Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 119


__ADS_3

Tangis Ridho pun pecah, dengan suara terbata-bata ia bersujud dan memeluk Kakinya sekuat tenaga, ia merasakan Dunia berpihak padanya, Tuhan telah mengirimkan seorang Malaikat untuk melepaskannya dari semua beban hidupnya.


"Saya tidak tau bagaimana membalas semua kebaikan Bapak," ucapnya tersedu.


"Kamu cukup membahagiakan Ibumu, dan Kamu harus bisa membanggakannya dan mengangkat derajatnya," jawabnya tegas sambil mengangkat tubuhnya.


"Saya janji Pak, setelah Saya sukses Orang yang pertama kali Saya kabari adalah Bapak, karena tanpa bantuan Bapak, Saya tidak bisa melanjutkan Kuliahku," lirihnya.


"Tidak, tapi Ibumu," ucapnya tegas.


Ridho pun memeluknya dan menciumi tangan Papa Aksa dengan air mata membuat suasana haru, Keysa yang menyaksikan kejadian itu ikut meneteskan air mata, dan sedih dengan apa yang menimpa Ridho, ia harus bekerja keras untuk membiayai Kuliahnya demi cita-citanya.


"Ya Allah, sembuhkan Ibunya," bisiknya dalam hati dengan cucuran air mata.


Dengan hati berat, ia pun menuliskan Nomor Rekeningnya dengan tangan gemetar lalu menyerahkan Ponselnya kembali.


Papa Aksa pun langsung menyetor uang dengan jumlah yang tidak sedikit, ia berharap Ridho bisa menyelesaikan Kuliahnya.


"Oke, Saya sudah kirim, pergunakanlah Uang itu dengan sebaik-baiknya," ucapnya senyum.


"Terimakasih ya Pak," jawabnya.


"Sama-sama, semangat ya," ujarnya sambil meninggalkannya.


"Pa, kasihan ya," lirihnya.

__ADS_1


"Iya, Papa bangga dengan perjuangannya, dia seorang Pemuda yang tampan dan gigih," ucapnya tegas sambil membuka pintu Mobilnya.


Keysa tidak menjawab, ia hanya membayangkan betapa beratnya beban hidup Ridho, dan juga keadaan Ibunya yang lagi sakit.


"Andaikan Keysa sebagai Ridho, pasti tidak sanggup untuk menjalani hari-hariku, dan Keysa pilih untuk mati saja," bisiknya dalam hati.


Papa Aksa pun kembali melajukan Mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga ia tidak menghiraukan Ponselnya berdering, ia hanya ingin cepat sampai dengan keadaan selamat, semua membisu dengan pikiran masing-masing membuat suasana hening.


"Pa, Ridho tinggal dimana?" tanyanya.


"Jalan Pattimura," jawabnya.


"Oh, jauh ya Pa," ujarnya.


"Jangan ajak Papamu bicara, nanti kejadian lagi," ucapnya setengah berbisik.


Papa Aksa tersenyum mendengar ucapan Keysa dan Bu Zana, tapi ia memilih diam dan fokus menyetir Mobil mewahnya, karena kejadian tadi masih melekat di benaknya, tapi di satu sisi ia bersyukur dengan kejadian itu, setidaknya bisa menolong Ridho dengan segala kesusahannya.


Setelah menempuh perjalanan satu jam, Mobil mewah Papa Aksa memasuki Kompleks Perumahan Kakek Fany, dari jauh Papa Aksa melihat Fany mondar-mandir sekeliling Rumahnya sambil menatap layar Ponselnya.


"Aku bahagia, karena Kamu mengkuatirkan Aku," bisiknya dalam hati.


Dengan hati-hati ia pun menapaki jalan setapak itu, sambil membunyikan klakson Mobilnya memasuki pekarangan Rumahnya, Fany pun membalikkan tubuhnya dan menyambutnya dengan gembira.


"Kok lama banget sampainya Om?" tanyanya.

__ADS_1


"Tadi ada sedikit masalah," jawabnya.


"Masalah apa Om?" tanya Fany penasaran.


"Sudah gak usah dibahas, semua sudah aman," ujarnya.


Fany pun menghampiri Keysa dan Bu Zana dengan senyum, ia senang dengan kehadiran Orang-orang yang sangat disayanginya.


"Selamat siang Bu, kelihatannya Ibu lelah," ucapnya sambil memeluknya.


"Itu hanya perasaanmu saja Fany, Ibu baik-baik saja," jawabnya mengalihkan perhatian Fany karena ia tidak ingin menguak kejadian tadi.


"Syukurlah Bu," ujarnya.


"Keysa, Kamu pasti sudah lapar, Nenek sudah menyiapkan makan siang loh," ucapnya senyum.


"Oh iya," jawabnya singkat.


"Iya, Nenek juga kangen sama Kamu," ujarnya.


Keysa senyum dan menatap Nenek Fany yang berdiri tegak di Pintu menyambut kedatangan Papa Aksa, Keysa dan Bu Zana, raut wajahnya yang mulai keriput nampak bahagia saat melihat kehadiran mereka, yang sudah menunggunya dari Pagi.


_________________________________________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1



__ADS_2