
Papa Aksa memberikan kecupan di kedua mata dan dahi Fany, mereka kompak tertawa entah apa yang ditertawakan, sesekali Fany mencuri pandang menyapu wajah Papa Aksa hanya dalam satu lirikan dalam suasana remang-remang yang menggoda itu, ia pun tahu Papa Aksa melakukan hal yang sama, dan ini waktu yang tepat bagi sepasang pengantin baru untuk diam-diam saling memperhatikan.
Tiba-tiba Fany melepaskan pelukannya, saat ada sesuatu mengganjal di pahanya, ia pun keluar dari kamar mandi dengan wajah merona.
"Mas, Ponselnya dimana?" tanyanya mengalihkan perhatiannya.
"Ada di atas Meja," jawabnya sembari menjerit.
Ia pun menyalakan senter Handphone, dan duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah.
"Ya ampun, kenapa harus memeluknya dengan keadaan bugil?" tanyanya menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat Papa Aksa keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk, Fany pun memalingkan wajahnya untuk menghindari pemandangan yang membuat jantungnya berdetak kencang.
"Sayang, tolong ambilkan Baju dan celana pendek di lemari!" perintah Papa Aksa.
"Iya Mas," jawabnya singkat sambil menuju lemari yang terletak di sudut Kamarnya.
"Ini Mas, baju dan celananya," lirih gugup.
"Ada apa Sayang? kelihatannya Kamu gugup," tanyanya.
"Oh, gak apa-apa Mas, cuma kesal saja lampunya pakai acara mati-mati," jawab Fany senyum.
__ADS_1
"Iya, Mas juga kesal, apa gak tau ya ini malam pertama Kita," ujarnya.
"Tapi syukurlah Mas lampunya mati, biar terhindar dari malam pertama," ucapnya dengan polosnya.
"Haha, ternyata malam pertama yang membuatmu gugup ya," jawabnya.
"Gak kok Mas," ujarnya.
"Loh, yang barusan Kamu ucapkan itu apa?" tanyanya.
"Fany kan cuma kesal lampunya mati Mas," jawabnya menghindari pertanyaan Papa Aksa yang semakin membuatnya kikuk.
"Sayang, Saya tau ini malam pertama Kita, tapi kalau Kamu belum siap, Saya tidak akan memaksa, Saya akan menunggu sampai kamu benar-benar siap melakukannya," ucapnya tegas sambil menatapnya dalam-dalam.
"i...iya Om," jawab Fany ketus.
Mereka saling memandang, dan melempar tanya, kemudian menahan tawa membuat bibir Fany tak kuasa mengeluarkan instrumen, jadinya malah mirip ringkikan seekor Kuda.
Papa Aksa merebahkan tubuh Fany dan memberikan kecupan di keningnya, matanya yang sendu menatap wajahnya dengan rasa kasih sayang yang tulus dari hatinya yang paling dalam hingga ia tidak memaksanya untuk melakukan hal yang seharusnya ia lakukan.
"Saya berjanji akan membahagiakanmu," bisik hati Papa Aksa sambil mengusap lembut kepala Fany.
"I Love You," bisik Papa Aksa di telinga Fany, membuat wajahnya merona.
__ADS_1
"I Love You too," balas Fany penuh kebahagiaan.
Wajah Fany menyemburat merah saat Papa Aksa mengatakan I Love You, seribu perasaan menghinggapi Fany, Papa Aksa tersenyum nakal melihat wajah Fany yang malu-malu, dengan gemas Papa Aksa mendekapnya lalu mencium pucuk kepala Fany.
Papa Aksa mengeratkan pelukannya, ia ingin menghabiskan malam ini bersamanya, tapi demi Wanita yang sangat ia cintai ia tidak ingin menyakiti perasaannya dengan memintanya untuk melakukan malam pertama yang indah itu.
"Mas, tolong matikan AC nya, dingin banget," ucapnya menahan rasa dinginnya.
"Kok dimatikan?" tanyanya.
"Dingin Mas, sumpah Fany tidak terbiasa pakai AC," jawabnya.
"Lama-lama nanti Kamu terbiasa kok Sayang," ujarnya sambil menyelimuti tubuhnya yang kedinginan itu.
"Mas, sini dekat Fany," ucapnya manja.
"Iya Sayang, Mas disini kok," jawabnya senyum.
"Jangan tinggalkan Fany ya Mas, Fany takut," ujarnya merengek.
"Tenang saja Sayang, Mas akan tetap ada di sisimu," ucap Papa Aksa sambil mencium keningnya lalu mengecup lembut bibir mungilnya.
Fany merasa tubuhnya bergetar mendapat perlakuan dari Suaminya, tapi entahlah yang jelas Fany belum siap jika Papa Aksa melihat tubuh polosnya sekarang, Fany tiba-tiba bergidik geli dan merinding membayangkannya.
__ADS_1
_____________________________________________
Jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏