Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab empat puluh tiga


__ADS_3

Pembawaan pribadi Papa Aksa yang berpendidikan, pintar dan humoris itu tiba-tiba berubah saat mendengar ucapan Fany yang membuatnya kuatir, lalu memeluknya dengan erat dan tidak ingin melepaskannya.


"Tak perlu takut, Om akan selalu ada di sampingmu," ucapnya sambil menatapnya dengan lembut.


"Iya Om," jawabnya dengan tubuh gemetaran.


Sekejap rasa takutnya hilang saat Papa Aksa memeluk tubuhnya yang gempal itu, denyut jantungnya kembali normal saat mata mereka saling memandang dengan mesra.


"Setiap hari, Om semakin mencintaimu dan takut kehilangan dirimu," ucapnya dengan manja sambil mencium keningnya.


"Jangan merayuku dengan kata-kata cinta Om, itu hanya membuatku terluka," jawabnya.


"Kenapa? bukankah Kamu mencintaiku?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.


"Fany sangat mencintai Om, tapi untuk meraihnya tidaklah segampang yang Kita pikirkan," jawabnya tegas.


"Apapun rintangannya, Kita hadapi bersama-sama," ujarnya.


"Iya Om, tapi Kita tidak perlu gegabah karena Kita harus menunggu sampai Keysa mau menerimaku sebagai Ibu sambungnya," ucapnya lembut.


"Iya, tapi Kamu harus janji tidak akan pernah meninggalkanku," ujarnya dengan nada memohon.


"Selagi cinta masih berkumandang di hatiku, Fany akan tetap bertahan," jawabnya tegas.


Tak pernah terlintas sedikitpun dibenak Fany untuk mencintai Papa Aksa, tapi rasa itu hadir dengan sendirinya tanpa diduga, sifatnya yang humoris dan romantis mampu meluluhkan hatinya hingga Papa Aksa menjadi cinta pertamanya. Aneh tapi nyata itulah yang terjadi pada Fany, hingga harus mencintai Ayah dari Sahabatnya.


"Kok diam?" tanyanya sambil menatapnya.


"Fany hanya berpikir dengan hubungan ini," ucapnya.

__ADS_1


"Ada yang salah?" jawabnya.


"Gak, Fany baru sadar arti cinta yang sesungguhnya," ucapnya singkat.


Papa Aksa kembali tersenyum dan berharap Fany tidak akan pernah berubah, dan selamanya akan menjadi Wanita terhebat, tangannya yang kekar kembali memeluknya dengan tatapannya yang hangat membuat mereka hanyut dalam suasana hingga tidak menyadari Keysa sudah berdiri tegak di pintu Kamarnya.


"Dasar perempuan murahan," ucapnya ketus dengan sorot matanya yang tajam.


Fany kaget dan melepaskan pelukannya, sambil berlari kearah Keysa.


"Ti,, tidak Keysa, apa yang Kamu lihat tidaklah seperti yang Kamu pikirkan," jawabnya gugup sambil meraih tangannya.


"Tidak tau malu, masuk Kamar Papa sembarangan," ucapnya sambil mendorong tubuhnya.


"Keysa, Fany masuk Kamar Papa karena ketakutan, ada suara langkah kaki menghampiri Kamarnya," tuturnya.


"Alasan," ucapnya sinis.


"Terus saja bela dia," jawabnya.


"Bukan membela, tapi memang itulah kenyataannya," ujarnya.


"Sudah Om, gak usah berdebat, Fany yang salah," ucapnya.


"Ngaku juga perempuan murahan ini," jawab Keysa ketus.


"Keysa,,,! jaga bicaramu!" ucapnya setengah berteriak.


"Kenapa? memang betulkan?" jawabnya.

__ADS_1


"Oh Tuhan, Kamu sangat keterlaluan," ucapnya frustasi.


Keysa tiba-tiba tertawa sambil pergi meninggalkan Kamar.


"Dasar perempuan miskin, bermimpi jadi Kaya," ucapnya sembari berteriak.


"Keysa,,,,! dasar Anak tidak tau sopan santun," jawabnya.


"Om, sudah," ucapnya sambil menarik tubuhnya yang berusaha mengejar Keysa.


"Om sangat kecewa dengannya," ucapnya dengan nada tersendat.


"Tidak ada gunanya Om marah, biarkan Keysa tenang dulu," jawabnya.


"Tapi sampai kapan?" tanyanya.


"Sampai hatinya dingin, dan menyadari setiap ucapannya," ujarnya.


"Om, gak habis pikir kenapa Keysa tiba-tiba kasar," ucapnya sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.


"Om sabar ya," jawabnya.


"Jangan-jangan langkah kaki itu, Keysa?" tanyanya.


"Mungkin juga Om," jawabnya.


"Tapi ngapain ke Kamarmu malam-malam?" ucapnya penasaran.


"Mungkin ada perlu Om," jawabnya menenangkan hati Papa Aksa.

__ADS_1


____________________________________________


jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2