
Papa Aksa nampak enjoy, senyum manis selalu menghiasi bibirnya dengan sorot matanya yang berbinar-binar menggambarkan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Tiba-tiba ponselnya berdering tapi Papa Aksa tidak menghiraukannya, hingga Fany menegurnya karena sudah berkali-kali.
"Om, angkat ponselnya," perintah Fany sambil menyodorkan Ponselnya yang masih berdering.
Tapi Papa Aksa tidak mengangkatnya, hanya memandang Ponselnya yang berdering itu sambil menautkan kedua alisnya.
"Kok gak diangkat Om," tanya Fany.
"Gak ada namanya" jawabnya singkat.
"Siapa tau penting Om," ujarnya.
"Gak lah, paling salah sambung" ucapnya.
"Jangan-jangan, Pacar Om?" jawab Fany dengan nada kesal.
"Cemburu ya," ujarnya merayu.
"Gak ah," ucapnya ketus.
Fany nampak penasaran siapa gerangan yang meneleponnya pagi-pagi, karena dengan kekayaan dan ketampanannya Wanita mana saja pun pasti ingin memilikinya walaupun status nya seorang Duda. Tapi Fany menepis semua rasa curiganya karena itu hanya menambah beban pikirannya saja.
"Kamu kok cemberut?" tanyanya.
"Gak Om, Fany hanya memikirkan Keysa," jawabnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Om juga mulai kepikiran sampai jam sembilan belum juga selesai," ujarnya.
"Sebentar ya, Om akan melihatnya," ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
"Cepat ya Om," jawab Fany.
Papa Aksa melangkahkan kakinya dengan cepat sambil mulutnya komat-kamit mencurahkan rasa kesalnya.
"Keysa,,,,! buka pintunya," ucapnya sembari menjerit sambil mengetuk pintu kamarnya.
Tapi Keysa tidak menjawab, Papa Aksa membuka pintu kamarnya yang tidak dikuncinya dengan hati-hati sambil mengintipnya.
"Ya Tuhan, Anak ini," gumamnya kesal.
__ADS_1
"Keysa, bangun," ucapnya sambil membuka selimutnya.
"Ah, Papa menggangu saja," jawabnya sambil menarik selimutnya.
"Astaghfirullah, bukannya mandi tapi tidur!" ucapnya kesal.
"Ngantuk Pa," jawabnya.
"Kita sudah nungguin dari tadi Keysa," ujarnya.
"Iya, Keysa mandi," ucapnya sambil menghentakkan kakinya kelantai.
"Cepat ya, Papa tunggu sepuluh menit," jawabnya sambil meninggalkan kamarnya
"Iya Pa," lirihnya.
Dengan perasaan kesal, Papa Aksa beranjak dari kamarnya sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
"Dasar Anak keras kepala," bisik nya dalam hati.
Fany pun menghampiri Papa Aksa, saat melihat wajahnya marah.
"Bukannya mandi, tapi malah ngorok," jawabnya marah.
"Sudah Om, jangan marah," ujarnya.
"Keysa memang keterlaluan," lirihnya.
"Yang sabar ya Om, Keysa pasti berubah," ucapnya sambil menepuk pundaknya.
"Mudah-mudahan," jawabnya senyum.
"Om harus yakin, karena pada dasarnya Keysa Anak yang baik," ujarnya.
"Tapi egois," ucapnya ketus.
Setelah beberapa menit, Keysa pun datang dengan senyum-senyum.
"Maaf ya Pa," ucapnya.
__ADS_1
"Tiada maaf bagimu," jawabnya kesal.
"Cie, Papa ngambek," lirihnya tersenyum.
"Lain kali jangan begitu, ucapnya singkat.
"Iya Pa," lirihnya.
"Papa gak kerja?" tanya Keysa.
"Gak, Papa mau antar Fany pulang," jawabnya.
"Pulang?" tanya Keysa kaget.
"Iya, emang kenapa?" jawabnya.
"Baguslah," lirihnya.
Keysa menatap Fany, saat mata mereka saling memandang, Keysa mengalihkan pandangannya.
"Ayok, Kita berangkat," ucap Papa Aksa sambil mengangkat ranselnya.
Keysa dan Fany, mengikuti langkah Papa Aksa tanpa sepatah kata, dan saling menjaga jarak, wajahnya penuh amarah seakan tidak ingin melihat wajahnya, tapi Fany tidak membalasnya namun berusaha mendekatinya dengan segala cara.
"Keysa gak lapar?" tanya Fany sambil menyenggol lengannya.
"Gak," jawabnya singkat.
"Ini ada Roti," lirihnya sambil menyodorkan Rotinya.
"Keysa, gak selera," ucapnya sambil menolaknya.
Papa Aksa melirik dari kaca, sambil menggelengkan kepalanya dengan sikap Keysa yang tidak terpuji itu.
"Keysa, memang keterlaluan," bisiknya dalam hati.
___________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏🙏
__ADS_1