Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 113


__ADS_3

Kehadiran Orang tua di hari Pernikahan Kita sangat diinginkan oleh setiap Orang, rasanya bahagia melihat mereka tersenyum menyaksikan hari bahagia Kita bersama dengan Orang yang sangat Kita cintai, tapi tidak dengan Fany, ia harus didampingi oleh Kakek dan Neneknya di saat Pernikahannya nanti, tapi ia pun harus menerimanya dengan lapang dada, dan menerima takdir yang sudah ditentukan oleh yang di atas.


"Kek, Nek, istirahatlah, Keysa gak apa-apa kok," ucapnya senyum.


"Kamu juga istirahat ya, jangan berpikir yang macam-macam," jawab Neneknya sambil mencubit hidungnya.


"Ia Nek, Fany juga mau ke kamar," ujarnya sambil berdiri tegak di hadapan Kakek dan Neneknya.


Mereka berjalan beriringan sambil menuju Kamar masing-masing, sesampainya di kamar Fany menghamburkan tubuhnya ke Kasur dengan sejuta angan yang menghiasi benaknya, membuatnya senyum-senyum sendiri.


"Sebentar lagi, Fany akan meninggalkan Kamar yang indah ini, Kamar yang menjadi saksi bisu tentang perjalanan hidupku selama ini, andaikan Kamar ini bisa bicara ia akan bercerita, dan menyanyikan sebuah lagu untuk melepaskan kepergian ku," bisiknya dalam hati dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Ia pun melirik seisi kamarnya dengan barang- barang yang sudah usang milik mendiang kedua Orang tuanya, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah Meja belajar milik Papanya yang masih tetap utuh sampai sekarang.


"Pa, Fany tau Kamu adalah Sosok seorang Ayah yang bertanggung jawab, itu semua terlihat dari sorotan matanya yang penuh kedamaian dan ketenangan, pantas Mama dulu ingin selalu di sampingnya. Fany juga bangga dengan kekuatan cinta kalian hingga harus meninggal dihari yang sama pula," gumamnya dengan mata berkaca-kaca sambil duduk di Meja belajar milik Papanya.


Rasanya Fany berat meninggalkan Rumah Kakeknya yang sudah memiliki banyak kenangan itu, tapi di sisi lain ia juga harus ikut dengan Suaminya, dan meninggalkan Rumah bersejarah itu, air matanya kembali menetes yang memiliki banyak cerita kehidupan yang terjadi selama ini, hidup juga telah mengajarkannya tumbuh menjadi seorang Wanita yang kuat dan mandiri.


Sesekali ia menyesali kehadirannya di dunia fana ini, yang harus dibesarkan oleh Kakek dan Neneknya dan tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua Orang tuanya.


Ia pun beranjak dan kembali ketempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya dengan kasar, ia menarik nafasnya dalam-dalam sambil menatap langit-langit kamarnya.


Tiba-tiba ia tersentak dengan semua ucapannya, yang seharusnya tidak ia katakan, sepantasnya ia bersyukur karena masih memiliki Kakek dan Nenek yang begitu menyayanginya dengan tulus, walaupun hidup pas-pasan tapi Kakek dan Neneknya tidak pernah mengeluh, dan selalu berusaha memberikan segala kebutuhannya tanpa bersungut-sungut.

__ADS_1


"Harusnya Fany bersyukur, bukan menyesali kehadiranku di dunia ini, bukankah masih banyak Orang di luar sana yang lebih susah dari Fany," bisiknya dalam hati dengan seribu penyesalan.


Ia pun kembali semangat dan bibirnya yang mungil kembali tersenyum, tiba-tiba bayangan Papa Aksa hadir yang membuatnya kaget sambil meraih bayangan itu.


"Om, Fany kangen," lirihnya sambil mencari Papa Aksa di sekeliling Kamarnya sembari menjerit.


Fany pun tersadar saat ia menatap Cermin, dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ya ampun, itu cuma bayangan Om Aksa," lirihnya tersenyum.


_____________________________

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏


__ADS_2