Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 197


__ADS_3

Pengalaman Fany konsultasi dengan Psikiater membuatnya semakin banyak untuk berkaca diri dan mendekatkan diri pada Allah, karena Allah memberikan cobaan itu sesuai dengan kemampuan kita, dan ia percaya semua masalah itu ada solusinya dan semua itu akan indah pada waktunya.


Melihat keadaan Keysa, tak jarang perasaan yang muncul adalah bingung bahkan merasa berdosa dan gagal dalam merawat Keysa, namun Fany tidak menyerah begitu saja, ia kembali menghubungi Dokter Indra untuk membantu Keysa keluar dari kebiasaan menyakiti diri sendiri dan mendapat cara penanganan stres yang tepat untuk Keysa.


Kring...kring...kring.


"Halo, Dokter, selamat Sore!" ucap Fany.


"Ya Bu, selamat Sore, ada yang bisa Saya bantu?" tanyanya.


"Bantuan apa yang tepat untuk mengurangi stres Keysa, Dokter?" tanya Fany penasaran.


"Ajak Keysa bercerita, tetapi jangan dipaksa untuk cerita kalau ia belum mau, yang paling utama adalah buat dirinya nyaman merasa nyaman dulu," ungkap Dokter Indra.


"Itu dia Dokter, Keysa tidak pernah mau diajak cerita, bawaannya marah," keluh Fany.


"Jangan salahkan anak, yang perlu Ibu lakukan adalah mengedukasi Keysa mengenai cara yang lebih tepat untuk mengekspresikan emosi yang ia rasakan," sambung Dokter Indra.


"Iya Dokter," ucapnya lembut.


"Cari akar permasalahan, menjadi pemicu Keysa melukai dirinya sendiri, bila inti masalahnya diketahui, solusi dan pengobatannya akan mudah," jawab Dokter Indra.


"Terimakasih, Dokter, untuk infonya," ucap Fany.


"Sama - sama, Bu," jawabnya.


Dengan tatapan mata kosong dan senyum getir, Fany menutup ponselnya, melangkah ke dapur Menghampiri Bu Zana.

__ADS_1


"Lagi sibuk ya, Bu?" tanya Fany.


"Gak, ada apa, Bu?" Bu Zana balik bertanya.


"Bisa gak Ibu jaga Keysa di Rumah Sakit?" tanyanya sopan.


"Bisa Bu," jawabnya singkat.


"Besok Keysa sudah pulang, jadi hanya untuk malam ini saja, Bu!" ujarnya.


"Mau berapa hari lagi juga, Ibu siap menjaganya!" ucapnya senyum.


"Terimakasih, Ibu baik banget," jawabnya haru.


"Ya sudah, Ibu siap - siap saja, biar aku yang lanjutin masaknya," perintah Fany.


"Kalau begitu, aku ke kamar dulu lihat, Bapak, Bu," lirihnya.


"Silahkan, Bu," ucapnya ramah.


Fany bersyukur memiliki Bu Zana, sebagai tempat curhat Fany, Bu Zana akan mendengar apa yang diceritakannya, dan merasakan apa yang dirasakannya, dan selalu menjadi pendengar terbaik dalam hidupnya.


Dengan cepat Bu Zana membereskan semua pekerjaannya, untuk segera ke Rumah Sakit, sembari menunggu Bu Zana, Fany membereskan kamar Keysa yang berantakan, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah ponsel yang terletak dia atas meja, entah kenapa hatinya tergerak untuk membuka ponsel Keysa.


Fany meraih Ponselnya, dengan iseng ia membuka beberapa pesan dan pengiriman pesan, alangkah terkejutnya Fany saat membaca beberapa SMS, seperti yang ada di ponsel Papa Aksa.


"Ya Allah, berarti peneror itu ternyata, Keysa?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Mulutnya komat-kamit dengan tubuh gemetar sebagai luapan rasa kecewanya, ia tidak menyangka Keysa melakukan itu hanya untuk memisahkannya dari Papanya. Suara langkah Bu Zana membuat Fany kaget, ia meletakkan ponselnya kembali di atas meja, dan keluar sambil membawa sapu dan kain pel.


"Ibu, mau berangkat?" tanya Fany.


"Iya Bu, nunggu Taksi jemput," jawabnya.


"Sebentar ya Bu," ujarnya menuju kamarnya.


Fany mengambil beberapa lembar uang, dan kembali menghampiri Bu Zana.


"Bu, ini ada sedikit uang untuk biaya ongkos dan biaya makan di Rumah Sakit," ucapnya lembut.


"Gak usah, Ibu masih punya uang," jawabnya.


"Gak apa-apa, Bu, ini tidak seberapa dibanding dengan kebaikan Ibu selama ini," ucapnya haru.


Bu Zana tersenyum sambil menepuk lengannya.


"Ibu ambil ya, terimakasih," jawabnya senyum.


"Iya Bu," ujarnya sembari mengantarkan Bu Zana kepintu.


Bu Zana melambaikan tangannya, Fany membalasnya dengan senyuman manis menghiasi bibirnya yang mungil.


*******


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2