
Desir angin malam menyentuh wajah Papa Aksa, saat kaca Mobilnya sengaja tidak ditutupnya agar ia bisa menikmati hembusan angin yang sepoi-sepoi itu. Taburan bintang di Langit mengiringi Mobilnya saat menuju Rumah Fany Wanita yang sangat dicintainya itu.
"Key, Kita beli oleh-oleh apa ya?" tanyanya sambil melirik Keysa dari kaca Spionnya.
"Buah sama Roti Pa," jawabnya.
"Benar juga ide Kamu," ujarnya senyum.
"Hem, kalau ada maunya muji terus nih," ucapnya.
"Hahaha, emang betulkan ide Kamu?" jawabnya.
"Di iyakan saja deh Pa," lirihnya senyum.
Papa Aksa tertawa lebar sambil menuju Toko Roti yang tak jauh dari Restoran mereka makan, dan ia pun memarkirkan Mobilnya di parkiran.
"Sebentar ya Bu, beli oleh-oleh dulu," ucapnya.
"Iya Pak," jawabnya.
"Jangan lama ya Pa," ucap Keysa sembari menjerit.
"Beres Bos," jawabnya.
Papa Aksa bergegas dan memilih beberapa jenis Roti, setelah membayarnya ia pun kembali menuju Toko Buah yang berdampingan dengan Toko Roti, setelah Buahnya di packing Papa Aksa kembali menuju Mobil dan melajukan Mobilnya dengan kencang.
"Pelan-pelan saja Pak," ucap Bu Zana ketakutan.
"Tenang saja Bu," jawabnya senyum sambil melirik kearahnya.
"Ibu takut," lirihnya.
"Jalanan sudah sepi Bu, jadi gak apa-apa kencang," ucapnya.
Bu Zana menganggukkan kepalanya sambil menatap keluar yang sudah gelap itu dengan jantungnya yang berdetak kencang.
"Maklumlah Pak, sudah tua," jawabnya.
__ADS_1
"Tidur saja Bu, lihat Keysa tuh sudah ngorok," ucapnya.
"Ibu gak bisa Pak," jawabnya.
Papa Aksa pun melajukan Mobilnya dengan pelan, takut Bu Zana terjadi apa-apa dan ia pun sangat memakluminya.
"Bu, Keysa pernah gak cerita sama Ibu?" tanyanya.
"Tentang apa Pak?" tanyanya.
"Tentang Fany," jawabnya.
Sejenak Bu Zana terdiam, sambil melirik kearah Keysa yang sedang tidur.
"Gak Pak," lirihnya dengan hati-hati.
"Gak usah takut Bu, cerita saja," ucapnya.
"Sumpah Pak, Keysa tidak pernah cerita tentang Fany," jawabnya tersendat.
"Oh begitu ya Bu," ujarnya.
Papa Aksa tau Bu Zana menyimpan sesuatu, itu terlihat dari wajahnya yang ketakutan sambil melirik Keysa, tapi ia mengurungkan niatnya untuk mengorek cerita dari Bu Zana.
"Masih jauh ya Pak?" tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan Papa Aksa.
"Gak Bu, kira-kira setengah jam lagi," jawabnya.
"Jauh juga ya Pak?" tanyanya.
"Ya lumayanlah Bu, tapi demi Fany tetap harus ditempuh," jawabnya senyum.
Bu Zana menautkan kedua alisnya sambil menatapnya dengan penasaran.
"Kenapa Bu? kok lihatnya seperti itu," ucapnya.
"Ibu penasaran saja," jawab Bu Zana senyum.
__ADS_1
"Kok penasaran sih Bu, emang ada apa," lirihnya.
"Gak, gak jadi Pak,' ucapnya gugup.
Papa Aksa yang sedang di mabuk cinta itu tak sanggup menahan gejolak hatinya dengan wajahnya yang berbinar-binar itu membuatnya ingin cerita dengan Bu Zana.
"Bu, tau gak sekarang Aku lagi dekat dengan siapa?" tanyanya.
"Gak tau Pak," jawabnya.
"Yang benar Bu?" tanyanya.
"Iya Pak," jawabnya.
"Coba tebak Bu, siapa?" tanyanya.
"Siapa ya," jawabnya pura-pura bingung.
"Hayo Bu, siapa?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Ibu menyerah," jawabnya.
"Serius?" ucapnya.
"I,, iya Pak," jawabnya.
Papa Aksa pun tiba-tiba terdiam membuat Bu Zana semakin penasaran, walaupun Keysa sudah cerita tapi ia ingin memastikan dari Papa Aksa sendiri.
"Siapa sih Pak, bikin penasaran saja," gumamnya.
Tiba-tiba Papa Aksa kekeh, melihat wajah Bu Zana yang terlihat konyol itu.
"Mau tau, atau mau tau banget?" tanyanya sedikit mengejek.
"Mau banget toh Pak," jawabnya.
"Sudah Bu, lain kali saja ya soalnya Kita sudah mau sampai nih," ucapnya sambil memasuki gang kecil menuju Rumah Kakek Fany.
__ADS_1
"Ah, Bapak kerjanya bikin penasaran saja," keluhnya jengkel.
________________________________________________jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏