Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 100


__ADS_3

Imajinasi pun seakan lebur dicairi oleh penatnya Mentari, khayalan demi khayalan temani sepi. Sesaat Papa Aksa mengumbar senyum dalam kesendiriannya, lamunannya semakin terbang dan melambung sampai langit ke tujuh, tak lama berselang Keysa dan Bu Zana pun menghampiri Papanya yang dengan setia menunggu di meja makan.


"Selamat siang Pa," ucap Keysa sambil memeluk Papanya.


"Kok lama banget sih, perut Papa sudah keroncongan," jawabnya.


"Maaf Pa, Keysa asyik main Game," ujarnya.


"Semenjak kapan Kamu suka main Game?" tanya Papanya sambil menatapnya.


"Bukan main Game Pa, tapi Keysa ketiduran," ujarnya.


"Kamu kenapa?" tanya Papanya lemah lembut.


"Keysa baik-baik saja Pa," jawabnya senyum sambil melirik Bu Zana yang duduk berhadapan dengannya.


"Maklum Pak, Keysa kan tukang tidur wajar dia selalu telat untuk makan," ucap Bu Zana mengalihkan perhatian Papa Aksa.


Keysa pun senang saat mendapat pembelaan dari Bu Zana setidaknya ia bisa bernafas dengan lega, dan terhindar dari pertanyaan-pertanyaan Papanya yang justru akan membuatnya pusing.


Papa Aksa pun menatap Keysa dalam-dalam dengan rasa kecewa menyelimuti hatinya yang sedang berbunga-bunga, ia tau Keysa menyimpan sesuatu itu terlihat dari sorotan matanya yang kosong dan senyumnya yang sinis, tapi Papanya berusaha senyum karena ia tau betul dengan sifat Keysa yang sangat manja itu.


"Ayok makan kok malah bingung!" ucap Bu Zana mencairkan suasana yang mulai tegang.


"Iya Bu," jawabnya sambil melirik kearah Keysa yang hanya memandang makanan yang ada di depannya.

__ADS_1


"Keysa, Ibu sengaja masak Ikan Bawal kesukaanmu loh," ucapnya senyum.


"Ayok makanlah, kasihan Bu Zana sudah capek-capek masak buat Kamu," ucap Papa Aksa lembut.


Keysa menatap Papanya, dengan mata berkaca-kaca dengan seribu rasa sesal dalam hatinya.


"Ya Allah, kenapa Keysa selalu membuat Papa kesal," bisiknya dalam hati.


"Sebentar Pa, Keysa mau ambil kecap dulu," ucapnya sambil meninggalkan Meja makan.


Papa Aksa tidak menjawab hanya menatapnya dengan jengkel, ia seakan tak mampu menghadapi sifatnya yang selalu membuatnya tersulut emosi.


"Keysa kenapa ya Bu, semakin hari sifatnya selalu menjengkelkan," ucapnya frustasi.


"Tapi Keysa sudah keterlaluan Bu," ujarnya.


"Sudah Pak, jangan membuat suasana semakin keruh, Bapak harus sabar menghadapi Keysa," pinta Bu Zana.


"Iya Bu, tapi kadang muak dengan sifatnya itu yang terlalu kekanak-kanakan," ucapnya kesal.


"Ibu ngerti, tapi Bapak harus berlapang dada dengan semua perubahan Keysa," ujarnya.


"Entahlah Bu," ucapnya singkat.


Sementara Keysa di dapur menangis tersedu-sedu dengan pikirannya yang sangat kacau, rasa bersalahnya membuatnya terpuruk dan tidak tau harus berbuat apa-apa selain menangis dan menangis sebagai luapan rasa kecewanya, tiba-tiba Bu Zana menghampirinya dan menepuk pundaknya dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan siksa hidupmu dengan rasa benci itu," ucapnya tegas.


"Ibu boleh berkata begitu, karena Ibu tidak tau apa yang kurasakan saat ini,' jawabnya ketus.


"Kamu salah, Ibu tau semua apa yang Kamu rasakan sebelum Kamu ceritakan semua apa yang ada dalam hatimu," ujarnya.


"Ibu sok tau aja," ucapnya sinis.


"Ibu yang merawat mu sejak kecil, jadi Ibu tau persis sifat dan kepribadianmu," jawabnya.


"Sudahlah Bu, Keysa gak butuh ceramah Ibu,' lirihnya.


"Tapi Kamu harus dengar demi kebaikanmu, dan masa depanmu Keysa," ucapnya tersendat.


"Kalau Ibu perduli dengan Keysa, lakukan apa yang Keysa inginkan,' jawabnya sembari menjerit.


"Ibu tidak mau menyakiti perasaan Papamu yang berhati mulia itu Keysa, apa yang ia lakukan saat ini semata-mata hanya untuk kebaikanmu, jadi tolong berpikirlah secara dewasa demi Papamu," tuturnya.


Keysa menatap Bu Zana dengan tatapan sinisnya seakan ingin menelannya hidup-hidup agar ia terbebas dari semua ceramahnya.


_________________________________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


"

__ADS_1


__ADS_2