
Seketika langit mendung, gemuruh di sekelilingnya lebih sangar dari badai biasanya, hatinya patah sepatah - patahnya, hidupnya kacau tak tentu arah, Keysa, lupa bagaimana cara tersenyum, jiwanya mati terbawa angin malam yang begitu mencekam.
"Sakit sekali Tuhan, Keysa belum Wisuda, menaikkannya Haji, masih banyak yang belum ku wujudkan, kenapa berat sekali ya Tuhan?" tanyanya dalam hati.
Keysa, merasa hidupnya hampa, begitu gelap gulita di setiap harinya, tak ada kebahagiaan, tak ada sebuah dekapan untuk menguatkan, yang ada hanya kepahitan dan keraguan.
"Entah takdir apa yang Tuhan tuliskan untukku..kenapa sesakit ini? aku punya keluarga, tapi tidak utuh, aku tak memiliki teman selain diriku sendiri dan bintang malam yang selalu mendengar celotehan ku yang kelam," gumamnya menangis.
Baginya pertemanan yang ada hanya sebuah penghianatan, seperti apa yang di lakukan Keysa padanya, ia tak butuh ucapan manis yang akan menenangkan dari sebuah pertemanan, nyatanya mereka hanya ingin tau , tidak untuk mengerti ataupun perduli, Keysa, bukannya tidak bersyukur atas apa yang dimilikinya sekarang, namun ia capek dengan situasi seperti ini, Orang - Orang yang disayanginya perlahan menghilangkan, meninggalkannya sendiri dengan depresi ini.
"Keysa, merasa kesepian, tak berguna, dan tak berharga,Keysa, hanya ingin mati dan terbebas dari depresi ini," teriaknya sembari menangis.
Keysa, hanya bisa menangis dan menangis, meratapi nasibnya yang malang, yang entah sampai kapan berakhir, sungguh Keysa tak kuat lagi menghadapi tantangan yang begitu menyiksanya.
Malam itu, di balik jendela yang tertutup, ia terdiam menatap butiran hujan yang turun ke bumi, seakan-akan berlomba-lomba menghancurkan dia dan menyisakan sebuah genangan sebagai kenang-kenangan,ia sangat menyukai hujan agar bisa menangis sekencang-kencangnya, menumpahkan segala keluh - kesah lewat tangisannya.
__ADS_1
"Keysa!" panggil seseorang sembari mengetuk pintu, yang suaranya tak asing baginya.
Keysa, segera menghapus air matanya yan sempat turun bersamaan dengan hujan, ia beranjak membuka pintu, setelah pintu terbuka menampakkan figur Wanita muda, Fany, Istri baru Papanya.
"Kenapa, Papamu belum pulang jam segini?" tanyanya kwatir pada Suaminya yang belum pulang sampai larut malam.
"Mungkin, Papaku sudah bosan denganmu, dan menghabiskan waktunya di luar," jawabnya kasar.
"Apa kamu bilang? bosan? kamu tega berkata seperti itu, Keysa," ujarnya.
"Memang itulah kenyataannya, buktinya Papa belum pulang," teriaknya dengan suara meninggi.
"Kenapa? kenapa kamu menyalahkan Keysa, Papa gak pulang?" ucapnya sinis.
"Aku, tidak menyalahkan kamu, hanya bertanya saja?" jawabnya tersendat.
__ADS_1
"Alasan, keluar dari kamarku, aku tak sudi melihat wajahmu yang bodoh itu," perintah Keysa.
"Keysa, maafkan aku, tak bisa membuatmu bahagia," lirihnya.
"Dasar, tak berguna," ucapnya menghina sambil mendorong tubuhnya keluar, setelah melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan itu.
Fany, menutup pintu Kamarnya, punggungnya bersandar di balik pintu sembari menangis tanpa suara, tubuhnya merosot memeluk kedua lututnya, batinnya benar - benar sakit.
"Kenapa? kenapa selalu aku yang disalahkan?" tanyanya dalam hati.
Butiran bening terus turun membasahi pipinya tanpa henti, dadanya sesak dan hatinya sakit. Fany, hanya ingin bertanya keberadaan Papanya, yang Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Aku, memang tidak berguna!" gumamnya frustasi.
Fany, menarik kuat rambutnya, mengusap wajahnya dengan kasar dan bangkit kembali menuju kamar Keysa.
__ADS_1
_____________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏