
Saat ketulusan hadir dalam sebuah hubungan, beratnya ujian akan mudah dilewati. Begitu juga dengan Papa Aksa saat berada dekat Fany, ia rela melakukan apa saja demi kebahagiaanya, asal Fany tetap bersamanya. Disaat Fany dan Papa Aksa hanyut dalam suasana, tiba-tiba Kakek dan Neneknya Fany menghampirinya dengan wajah bahagia.
"Nak, benarkah itu semua?" ucapnya.
"Iya Bu, Aku ikhlas melakukannya," jawabnya.
Nenek Fany tersedu, sambil memeluk Papa Aksa dengan kencang.
"Terimakasih ya Nak, Ibu terharu dan bahagia," ucapnya.
"Sama-sama Bu, itu semua Aku lakukan sebagai ucapan terimakasih ku, karena sudah membesarkan Fany hingga sampai saat ini," jawabnya.
"Maksudnya Nak?" tanyanya kaget.
"Pak, Bu, kedatangan Saya kesini, sebenarnya untuk melamar Fany," jawabnya tegas.
"Melamar Fany?" ujarnya.
"Iya Bu," ucapnya.
Kakek dan Nenek Fany saling memandang, dan melirik Fany yang duduk disampingnya.
"Ibu tak bisa menjawab apa-apa Nak, semua tergantung Fany," lirihnya.
"Fany, apa Kamu mau menerima lamaran Papa Aksa?" tanya Kakek Fany.
Fany hanya memandang Kakek dan Neneknya secara bergantian, lalu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf ya Kek, Nek, Fany tidak memberitahukan hubungan ku dengan Om Aksa," lirihnya.
"Gak apa-apa, sekarang semua tergantung sama Kamu, karena yang menjalani hidup itu Kamu dan pilihanmu," ucapnya tegas.
"Maaf Nak, Fany belum dewasa, Saya takut malah merepotkan,"'jawabnya.
"Tidak Bu, Fany anak baik dan sangat dewasa," ucapnya.
Sejenak semua membisu, Papa Aksa nampak cemas jika hubungannya tidak direstui oleh Kakek dan Neneknya Fany, dengan perbedaan usia yang terpaut jauh itu.
"Nak, bukan Kami menolak, lamaran mu, tapi biarkan Fany mempersiapkan diri dulu," ucapnya tegas.
"Iya Bu," jawabnya.
Fany tersenyum sambil menatapnya dengan lembut, matanya yang indah seakan memberikan isyarat betapa ia sangat mencintainya.
"Iya Nek," sahutnya.
Kakek dan Nenek Fany, nampak akrab dengan humor Kakek Fany yang mengocok perut Papa Aksa, sesekali meremas perutnya dan menyuruh Kakek Fany untuk berhenti dengan selera humornya itu.
Sembari menunggu Fany membawakan minuman, Kakek Fany memohon pada Papa Aksa agar menjaganya dengan baik, karena Fany sangat membutuhkan sosok penyayang karena ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang seutuhnya.
"Nak, Bapak mohon, kelak kalian jodoh, sayangi dia jangan pernah sakiti hatinya," ucapnya memohon.
"Percayalah Pak, Saya akan menjaganya dengan baik-baik, sesungguhnya Aku sangat mencintainya," jawabnya tegas.
"Sekarang, Kamu sudah tau siapa Fany, dan ia dari Keluarga yang jauh dari kemewahan," ujarnya.
__ADS_1
"Sebelum Bapak cerita, Saya sudah tau semua dari Fany,"' lirihnya.
"Iya Nak, semoga Kamu bisa jadi Imam yang baik untuk Fany," ucapnya tegas.
"Pasti Pak, karena Saya sangat bangga dengan Fany, kisah hidupnya membuat ia tumbuh menjadi seorang Wanita kuat dan sabar," jawabnya.
"Iya Nak, bukan karena Fany Cucu Bapak, ia memang Anak yang baik dan santun, dan tidak pernah malas untuk bekerja," ujarnya sedih.
"Bapak bersyukur punya Cucu seperti Fany, yang sangat tau diri dengan keadaannya, tanpa menyusahkan Kakek dan Neneknya," tuturnya.
"Iya Nak, Fany selalu berjanji untuk membahagiakan Kami," lirihnya.
"Saya yakin, Fany bisa membahagiakan Bapak dan Ibu sekalipun menikah dengan Saya," ucapnya tegas.
"Amin," gumamnya.
Fany pun kembali dengan tiga gelas teh hangat dengan beberapa potong Roti ditangannya.
"Ini Om, tehnya," ucapnya.
"Terimakasih ya," jawabnya sambil meneguknya.
Kakek Fany melirik Papa Aksa, dan Fany, ia bisa melihat mereka adalah pasangan yang sangat serasi walau usia mereka yang terpaut jauh, pembawaan Papa Aksa yang rapi dan parlente membuatnya nampak lebih muda.
_______________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1