
Papa Aksa kecewa dengan ucapannya saat mengatai Fany seorang Wanita matre, karena tidak pernah mengajarkannya menilai orang dengan sembarangan tanpa ada bukti.
"Semenjak berteman dengan Fany pernah gak memanfaatkan mu dengan kemewahan yang Keysa miliki sekarang?" tanyanya lembut.
"Gak pa," jawabnya.
"Jadi kenapa Keysa bilang Fany matre?" tanyanya.
"Fany mau sama Papa karena Papa kaya dan sukses," jawabnya dengan wajah kesal.
"Fany tidaklah Wanita seperti itu, karena dia polos dan tulus," ucapnya meyakinkan Keysa.
Keysa kesal saat Papa nya membela Fany tanpa memperdulikan perasaannya.
"Belum jadi Istri sudah membelanya terus," gumamnya.
"Bukan membelanya tapi memang itulah kenyataannya, Fany memang baik," ucapnya lembut sambil mencubit pipinya.
"Baik karena ada maunya," jawab Keysa ketus.
"Papa tidak pernah salah untuk memilih teman hidup, saat pertama kali melihatnya Papa sudah yakin Fany orangnya baik dan perhatian." jawabnya.
"Kalau Papa gak salah memilih teman hidup kenapa Mama meninggal?" tanyanya.
"Soal kematian Tuhan yang tau, kita semua akan kesana, dan kita hanya menunggu kapan dijemputnya," tuturnya.
"Papa kalau ngomong pintar," ucapnya.
"Papa bukan pintar, tapi hanya menjelaskan biar Keysa pintar," jawabnya senyum.
Keysa merasakan hidupnya mulai terombang-ambing saat Papanya ingin menikah lagi, dan memilih diam daripada berdebat yang tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Papa harap keputusan ini tidak membuat mu membenci Fany, karena dia tidak bersalah tapi Papa yang memintanya untuk menjadi Ibu sambung buatmu, karena Fany sangat menyayangimu dengan tulus," tuturnya.
"Terserah, jika itu yang terbaik untuk Papa," ucapnya kesal dengan hati meronta.
"Papa hanya memilikimu jadi apapun yang harus kulakukan harus seijin mu, apalagi ini menyangkut tentang hubungan Papa dengan Fany," jawabnya tegas.
"Fany harus bilang apa Pa?" ucapnya dengan nada tidak senang.
"Papa tanya sekali lagi, Keysa setuju kan kalau Papa menikah dengan Fany?" ucapnya sembari mengusap kepalanya.
"Jika itu membuat Papa bahagia, Keysa setuju," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Katanya setuju, kok menangis?" tanyanya.
"Sedih saja Pa, teringat Mama," ujarnya.
"Mamamu sudah tenang disana, jika Keysa menangis Mamamu pasti sedih melihatnya," ucapnya.
"Keysa, Papa panggil Fany ya," ucapnya.
"Gak usah Pa," jawabnya.
"Kok gak usah, Fany kan calon Ibumu!" ujarnya.
"Iya, tapi untuk saat ini Keysa tidak ingin melihatnya," ucapnya kesal.
"Keysa, jangan buat Papa kecewa ya," jawabnya memohon sambil menempelkan tangannya di dadanya.
"Papa kenapa?" tanyanya panik.
"Gak apa-apa, jantung Papa sepertinya sakit," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Papa sakit?" tanyanya.
"Gak, Papa baik-baik saja," jawabnya.
Keysa tiba-tiba takut jika sikapnya membuat Papa nya jatuh sakit.
"Pa, kita berobat yok," ucapnya tersendat.
"Gak perlu, Papa hanya butuh istirahat," jawabnya.
"Ayok Pa, Keysa antar ke kamar," ucapnya sambil memegang pundaknya.
"Gak usah, Papa bisa sendiri," jawabnya tegas.
"Hati-hati pa," ujarnya.
"Iya, Keysa juga istirahat ya," ucapnya lembut.
"Iya Pa," jawabnya.
Papa Aksa pun beranjak lalu menghampiri Fany yang tidur nyenyak di Sofa.
"Fany, bangun pindah ke kamar," ucapnya.
"Iya Om," ucapnya gugup sambil merapikan pakaiannya yang menampakkan belahan dadanya yang montok.
Jantungnya berdetak kencang saat melirik belahan dadanya yang putih bersih membuatnya tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju Kamarnya. Tiba-tiba Fany kaget saat Keysa berdiri tegak disampingnya sambil menatapnya dengan tajam.
___________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1
"