
Fany yang gak pernah pacaran dan memutuskan untuk Nikah muda di umur Dua Puluh Tahun itu panik mikirin bagaimana malam pertama dengan Suaminya, tapi karena sifat Suaminya yang humoris, akhirnya suasana cair dan mengerti dengan ketakutan Istrinya.
"Harus gimana mulainya? harus ngapain?" bisiknya dalam hati sambil mencoba memejamkan kedua matanya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Belum tidur Sayang?" tanya Papa Aksa.
"Belum Mas," jawabnya singkat.
"Loh, katanya ngantuk, kok belum tidur," ujarnya.
"Entahlah Mas, Fany gelisah," lirihnya.
Papa Aksa terdiam cukup lama, ia pun menghela nafas dan menatap langsung ke mata Fany yang tidur disampingnya, Fany mengangkat pandangannya yang tepat saat itu Papa Aksa juga tengah menatapnya, Fany memberikan senyuman canggung sebelum kembali menunduk, cukup lama Papa Aksa menatap mata Fany yang sekarang sudah menjadi Istrinya itu, rasanya seperti ada sebongkah batu dalam tenggorokannya hingga tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Papa Aksa pun tidak membiarkan pikirannya kemana-mana, ia yakin bahwa Fany adalah Perempuan yang pantas menjadi Istrinya, sekalipun ia tidak bisa mereguk malam pertama yang indah itu.
__ADS_1
"Saya harus bisa memegang kendali diriku dengan baik, sangat baik," bisiknya dalam hati.
"Namun, betulkah demikian?" tanyanya dalam hati, berdecak kesal.
Tiba-tiba Fany mengucek matanya berkali-kali, kepalanya berdenyut, sedikit berat, ia kembali menguap, rasa-rasanya ia tidur lama sekali.
"Jam berapa Mas?" tanyanya membuat Papa Aksa kaget.
"Jam sebelas Sayang," jawabnya senyum dengan tatapannya yang menggoda.
"Mas, belum tidur?" tanyanya.
Papa Aksa memberanikan diri untuk memulai, perlahan-lahan ia mencoba mendekati Fany dan terus menatapnya tanpa kata-kata, sampai Fany merasakan dan memalingkan wajahnya kearahnya, mereka pun beradu pandang, lalu secara bersamaan menarik ujung bibir tersenyum.
"Istriku benar-benar cantik," gumamnya sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ada apa Mas?" tanya Fany penasaran.
"Mas, melihat cahaya terang yang menyilaukan Mataku," jawabnya tegas.
"Dimana Mas?" tanya Fany sambil melihat sekeliling kamar.
"Ini ada di sampingku, membuat mataku silau," jawabnya dengan wajah serius.
"Mas menggodaku ya," ucapnya tersipu lalu mengepalkan jemarinya dan memukul pelan ke bahunya.
Papa Aksa membiarkan Fany dengan ekspresinya, laku Papa Aksa meraih jemarinya dan menggenggamnya erat, perlahan Papa Aksa mengangkat kedua kakinya ke atas Ranjang dan duduk bersila berputar ke arah Fany, ia pun mengikuti gerakan Papa Aksa duduk di depannya tapi dengan kaki kanannya ditekuk ke samping kanan, kedua lututnya bertemu, sedang kedua jemarinya berpegangan erat, hingga ia bebas memandangi wajah Istrinya dengan sepuasnya.
Fany merasakan kebahagiaan yan belum pernah ia rasakan sebelumnya, sekaligus bangga karena ini adalah kebahagiaan yang halal untuk dinikmatinya, sekarang suasana telah cair Papa Aksa pun mulai bicara dengan rayuannya yang membuat Fany klepek-klepek.
"Sayang, Kamu adalah Bidadari ku, dan akan berusaha sekuat jiwa dan ragaku agar Kamu tetap menjadi satu-satunya Ratu Bidadari ku nanti di Surga, Kita teguk kebahagiaan cinta bersama hingga air mata pun membuahkan senyum di bibir Kita, dan akan selalu melindungi mu, dan kuharap Kamu mengingatkan ku saat Aku salah, agar langkah Kita selalu berada dalam jalan yang diridhoi Allah, Kamu tau Aku sangat mencintaimu sekarang dan untuk selama-lamanya, kumohon jagalah cintaku dan Aku akan menjaga cintamu, Kita akan lalui setiap rintangan hidup bersama," ucapnya penuh dengan rasa cinta yang berkobar- kobar dalam hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
____________________________
Jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏