan kita" kata Aira pelan.
"Tapi Aira belum menjawabnya" kata Aira lagi karena Evandro hanya diam dengan menatap Aira datar.
"Lukas sekarang milik orang lain, begitupun Aira yang sekarang sudah jadi milik bang Evan. Dan maaf abang ga ingin kamu memberikan perhatian pada pria lain selain suamimu" kata Evandro tegas dan dingin.
"Maaf bang, Aira tahu bahwa Aira sudah menjadi istri abang. Dan Aira juga hanya akan membalas ucapan dan doanya saja" kata Aira.
Ikan bakar yang tadi dipesan pun datang.
"Itu ikan bakarnya yang tidak pedas kamu aja yang makan, abang sudah kenyang" kata Evandro dingin kemudian berdiri mau mencuci tangannya.
Aira memandang sikap Evandro yang berubah jadi dingin padanya. Aira pun juga jadi malas meneruskan makannya, dimana udangnya pun juga masih ada apalagi ikan yang baru saja dipesan tak tersentuh sama sekali oleh Aira.
Evandro selesai mencuci tangan kembali duduk, Aira langsung berganti berdiri untuk mencuci tangannya juga.
"Kita pulang saja bang, Aira sudah kenyang" kata Aira setelah selesai mencuci tangannya.
"Itu ikannya kenapa ga dimakan, kan sudah dipesankan yang ga pedas" tanya Evandro.
"Aira udah kenyang" jawab Aira singkat.
"Kalau membalas pesan ga ada kenyangnya ya" sindir Evan membuat Aira menatap Evan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aira memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian berjalan menuju keluar dari rumah makan itu meninggalkan Evan. Ada rasa sakit saat Evan menyindirnya. Karena merasa Evan tidak pernah bisa mempercayai Aira.
Evan berdiri meminta pelayan membungkus ikan bakarnya yang masih utuh dan udang Aira yang tinggal setengah buat nanti malam kalau Aira masih lapar.
Aira berjalan sendiri tanpa menunggu suaminya memasuki villa dan langsung duduk di bangku belakang villa menghadap ke pantai.
Aira menangis disana tanpa dengan duduk bersandar pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya dalam kegelapan.
Sedangkan Evan yang keluar dari rumah makan itupun mencari Aira yang tak lagi dilihat keberadaannya. Evan berjalan menuju villanya dan mencari Aira memasuki kamarnya, kamar mandi dan semua ruangan, tapi tak menemukan istrinya.
"Dimana Aira, kemana tadi perginya?" Gumam Evandro yang tak menemukan Aira disetiap ruangan villa.
Evan melihat pintu belakang villa yang ke arah pantai terbuka langsung menghampirinya dan melihat kearah sekeliling pantai. Matanya tertuju pada seseorang yang duduk di atas bangku dipinggir pantai dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Evan mendekati Aira yang masih menangis dengan memejamkan matanya.
"Apakah aku salah jika hanya membalas pesan bang, aku tahu memang berat untuk melupakan seseorang yang dulu pernah ada di hati. Tapi bukan maksud Aira untuk menduakan hati" gumam Aira yang tanpa dia sadari ada sepasang telinga yang mendengar gumamannya.
"Baiklah jika abang masih belum bisa mempercayai Aira dan masih menganggap Aira menduakan, aku ga akan lagi peduli." gumam Aira lagi.
__ADS_1