Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 186


__ADS_3

Papa Aksa memegang tangan Fany dengan erat, dan berkata," Doakan Mas, Sayang."


Fany merasakan tangannya basah, ia melihat wajah Papa Aksa penuh dengan rasa kekhawatiran, ia menatapnya dan menyuruhnya istirahat.


"Mas, sebaiknya istirahat, dan tenangkan pikiranmu, percayalah semua akan baik - baik saja," ucapnya meyakinkan.


Fany bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka, menemaninya ketika ia harus berjuang melawan penyakitnya, bahagia memiliki Papa Aksa karena dia adalah nafasnya.


"Sekarang Mas sadar, bahwa Mas sangat membutuhkanmu, karena kamu Wanita tegar." ucapnya tegas.


"Aku juga sadar, telah memiliki seorang Suami yang hatinya seluas samudera," jawabnya senyum.


Bu Zana ikut terbawa suasana, hingga air matanya terus mengalir menyaksikan kekuatan cinta dua insan itu, membuatnya haru.


"Lakukan sesuatu itu dengan iklhas, karena sesuatu yang berat itu akan terasa ringan, yang penting iklhas," ucap Bu Zana.


"Pasti, Bu." jawab Fany senang.


Fany adalah sosok Wanita lembut, penyayang dan cerdas, dan darinya pula Papa Aksa banyak belajar tentang membentuk kepribadian baik, terutama yang berkaitan dengan Agama, itulah mengapa Papa Aksa merasa nyaman dengannya.


Pernikahan sejatinya adalah gerbang baru menuju kebahagiaan, mungkin bagi Allah kesetiaan dan bakti Fany pada Papa Aksa sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah sosok Istri mulia.

__ADS_1


********


Divonis Kanker pastinya jadi pukulan terberat dalam hidup, tapi berjuang untuk tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya tetap bisa jadi pilihan terbaik.


Papa Aksa menjatuhkan diri pada sandaran kursi pasien di ruang praktek Dokter, berat seperti ada beban berjuta ton yang menimpa tubuhnya.


"Setelah operasi, aku sembuh gak Dokter?" tanyanya lirih.


"Iya, Pak, asal Bapak rutin kontrol," jawabnya.


"Berapa tahun lagi, aku bisa hidup, Dok?" tanyanya dengan raut wajah memelas.


Papa Aksa semakin terlempar jauh ke dalam jurang keputusasaan, matanya terpejam sejenak menahan tangis yang nyaris pecah, bayangan kematian yang mengenaskan diiringi derai air mata Orang - Orang yang disayanginya berkelebat di kepalanya.


Bayangan perpisahan dengan Fany, dan Keysa semakin membenamkan harapannya, Fany merangkul erat tubuh Papa Aksa, begitu keluar dari ruang praktek Dokter Lee.


"Aku hancur, namun aku yakin Suamiku jauh lebih hancur berkeping-keping," bisiknya dalam hati.


"Sayang, kamu mimisan lagi!" ucap Fany lalu buru - buru mengambil tisu dan menyeka cairan merah yang mengalir perlahan keluar dari lubang hidungnya.


"Maafkan Mas, yang selalu merepotkan mu." lirihnya dengan tatapan matanya sungguh tidak bisa diungkap dengan kata-kata.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, Mas, jadi aku merasa tidak repot," ucapnya tegas.


"Kalau kamu merasa ini terlalu berat, kamu boleh pergi," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ada dua hal yang harus kamu yakini dalam hati, pertama, kamu pasti sembuh. Kedua, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Fany sambil menyeka hidungnya.


Ajaibnya Fany mampu menjadi sumber kekuatan besar bagi Papa Aksa, ia yakin inilah yang dinamakan cinta, memang banyak pendefinisian tentang cinta di dunia ini, namun bagi Papa Aksa cinta itu menguatkannya.


Kanker benar - benar telah mengubah semua sendi kehidupannya, setiap hari, setiap detik perubahan demi perubahan itu ia rasakan, berat badannya kian hari kian menurun. Papa Aksa memang takut, namun ketakutan itu tidak sebanding dengan keyakinannya pada Allah, ia yakin Allah memberikan ujian karena Allah tau ia pasti bisa melaluinya.


"Aku yakin bahwa aku bisa melakukan semuanya bersama Kanker ini." gumamnya semangat.


Ia tersenyum sembari melirik ke arah Fany, lalu memejamkan kedua matanya.


"Ya Allah, dampingi aku, jangan biarkan aku seorang diri menghadapi semua ini." bisiknya dalam hati.


Papa Aksa bukanlah beban bagi Fany, sebaliknya ia menggunakan hidupnya untuk mendukung serta mengarungi waktu - waktu sulit bersama Papa Aksa Suaminya, Fany menilai, baterai kehidupan ada di jiwa, bukan di fisik, jika baterai itu redup, maka hidup tidak menjadi bermakna, walaupun fisik masih sehat bugar.


***********


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏

__ADS_1


__ADS_2