Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 139


__ADS_3

Fany pun memilih diam, ia tidak ingin suasana semakin panas, karena itu hanya membuat Keysa semakin membencinya, suara langkah kaki menuju Kamar Keysa membuat Fany berusaha tenang seakan tidak terjadi apa-apa, ia pun membalikkan tubuhnya dan kaget saat melihat Papa Aksa sudah berdiri tegak di depan pintu kamar.


"Mas, bikin kaget saja," ucapnya mencairkan suasana.


"Maaf ya, Mas membuatmu kaget," ucapnya sambil menatap Fany dan Keysa bergantian.


"Gak kok Mas," lirihnya senyum.


"Mas, senang lihat kalian akur," ucapnya sambil meraih tangan Fany dan Keysa dengan wajah senang.


Jelas akur dong Mas, Keysa kan Anakku juga," jawabnya tegas.


Keysa menatapnya dengan tatapannya yang sinis, ia pun mencibir sebagai luapan rasa bencinya pada Fany.


"Keysa, sekarang Fany sudah menjadi Istri Papa sekaligus Ibu sambung Kamu, Papa harap hargai dia sebagai Orang tuamu," ucapnya tegas.


"Iya Pa," jawabnya singkat.


"Terimakasih ya Putri Papa yang cantik," ucapnya sambil mencubit pipinya dengan gemas.


"Sama-sama Pa," jawabnya.


"Ya sudah, Papa keluar dulu ya, mungkin masih ada yang ingin kalian bicarakan," ujarnya.


"Tidak ada lagi Pa," ucapnya serentak.


"Hehe, kalian memang sangat cocok, sampai isi hati saja sama," ujarnya menggoda.


"Papa salah, itu hanya kebetulan saja,' bisiknya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.


"Mas, mungkin Keysa mau istirahat, seharian capek bantu Bu Zana," ucapnya setengah berbisik.

__ADS_1


"Iya sudah, ayok Kita keluar," jawabnya.


"Keysa, Papa keluar dulu ya, Papa juga mau istirahat," lirihnya sambil menggandeng tangan Fany keluar.


"Silahkan Pa," ucap Keysa kesal.


Fany pun dengan manja menggandeng Papa Aksa ke dapur, dengan senyumnya yang menggoda membuat Papa Aksa ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamanya.


"Mas, kira-kira Bu Zana masak apa ya," tanyanya penasaran.


"Mas, gak tau Sayang," jawabnya.


"Kok gak tau Mas?" tanyanya.


"Emang Mas tukang masak," jawabnya senyum.


Fany pun tertawa sambil mencubit pinggang Papa Aksa dengan manja sambil menapaki Keramik putih dengan perasaan campur aduk, marah, kesal, kecewa, takut campur jadi satu.


"Ya Allah, bantu Aku untuk menjalani semua ini, Aku ingin Keysa berubah,"bisiknya dalam hati.


"Siapa yang bingung Mas?" jawabnya.


"Kok tiba-tiba wajahmu berubah," tanyanya.


"Itu cuma perasaan Mas saja," jawabnya.


"Mungkin juga," gumamnya.


"Mas, andaikan Kamu tau apa yang kurasakan saat ini mungkin Kamu tidak akan sanggup, hatiku hancur Mas," bisiknya dalam hati.


Fany mulai bingung dengan perlakuan Keysa, rasanya ia ingin menjerit sebagai luapan rasa kecewanya pada Keysa, ia pun merasa tidak bersalah menikahi Papanya, karena ia seorang duda.

__ADS_1


"Mas, ngapain juga susul Fany," ucapnya.


"Gak nyaman tidur kalau gak dekat Istriku yang cantik," jawabnya.


"Mulai deh gombalnya," keluh Fany.


"Kok gombal, Mas hanya mengungkapkan yang sebenarnya," ucapnya.


"Oh begitu ya Mas," jawabnya.


"Ya iyalah," ujarnya senyum.


Fany menggelengkan kepalanya, sambil menarik nafas kasar dan melepaskan genggaman tangan Papa Aksa.


"Mas, kepalaku kok tiba-tiba pusing ya," keluhnya sambil memegang kepalanya.


"Ayok, istirahat saja Sayang, mungkin Kamu lelah," ucapnya.


"Mungkin juga Mas," jawabnya.


Papa Aksa pun membopongnya ke kamar, dan membaringkan tubuh mungilnya di kasur.


"Ada apa Sayang, kok wajahmu pucat?" tanyanya.


"Gak tau Mas, Fany juga bingung," jawabnya.


"Ayok Kita ke Dokter," pintanya.


"Gak usah Mas, nanti juga sembuh," ucapnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Sekejap Fany merasa seisi kamar terbalik, ia menjerit dengan kerasnya membuat seisi rumah panik.

__ADS_1


_______________________&&&&&&&&&&&


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman


__ADS_2