Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 55


__ADS_3

Mobil pun melaju dengan cepat, rasa rindu dan penasaran menyatu dalam hatinya. Bayangan Fany dan laki-laki itu membuatnya tidak tenang.


"Siapa laki-laki itu ya! apa Fany sudah punya pacar?" bisiknya dalam hati sambil mengacak rambutnya.


"Keysa, ini sudah dekatkan," tanyanya.


Tapi Keysa tidak menjawab ia terlelap dalam tidurnya, lalu Papa Aksa menoleh kebelakang dan melihat Keysa tertidur.


"Ya ampun anak ini," gumamnya.


Papa Aksa nampak kesal lalu membangun Keysa.


"Keysa, bangun," ucapnya sembari berteriak.


Keysa panik sambil mengusap keduanya matanya yang ngantuk.


"Sudah lewat Pa," ucapnya kaget.


"Kamu ketiduran sih," jawabnya sambil memutar balik Mobilnya.


"Lewat tiga gang Pa," ujarnya.


"Oh iya?" ucapnya.


"Iya Pa, gak jauh kok," jawabnya.


"Syukurlah," lirihnya.


Jantungnya mulai berdetak kencang, dan tiba-tiba keringatnya mengucur deras membasahi wajahnya yang tampan.


"Itu Pa, gang nya dekat bengkel," ucapnya sambil menunjuk kearahnya.


"Oke, Kita sampai," jawabnya senyum.


Mobil pun memasuki gang dengan sangat hati-hati, menapaki jalan setapak itu.


"Keysa, Rumahnya nomor berapa?" tanyanya.


"Itu Pa, Rumah cat biru," jawabnya.

__ADS_1


"Yang ada pokok mangga?" tanyanya.


"Iya Pa," jawab Keysa.


"Parkir dimana ya Mobilnya?" tanyanya.


"Masuk saja Pa, samping Rumahnya luas," ujarnya.


Papa Aksa membunyikan klaksonnya lalu memasuki pekarangan Rumah Kakek Fany. Tapi Rumah sepi seperti tidak berpenghuni.


"Kok sepi ya?" tanya Papa Aksa.


"Mungkin belum pulang jualan Pa," jawab Keysa.


Keysa dan Papanya beranjak keluar sambil memanggilnya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya sambil mengetuk pintunya.


"Pa, Rumahnya terkunci," ujarnya.


"Kemana perginya ya?" tanyanya.


Papa Aksa nampak gelisah sambil mondar-mandir dipekarangan Rumah Kakek Fany yang lumayan luas, dihiasi dengan warna-warni bunga mawar yang tersusun rapi di teras Rumahnya. Sementara Keysa duduk santai sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang membuat matanya ngantuk. Tidak dengan Papa Aksa ia nampak gelisah sambil mengelilingi Rumah Kakek Fany yang sangat sederhana itu.


Tiba-tiba tetangga Kakek Fany menghampiri Papa Aksa yang berdiri tegak dibawah pohon jambu.


"Maaf Pa, cari siapa ya?" tanyanya sopan.


"Cari Fany Pak," jawabnya.


"Oh, Fany masih jualan Pak sama Kakek dan Neneknya," ujarnya.


"Kira-kira jam berapa pulangnya Pak," tanya Papa Aksa.


"Biasanya jam lima Pak," jawabnya.


"Oh, terimakasih ya Pak," ucapnya senyum.


"Sama-sama Pak," jawabnya.

__ADS_1


"Perkenalkan Pak, Saya Pak Aksa," ucapnya sambil menjabat tangannya.


"Saya Pak Rudi, lurah disini," jawabnya singkat.


"Senang berkenalan dengan Bapak," ujarnya.


"Sama-sama Pak," ucapnya.


"Saya pamit dulu ya Pak, masih ada pekerjaan yang ingin Saya lakukan," ucapnya.


"Silahkan Pak, sekali lagi terimakasih," jawabnya.


Pak Rudi pun pergi dan meninggalkan Papa Aksa dan Keysa yang masih menunggu kepulangan Kakek dan Neneknya Fany.


"Tempatnya sejuk ya," ucap Papa Aksa.


"Biasa saja Pa," jawabnya.


"Gaklah, tempatnya nyaman dan jauh dari keramaian, Papa sangat menyukainya," ucapnya sambil memandang pekarangan Rumahnya yang bersih.


"Papa mau tinggal disini?" tanya Keysa.


"Iya, Papa rasanya tenang," jawabnya tegas.


"Ya sudah tinggal saja disini," ucapnya mencibir.


"Keysa, Papa minta tolong jaga bicaramu yang tidak sopan itu," ujarnya.


"Gak sopan? tapi Papa yang bilang suka tinggal disini," ucapnya tegas.


"Tapi nada suaramu itu sangat menggangu Papa," jawabnya kesal.


"Keysa, selalu salah dimata Papa," lirihnya sambil membalikkan tubuhnya.


"Tapi memang itulah kenyataannya, akhir-akhir ini ucapan mu sangat tidak sopan," ucapnya frustasi.


"Maafkan Keysa Pa, bukan maksudku menyakiti perasaan Papa," lirihnya sedih.


_________________________________________________

__ADS_1


jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏👍


__ADS_2