
Cinta adalah satu satunya hal yang membuat hidup kita berarti, tanpa cinta hidup akan terasa kosong dan hampa, dan Pernikahan yang dilandasi oleh cinta yang tulus mampu menjalani setiap rintangan yang menghadang di depan.
Saat Fany dan Papa Aksa saling meyakinkan dan bicara dari hati kehati, tiba-tiba mereka pun dikejutkan dengan suara deritan pintu, Fany pun segera melepaskan genggaman tangan Papa Aksa dan saling memandang dengan seribu tanya.
"Siapa ya Mas," tanyanya panik.
"Mungkin Bu Zana," jawabnya singkat.
"Ngapain? kok gak ketuk pintu dulu," ujarnya.
"Lupa kali," lirihnya.
Fany pun merasakan ada yang aneh, ia pun segera membuka pintu Kamarnya dan memandang seisi ruangan dengan hati-hati, tiba- tiba matanya tertuju pada Kamar Keysa yang Pintu Kamarnya tidak terkunci, Fany pun melangkahkan kakinya menapaki keramik putih itu, ia pun kaget saat seseorang menepuk pundaknya membuat ia kaget sembari menjerit.
"Ngapain, masuk kamar Keysa?" tanyanya sinis.
"Maaf, Saya hanya memastikan Keysa ada dikamar atau tidak," jawabnya gugup.
"Kalau ada kenapa? kalau tidak ada kenapa juga?" ujarnya membentak.
"Keysa, jangan begitu ngomongnya," ucapnya sambil mendekatinya.
"Jangan dekat-dekat, Keysa gak sudi berdekatan dengan Wanita murahan seperti Kamu," jawabnya ketus.
"Keysa, Kamu ngomong apa sih, gak sopan bicara begitu dengan Orang tua," ucapnya mengingatkan.
__ADS_1
"Pede banget loh, ngomong begitu, emang Kamu siapa?" jawabnya meledek.
"Keysa, jangan keras-keras, nanti Papa mu dengar," ujarnya.
"Siapa takut," ucapnya sombong.
"Itu Papamu Keysa, jangan kurang ajar," lirihnya lembut sambil mengelus lengannya.
"Keysa tau, Dunia pun tau kalau Pak Aksa itu adalah Papaku," ucapnya sinis.
"Ya Allah, istighfar Keysa," jawabnya
"Kenapa? gak senang," ujarnya sambil mendorong tubuh Fany dengan kasar.
Tak terasa air matanya mulai mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik, ia pun menundukkan kepalanya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
"Kamu salah besar, karena menikah dengan Papaku," jawabnya dengan sorot matanya yang tajam.
"Bukankah Kamu sudah merestui pernikahan ini?" tanyanya tersendat.
"Iya, tapi itu Keysa lakukan karena tidak ingin melihat Papa sedih," jawabnya tegas.
"Keysa, Kamu tega menyakiti perasaanku," ujarnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Itu adalah hukuman buatmu, yang sudah membuat Keysa terluka," ucap Keysa.
__ADS_1
"Keysa, tolong jangan lakukan itu, demi Papamu," jawabnya.
"Jangan bawa nama Papaku, ini urusan Kita berdua," ujarnya.
"Maksud Kamu apa?" tanyanya penasaran.
"Pura-pura gak tau ya," jawabnya sinis.
"Keysa, kumohon jangan pernah membenciku," ucapnya memohon.
"Percuma Kamu mengemis, itu tidak akan merubah hatiku," jawabnya tegas.
Fany pun mencoba tenang, ia pun menarik nafasnya dalam-dalam sambil menatapnya senyum dengan sejuta harapan agar Keysa bisa berubah dan menghilangkan rasa kebenciannya padanya.
Harapannya kini sirna, membangun sebuah Keluarga bahagia bersama Orang-orang yang sangat dicintainya, ia merasa Dunia tidak adil dengan semua perlakuan Keysa yang membuatnya kecewa dan terluka, menusuk ulu hatinya yang paling dalam, ia merasa Pernikahan ini awal dari sebuah kehancuran.
"Keysa, Aku tidak bermaksud membuatmu terluka dengan menikahi Papamu, tapi ini semua takdir yang sudah ditentukan oleh yang maha kuasa, Aku juga tidak pernah berpikir akan menikah dengan Pria yang sudah memiliki Anak, tapi apa hendak dikata ini mungkin sudah suratan," tuturnya lembut.
"Makanya jadi Perempuan itu jangan murahan," ucapnya sinis.
"Kamu salah, Aku tidak pernah melakukan hal serendah itu," jawabnya tegas sambil menatapnya kecewa.
Mereka pun saling memandang, wajah Fany berubah pucat dengan pandangannya yang kosong, tiba-tiba ia panik saat mendengar suara langkah kaki menuju kamar Keysa.
____________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏