
Waktu pun bergulir dengan cepat, Matahari yang sudah hampir menghilang menciptakan keheningan sore, Kakek dan Nenek Fany pun beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Papa Aksa dan Fany yang masih duduk santai diruang tengah.
"Om, siapa yang nelpon tadi kok gak diangkat?" tanyanya kesal.
"Om, juga gak tau," jawabnya.
"Diangkat lah Om, biar tau siapa," lirihnya.
"Malas, soalnya Nomor baru," ucapnya sambil menatap layar Ponselnya.
"Bohong," jawabnya ketus.
Papa Aksa sejenak terdiam, sambil menatap Fany dengan wajah kesalnya.
"Ngapain Om berbohong!" ucapnya.
"Tetap Fany tidak percaya," jawabnya tegas.
"Kamu gak percaya sama Om?" tanyanya.
"Fany percaya kalau Om menelepon balik," jawabnya.
Jantung Papa Aksa terasa copot saat mendengar ucapan Fany untuk kembali menghubunginya.
"Sudahlah tak perlu dibahas," ucapnya.
"Tapi Fany mau Om," jawabnya.
Papa Aksa mulai ketakutan, dengan denyut jantung lebih kencang lagi, ia takut Fany marah dan memutuskan hubungan mereka.
"Oke, Om akan cerita," ucapnya tersendat.
Fany pun menatapnya dengan sinis, dan tak sabar menunggu penuturannya, sementara Papa Aksa bingung harus memulainya darimana.
"Cerita lah Om," pintanya.
__ADS_1
"Sebenarnya, Om gak tau itu siapa, cuma dua hari kemarin ia meneleponku dan berusaha untuk menggodaku, tapi Om berani sumpah kalau Om sama sekali tidak mengenalnya," tuturnya.
"Dasar pembohong," ucapnya.
"Awalnya Om mau jujur tapi takut Kamu marah, karena Om tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita," jawabnya lembut.
"Dasar laki-laki mata keranjang," ucapnya marah.
"Maaf ya, Om tidak jujur sama Kamu, tapi Om tidak tau itu siapa," jawabnya dengan tenang.
"Mana ada maling ngaku Om, kalau ada penjara penuh tuh," ucapnya ketus melampiaskan amarahnya.
"Kalau Kamu gak percaya, biar Kamu yang nelpon," jawabnya sambil menyodorkan Ponselnya.
Fany pun sejenak terdiam dan menarik nafas dalam-dalam, rasa kecewa menyelimuti hatinya hingga ia ingin mati saja.
"Sudah, Om saja yang nelpon," perintah Fany.
"Boleh," lirihnya sambil mengambil Ponselnya dari Fany.
"Halo, ini siapa ya?" tanya Papa Aksa.
"Hai Sayang, apa kabar," jawabnya menggoda.
"Beraninya Kamu panggil Sayang sama Suami Orang," ucapnya tegas.
"Hahaha, Suami Orang? bukankah Istrimu sudah meninggal?" jawabnya tertawa.
"Iya Aku tau, tapi Aku sudah Nikah lagi," tuturnya.
"Jangan bercanda dong Mas, ntar Aku sedih," ucapnya merengek.
"Gak percaya Kamu, ini ngomong sama Istriku, Kami lagi bermesraan dikamar," ucapnya sambil memberikan Ponselnya.
"Halo Kamu siapa?" tanyanya.
__ADS_1
"Oh, Saya Pacar Mas Aksa," jawabnya.
"Pacar?" lirihnya.
"Iya Mbak, Aku lagi mengandung Anak Mas Aksa," ucapnya.
Fany pun panik dan berlari keluar rumah sambil menangis.
"Tega Kamu Om, mengkhianati ku," gumamnya sedih.
Sementara Papa Aksa masih bertengkar hebat dengan Wanita yang selalu mengganggunya tanpa mau menyebutkan identitasnya yang mengaku Pacar dan sedang mengandung Anaknya.
"Dasar Kamu perempuan murahan dan tidak ada harga diri," ucapnya tegas.
"Hahaha, bodoh amat Mas," jawabnya tertawa.
"Dasar Perempuan gila," lirihnya.
"Iya Mas, gila sama Kamu," ucapnya mendesah.
"Awas ya, sekali lagi telpon Aku ku habisi Kamu," ucapnya mengancam sambil mengintip Fany yang sedang menangis.
"Jangan begitu Mas, Aku sangat mencintaimu," jawabnya manja.
"Baru keluar dari Rumah sakit jiwa ya," lirihnya.
"Aduh, teganya dirimu Mas ngomong begitu, Anakmu marah tuh dalam perut," ucapnya.
"Dasar sinting," jawabnya sambil mematikan Ponselnya.
Fany yang merasa di hianati, tak bisa membendung air matanya yang mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik.
_______________________________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏